Riza Multazam Luthfy
B u i C i n t a
pengapnya bui kan jadi bukti
aku tak pernah bual
pada cinta yang kenyal
oh, Sariem
apa kau tak percaya pada ibumu kini?
apa kau tega mengubur angin rindu
yang bertiup dan berjingkat-jingkat
setelah kualihkan sepeda tua itu
mereka melebamiku
setelah kurajut mimpimu
aku terdampar ke tepi paling sangar
ini hanya secuil tulus
dari orang beringsut
pada dinding yang berkabut
tak usah kau percaya pada kesaksian
karena dia tak pernah jujur
padamu yang luruh dan teduh
terimalah walau kau dalam kecewa
percayalah aku hanya ingin
kau bisa hirup udara cinta bersahaja
Malang, 2009
Sajak Sabun Mandi
bang,
aku tahu besok hari terakhirbertemu,
bercengkrama
sebelum mereka gosokkan
pada luaran dan jiwa
ingin rasanya kumakan
sepi, resah bersamamu
aku yang paling budak
tak pantas terima bebas
ada daki gelisah berserakan
ada bangkai mimpi kupungut sendiri
tak usah bertangis karena
punya gilir esok hari
sapa sang sulung waktu
sendiri tanpa buih bersih
memang semua bernoda
noda dosa si durjana
bersihkan celah-celah mereka
sampai bagian terdalam elus rambut,
bulu tajam, kuku macan, jemari setan
ingat bang!
tugasmu hanya itu
tak perlu lebih
usap peluh, cangkul jamur
yang kerap tumbuh
agar tak menular pada sang jelata
-seperti kita-
Malang, 2009
Dewi Astuti
GERIMIS LUKA
ketika malam meramu temu sukmaku,
buliran air mata langit sepertinya enggan berlalu
bagaimana jua denganku?
sang pemuja jiwa,
kian tak menemu titik temu.
ranah bumiku basah
karena langit dan awan
tak mampu menjadi payung bumi.
begitu jua dengan aku,
selalu meneteskan air mata
dari mataku yang sayu
tak ada lagi yang mampu
memayungi segala lukaku.
Medan, 2011
PERADUAN SURYA
tatkala senja menyapa di ufuk barat,
mega-mega mulai meronakan keemasannya,
pendir-pendir gerimis mulai mengecup ranah bumi
seketika pula, sang penguasa cahaya
lenyap dari peraduannya
bagai raja yang diusir dari singgasananya
dari tahtanya
kini,,,,,
meringkuk sebagai hamba sahaya awan hitam
Medan, 2011