Oleh : Jansen Napitupulu. AKU tak habis pikir mengapa pak Morgan guru sejarah budaya itu suka membuncahkan perkataan sontoloyo dari mulutnya apabila sedang marah. Tak ada perkataan lain selain perkataan sontoloyo yang keluar dari mulut pak Morgan jika ada murid tak bisa menjawab pertanyaan pak Morgan.
"Sontoloyo kau Sarkam! Otakmu bebal! Kau tak bisa menjawab pertanyaan yang bapak ajukan!" kata Pak Morgan mempelototi Sarkam yang ketakutan di bangkunya. Sampai-sampai Sarkam tak berani menatap pak Morgan yang marah besar. Sarkam hanya terpaku, diam tak berkutik.
"Kau benar-benar sontoloyo Sarkam! Masak kau tak tahu Empu Gandring itu ahlinya membuat keris! Tadi sudah bapak terangkan bahwa keris itu adalah peninggalan sejarah budaya! Maksud bapak, supaya terekam di otakmu sebelum menjawab pertanyaan yang bapak ajukan!" kata pak Morgan geram. "Masak kau bilang, Empu Gandring ahli memanah! Ngawur kau Sarkam! Padahal track record Empu Gandring sudah kau pelajari di bangku SMP! Dasar sontoloyo kau Sarkam!" kata pak Morgan lagi membuat Sarkam seperti kucing habis diguyur air.
Di sekolah, pak Morgan digelari si Killer meski dia bukan seorang pembunuh. Namun yang jelas pak Morgan si pembunuh karakter. Setiap giliran pak Morgan mengajar, dipastikan nyali semua murid ciut. Jangan coba-coba bermain-main saat pak Morgan menerangkan pelajaran di depan kelas. Jika kedapatan ada yang main-main atau tidak bisa menjawab pertanyaan sejarah, hukumannya harus berdiri di balik pintu kelas hingga usai mata pelajaran sejarah.
Muis pernah mendapat hukuman dari pak Morgan karena kedapatan menggoda Silvi yang berada di depannya. Kontan kumis pak Morgan yang tebal pada berdiri tegak. Sedangkan kedua mata pak Morgan mendelik tajam, seperti hendak melompat keluar. Wajah pak Morgan yang memang dari sononya sudah angker bertambah angker karena dilanda amarah.
"Sontoloyo kau Muis! Kau mau coba-coba berbuat mesum kepada Silvi! Hayo?.! Maju ke depan kau Muis!" kata pak Morgan marah besar. Tanpa buang-buang waktu Muis bergerak dari bangkunya dengan penuh ketakutan.
"Hayo Muis sontoloyo! Berdiri kau dibalik pintu sampai bapak selesai mengajar! Itu hukuman bagi kau yang sontoloyo!" kata pak Morgan lagi. Muis bagai kerbau dicucuk hidungnya melangkah ke balik pintu kelas sebagaimana diperintahkan pak Morgan. Yah, dipastikan Muis menjalani hukuman berdiri dibalik pintu kelas sampai mata pelajaran sejarah selesai.
Aku juga pernah kena marah dan dihukum pak Morgan gara-gara tak bisa menjawab pertanyaan sejarah. Memang otakku lagi bleng ketika itu, Yah, aku mengalami problem cinta. Hany memutus cinta sepihak yang membuatku tak karu-karuan. Yah, aku akui, apabila cinta dilanda problem, bisa merusak konsentrasi. Sampai-sampai di sekolah aku kena damprat pak Morgan.
"Sontoloyo kau Sopar! Apa kerja kau di rumah?! Apa kerja kau hanya membahas togel?! Kenapa kau ngawur menjawab pertanyaan bapak! Masak kau bilang Tilhang Gultom itu salah satu pendiri perusahaan bus Sampagul! Sontoloyo kau Sopar!" teriak pak Morgan membuatku ketakutan. Pak Morgan marah besar karena aku salah menjawab pertanyaan yang diajukannya.
"Kau benar-benar tak mengerti sejarah budaya! Kau benar-benar sontoloyo Sopar! Tilhang Gultom itu adalah pendiri Opera Serindo! Opera pertama di Tanah Batak! Biar kau tahu Sopar, Opera Serindo itu pernah mengharumkan nama suku Batak! Opera Serindo itu di zaman Suharto mendapat tempat di Taman Mini Indonesia Jakarta untuk mementaskan cerita-cerita Batak!" kata pak Morgan berteriak sembari menghunjamkan tatapannya ke arahku. "Supaya kau tahu Sopar, Tilhang Gultom itu telah mengukir sejarah budaya bagi suku Batak! Tilhang Gultom itu sangat berjasa Sopar! Masak kau tidak tahu itu Sopar! Dasar kau sontoloyo Sopar! Maju kau ke depan Sopar!" teriak pak Morgan lagi membuatku semakin ketakutan, sebab wajah pak Morgan memancarkan keangkeran yang luar biasa. Kalau sudah demikian, mau tak mau aku harus maju ke depan untuk melaksanakan hukuman, yakni berdiri di balik pintu kelas hingga mata pelajaran sejarah usai.
***
SETELAH kupikir-pikir kedisiplinan pak Morgan yang luar biasa itu, ada positipnya bagiku. Kini aku menjadi seorang guru yang menjunjung tinggi disiplin. Hanya saja aku tak sesadis pak Morgan jika sudah marah. Hukuman made in pak Morgan yang dulu diterapkan jika ada murid tidak bisa menjawab pertanyaan atau ada murid tidak disiplin, aku ganti dengan cara lain.
Yah, aku tak pernah membuncahkan perkataan sontoloyo jika ada anak muridku yang tak bisa menjawab pertanyaan pelajaran sejarah yang kuajukan. Bahkan aku tak pernah memberi hukuman berdiri dibalik pintu kelas sampai mata pelajaran usai sebagaimana dulu diberlakukan pak Morgan. Hukumannya kuganti dengan membuat sepuluh pertanyaan sekaligus dan menjadi PR bagi murid yang tak bisa menjawab pertanyaan serta yang tak disiplin. Yah, aku merasa lebih enjoy sebagai seorang guru menerapkan hukuman yang lebih mendidik.
Tapi, tak dapat kupungkiri, belakangan ini aku terkenang kepada Pak Morgan guru sejarah budaya di masa SMA. Apa kabar pak Morgan sekarang? Apa pak Morgan sehat-sehat saja? Atau apa pak Morgan sudah pensiun? Dan, tiba-tiba nyaliku ciut setelah mengenang pak Morgan. Yah, mungkin kalau pak Morgan mengetahui profesiku sebagai seorang guru sejarah SMA, bisa-bisa dia mentertawakanku dan bahkan marah besar. Bisa-bisa pak Morgan berkata demikian: "Sontoloyo kau Sopar! Masak kau mengikuti jejak bapak juga sebagai seorang guru sejarah SMA! Seharusnya meningkat lah kau! Kalaupun kau berminat di bidang sejarah, seharusnya kau paling sedikit jadi dosen ilmu sejarah! Begitu Sopar! Masak kau serupa dengan bapak jadi seorang guru sejarah SMA! Sontoloyo lah kau Sopar!". Yah, mungkin saja pak Morgan berkata demikian kepadaku apabila mengetahui profesiku sebagai guru sejarah SMA seperti dia.
Sore itu aku pulang seperti biasa naik angkutan umum. Aku merasa letih setelah hampir seharian menunaikan tugas sebagai seorang guru. Seandainya, jika di sekolah tempat aku mengajar tidak hanya aku guru sejarah, keletihan itu tak sampai kurasakan. Tapi, demi pengabdian sebagai seorang guru, tugas itu harus kulaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Tiba-tiba aku teringat kepada adikku yang membutuhkan uang makan. Supir angkutan umum yang kunaiki kuperintahkan untuk berhenti dan perjalanan menuju tempat kostku harus kutunda demi adik bungsuku ini. Padahal selama ini, uang makan adikku setiap bulannya, cukup kutransfer melalui ATM ke rekening adikku. Namun aku ingin mengetahui secara langsung keadaan tempat kost adikku sambil mengantar uang makannya. Aku ingin memastikan adikku itu kost di daerah yang nyaman dan aman.
"Sontoloyo?.! Sontoloyo?.! Sontoloyo?.!" teriakan itu menghentikan langkahku ketika memasuki gang menuju tempat kost adikku. Tepat di lapo tuak di samping mulut gang menuju tempat kost adikku, banyak orang berkerumun. Aku mendengar lagi perkataan itu. Nada teriakan itu keluar dari mulut seorang lelaki.
"Sontoloyo?.! Sontoloyo?.! Sontoloyo?.! Huribak?.! Huribak?.! Huribak sasude!" suara teriakan itu mengingatkanku kepada sosok seseorang. Yah, yah, suara itu sangat akrab di telinga enam tahun lalu. Selanjutnya kusibak kerumunan orang di lapo tuak itu. Benar saja! Sosok itu adalah pak Morgan guru sejarahku di masa SMA. Pak Morgan setengah mabuk di lapo tuak itu. Pak Morgan jadi bahan tertawaan orang yang berkerumun di lapo tuak itu.
"Sontoloyo?.! Sontoloyo?.! Sontoloyo?.! Portibi namangillas?.! Huribak?.! Huribak?.! Huribak sasude!" teriak pak Morgan sembari menenggak tuak yang tersisa di dalam gelas. Setelah itu pak Morgan merebahkan kepalanya di atas meja sembari memukul-mukul meja itu dengan tangan kanannya.
"Sontoloyo?.! Sontoloyo?.! Sontoloyo?.! Dunia tidak adil! Dunia kejam?.!" teriak pak Morgan lagi membuatku terharu dan diliputi seribu tanda tanya mengapa pak Morgan jadi seorang pemabuk. Pak Morgan yang dulu kukenal sebagai seorang guru sangat berwibawa karena menjunjung tinggi disiplin, kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang lelaki yang menggadaikan harga dirinya menjadi tontonan lucu di lapo tuak. Yah, kini pak Morgan menjadi seorang pemabuk yang berteriak-teriak tak karu-karuan sehingga merusak kewibawaannya sebagai seorang guru yang dulu terkenal sangat menjunjung tinggi disiplin.
Aku termangu menatapi pak Morgan yang masih merebahkan kepalanya di atas meja lapo tuak itu. Irama nafasnya terdengar tak beraturan, tersengal-sengal kepayahan. Kemudian kutatapi wajah pak Morgan yang tampak keriput tak bersinar. Rambutnya hampir keseluruhan memutih. Sedangkan kumisnya yang dulu hitam tebal, juga memutih, tak lagi memancarkan wibawa sebagaimana enam tahun lalu. Aku coba membangunkan pak Morgan. Timbul rasa iba di hatiku melihat kondisi pak Morgan yang tak karu-karuan itu.
"Pak Morgan. Pak Morgan. Bangun pak Morgan," kataku lembut sembari mengguncang-guncang bahu pak Morgan. Pak Morgan hanya diam. Sepertinya dia tak menyadari kehadiranku. Sementara orang masih ramai berkerumun menyaksikan pak Morgan yang setengah sadar. Kucoba lagi membangunkan pak Morgan. Aku ingin segera membawa pak Morgan dari kerumunan orang di lapo tuak itu. Seburuk apapun kelakuan pak Morgan sekarang, dia adalah tetap mantan guruku yang harus kuhormati.
"Pak Morgan. Pak Morgan. Bangun pak Morgan," kataku berharap pak Morgan segera sadar. Dan, tangan kanan pak Morgan mulai bergerak. Kemudian disusul kepala pak Morgan bergerak perlahan. Seterusnya, kedua mata pak Morgan terbuka. Namun kepala pak Morgan masih tetap rebah di atas meja lapo tuak itu.
"Siapa kau?! Kau mengenal aku ya?!" kata pak Morgan mulai sadar.
"Bangun pak Morgan. Ayo kita pulang, pak Morgan." kataku meski tak tahu dimana sebenarnya pak Morgan tinggal.
"Siapa kau?! Kau mengenal aku ya?!" kata pak Morgan lalu menatapku.
"Saya Sopar, pak. Bekas murid bapak enam tahun lalu." kataku sembari menjamah pundak pak Morgan.
"Sopar. Sopar. Sopar. Oh ya, bapak baru ingat. Kau pernah mendapat hukuman berdiri di balik pintu kelas sampai selesai mata pelajaran sejarah, bukan?!" kata Pak Morgan dengan suara berat. Aku kaget mendengar perkataan pak Morgan. Pak Morgan masih ingat peristiwa enam tahun silam ketika aku mendapat hukuman darinya.
"Ya, ya pak. Ayo kita pulang pak. Rumah bapak dimana? Saya akan mengantar bapak pulang," kataku setengah malu karena pak Morgan masih sempat-sempatnya berkata di depan orang banyak di lapo tuak itu, bahwa aku pernah mendapat hukuman berdiri di balik pintu kelas sampai mata pelajaran sejarah selesai.
"Tidak Sopar! Aku masih betah di lapo tuak ini! Kau jadi apa sekarang Sopar?!" tanya pak Morgan sembari menatapku tajam. Aku gelisah dengan tatapan mata pak Morgan.
"Ayo, kita pulang aja pak." kataku mengalihkan perhatian sembari menarik tangan pak Morgan.
"Jangan kau tarik tanganku Sopar! Kau belum menjawab pertanyaanku Sopar! Kau jadi apa sekarang Sopar?!" pak Morgan masih tetap bertanya. Kedua matanya penuh selidik. Aku merasakan keinginan pak Morgan agar aku berkata jujur dan berterus terang. Tapi hatiku merasa tak enak menjawab pertanyaan pak Morgan di depan orang banyak di lapo tuak itu.
"Ayo kau jawab Sopar! Kau jadi apa sekarang?!" teriak pak Morgan lagi dengan nada marah. Nyaliku jadi ciut. Aku teringat enam tahun silam. Aku merasakan wibawa pak Morgan seketika muncul. Rasanya sulit untuk tidak segera berterus terang tentang pekerjaanku sekarang.
"Saya berprofesi guru sejarah di SMA, pak Morgan." kataku pelan bercampur takut. Setelah mendengar perkataanku, wajah pak Morgan berubah menjadi kemerah-merahan. Kedua matanya mendelik tajam, seperti hendak melompat keluar. Yah, sorot wajah pak Morgan tampak angker seperti enam tahun silam.
"Apa kau bilang Sopar! Kau sekarang jadi guru sejarah di SMA! Bah! Sontoloyo kau Sopar! Masak kau serupa dengan bapak! Bapak tidak melarang kau meminati bidang sejarah! Tapi jangan lah kau seperti bapak ini guru sejarah SMA! Seharusnya kau paling sedikit jadi dosen ilmu sejarah! Sontoloyo kau Sopar! Sudah! Sudah! Pulang kau Sopar! Jangan kau urusi bapak! Bapak tidak bangga melihatmu! Kau hanya guru sejarah SMA! Sontoloyo kau Sopar!" kata pak Morgan dengan nada berteriak-teriak membuatku malu dihadapan orang yang berkerumun di lapo tuak itu. Ternyata hingga kini, pak Morgan tidak lupa dengan ucapan sontoloyo yang sering diucapkannya enam tahun lalu semasa aku di SMA.
"Pak, pulang saja. Jangan digubris pak Morgan itu. Pak Morgan itu sudah sinting sejak isterinya meninggal dunia tiga bulan lalu. Kerjanya mabuk-mabukan saja di lapo tuak ini. Dan dia sudah dipecat dari sekolah karena tidak pernah lagi mengajar. Dia lebih suka mabuk-mabukan di lapo tuak ini. Sebentar lagi pak Morgan mabuk lagi. Sebelum tuak habis di lapo ini, pak Morgan tidak akan pulang. Biarkan saja pak Morgan. Bapak pulang saja," kata seorang lelaki setengah baya pemilik lapo tuak itu menasihatiku.
Mendengar keterangan pemilik lapo tuak itu tentang pak Morgan, aku jadi terpelongo bercampur haru. Timbul rasa kasihan terhadap nasib pak Morgan. Nasib pak Morgan sangat tragis, menghitung hari berkutat di kedai tuak dengan bermabuk-mabukkan. Namun disisi lain, perkataan pak Morgan tadi ada benarnya dan jadi cemeti, membuat aku malu kepada diriku sendiri! Dan, tiba-tiba muncul semangatku untuk mewujudkan perkataan pak Morgan. Yah, aku harus kuliah lagi mengambil S2 hingga S3 agar aku bisa menjadi dosen ilmu sejarah di perguruan tinggi dan bahkan bisa menjadi guru besar, bathinku menggeliat. Selanjutnya aku meninggalkan pak Morgan di lapo tuak itu. Sebelum aku meninggalkan lapo tuak itu, pak Morgan memesan tuak satu teko besar kepada pemilik lapo. Yah, pak Morgan akan bermabuk-mabukkan lagi hingga tuak habis di lapo itu. Sekarang giliran pak Morgan menjadi sontoloyo!***