Puisi - Minggu, 29 Apr 2012 00:03 WIB
sejak manusiawi lekat di bumi
air mata menjadi simbol kepasrahan
alam bergeming
terkepung carut-marut yang kusut
|
Puisi - Minggu, 29 Apr 2012 00:02 WIB
tabir luka menguak
menuntun gundah gelisah malam
rerumput terpaksa menggantikan bulan
mengutuk jalannya alam yang takdir
|
Puisi - Minggu, 29 Apr 2012 00:01 WIB
ini jalan terakhir
kelak tak kau jumpai persimpangan lagi disana
habiskan saja sisa rehatmu di serambi
makan sebanyak kau bisa!
jangan bawa kesana!
sekalian biar muntah sisa ego pribadi
|
Puisi - Minggu, 22 Apr 2012 00:05 WIB
belum lagi suka dengan daku
restu sudah menjauh dari kaki ibu
lari bukan hakikat yang pernah kita ramu di malam itu
restu yang ku mau bukan bungkus yang menemu palsu
|
Puisi - Minggu, 15 Apr 2012 00:05 WIB
tempat tidur yang kita punya
memang tidak sebagus milik
artis ibu kota yang selalu kita tonton
setiap pagi itu. sprei yang kita pakai
juga tidak semahal yang kita
lihat tempo hari itu. hanya kita berdua saja
di sana. hanya kita berdua saja yang tahu
bagaimana rasanya.
|
Puisi - Minggu, 15 Apr 2012 00:04 WIB
ada yang selalu lupa kau gantungkan
sebelum naik ke tempat tidur.
ada yang selalu aku gantungkan
setelah kau naik ke tempat tidur.
ada yang selalu terus kita ulang
sebelum lelap kita tertidur.
siapakah gerangan yang selalu
menunggu kita sebelum bangun dari tidur
dan membangunkan kita sebelum terang?
|
Puisi - Minggu, 15 Apr 2012 00:03 WIB
tentang rumah maple kita, si momiji.
kadang kusebut ia maple, kadang kupanggil dia momiji.
ada aku dan kelak buah hati kita.
|
Puisi - Minggu, 15 Apr 2012 00:02 WIB
ya, aku menyebutnya sebagai mimpi.
tentang rumah yang di dalamnya ada Maple.
ada celana goyang yang kusiapkan setiap mentari mulai terbangun.
ada sarapan dan senyum hangat di atas meja makan.
|
Puisi - Minggu, 15 Apr 2012 00:01 WIB
di Negeri ini
aku ada.
sebuah perjalanan di tengah rasa galau remaja yang terus kutinggalkan.sedikitnya, gambaran jadi dewasa mulai ku gantungkan pada posisi yang serius
di negeri ini Aku telah ada.
duduk sebagai kaum intelektual.
kini kepalaku dua.
berkutat pada masalah sosial.
|
Puisi - Minggu, 08 Apr 2012 00:05 WIB
kalau daun-daun sepanjang jalan masih mengirimkan gerisiknya di dahan-dahan, engkaukah itu
menyusup harum dari rambutmu
berkilauan di cahaya pijar lampu-lampu tak lelah menerangi gelap?
|
|