Cerpen - Minggu, 29 Apr 2012 00:01 WIB M. Raudah Jambak. Malam pekat. Bulan masih sembunyi di bilik awan. Laju kendaraan meluncur satu-satu. Perempuan itu masih berdiri, bersandar pada tiang traffic light. Samar-samar, dia masih mendengarkan suara orang mengaji dari puncak menara masjid. Ada pedih yang tergores di dadanya. Masih terngiang jerit tertahan anaknya yang melihat kepergiannya. Meronta dari pelukan Sumiati, ibu kosnya. Sesak dadanya, tapi dia harus pergi. Dia harus bekerja. Sudah tiga hari anaknya tidak menikmati susu.
|
Cerpen - Minggu, 15 Apr 2012 00:01 WIB
S. Satya Darma. SUmardi meradang. Dia tatap ladang jagungnya, sudah rata dengan tanah. Rasanya sia-sia saja hidupnya kini. Sia-sia saja apa yang sudah dilakukannya selama ini. Bertahun-tahun dia sudah garap satu hektar lahan di dekat rumahnya, sebagai ladang palawija untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidup anak isterinya. Bertahun-tahun dia olah tanah itu sejak Kasandikromo, bapaknya, masih hidup dan menjadi kuli di perkebunan Patumbak ini. Bertahun-tahun tak ada gangguan apapun dari pihak perkebunan. Kini, setelah era reformasi, justru ladangnya yang tak seberapa luas itu, justru dirampas paksa pihak kebon.
|
Cerpen - Minggu, 08 Apr 2012 00:01 WIB
Ester Pandiangan. "Nginap dimana To?"Baru beberapa langkah aku turun dari taksi, dia sudah memberondongku dengan pertanyaan.
|
Cerpen - Minggu, 01 Apr 2012 00:02 WIB
Eka Handayani Ginting. Apalagi yang kau inginkan setelah menggerogoti hidup kami, mencungkili bola mata ibu kami, menggerus tulang belulang ayah kami? Terakhir kali kau datang untuk melucuti pakaian kami, sehingga kami menggigil kedinginan. Kami sudah tak punya apa-apa, bahkan impian saja sudah menjadi sesuatu yang berlebihan jika kami menginginkannya.
|
Cerpen - Minggu, 25 Mar 2012 00:07 WIB
Lea Willsen. OH, demi Tuhan... Tolong, jangan sampai nama Raidy yang disebut oleh pembawa acara. Bila itu yang terjadi, berarti Raidy-lah juara pada malam ini, setelah sekian bulan lamanya mereka melalui proses yang melelahkan. Sungguh, itu adalah mimpi buruk bagi Ritta. Kini dia bukan mengincar posisi juara. Bukan lagi itu yang dia inginkan. Bagaimana pun juga, dia harus menjadi juara pada malam ini. Dia memikul tanggung jawab yang besar. Demi keluarga, demi orangtua, Ritta harus juara!
|
Cerpen - Minggu, 18 Mar 2012 00:01 WIB
Febrie Hastiyanto. LAKI-LAKI muda berjaket coklat-tua memerlukan beberapa kejap memejamkan mata, sesaat sebelum bus Puspa Sari yang ditumpanginya memasuki Terminal Rajabasa. Angannya membual pada kenangan beberapa tahun lewat, pikirannya dipenuhi kekhawatiran yang gugup: pada mimpi dan cita-cita yang disemainya di kota ini. Setelah turun dari bus, laki-laki muda berjaket coklat-tua bergegas melompat ke dalam bus lain lagi, Damri trayek Terminal Rajabasa-Tanjung Karang. Tadi dia sempat mengedarkan pandang ke sekeliling terminal. Dia menggeleng kepala sendiri, menenangkan batinnya. Katanya kepada batin: menggerutu soal kesemrawutan tak baik bagi kesehatan. Laki-laki muda berjaket coklat-tua memilih menyandarkan kepalanya di kursi bus. Bus sejuk berpendingin udara.
|
Cerpen - Minggu, 04 Mar 2012 00:06 WIB
Bambang Riyanto. Berdiri anak rantau yang telanjang di bawah tiang bendera yang benderanya lusuh dimakan usia: Merah telah agak pudar, putihnya telah agak menguning.
|
Cerpen - Minggu, 31 Jul 2011 00:59 WIB
Oleh : Lucya Chriz
Entah sudah berapa menit waktu yang dibuang Martha hanya untuk mengamati ponsel di tangannya. Benda pintar itu telah terdiam sejak tadi, namun ucapan Mamaknya terasa masih berhamburan di sekelilingnya. Mamak memintanya untuk pulang lebih cepat hari ini. Hari ini saja.
|
Cerpen - Minggu, 03 Jul 2011 12:50 WIB
Oleh : T. Agus Khaidir. TIAP pagi, dalam perjalanan ke kantor, saya selalu melihat lelaki itu. Selalu pula di tempat berbeda, meski masih di jalan yang sama. Kadangkala saya melihatnya tidur pulas di bawah rerimbunan daun pohon jati, di depan sebuah kantor asuransi. Kali lain dia duduk termenung-menung di antara deretan gerobak penjual jajanan di depan sebuah sekolah.
|
Cerpen - Minggu, 12 Jun 2011 15:40 WIB
Oleh : Rina Mahfuzah Nst. Perempuan itu sering bercerita, betapa bahagianya dia hidup bersama suaminya. Sejak mereka mengikrarkan diri untuk saling memahami dan mencintai di sebuah taman kota 16 tahun lalu sampai sekarang, cintanya masih tetap sama. Benarkah? Benar tidak berubah? Tanyaku disertai gurau. Dia mengangguk berulangkali dan aku tidak sanggup menahan rasa haruku, saat kulihat binar di matanya.
|
Cerpen - Minggu, 22 Mei 2011 10:55 WIB
Oleh : Haya Aliya Zaki. Kilat membuat kamar Triyan benderang sekejap, namun kejap berikutnya kembali gulita. Triyan terlonjak dari tidur. Mimpi-mimpinya seketika menguap karena deru angin yang menampar-nampar daun jendela. Petir menggelegar, bersahut-sahutan. Beberapa masa setelah terduduk, dia baru sadar. Hujan sedang riuh mengguyur malam.
|
|
|
|
|
|
| Iklan |
|
|
| |
| Berita Terpopuler |
|
|
| Resensi Film |
|
|
| Iklan Baris |
|
|
|