17
Mei
 
A A A
Puisi - Minggu, 12 Jun 2011 15:42 WIB
Ardy CC
Tentang Perjumpaan
kelak jika kita berjumpa lagi, engkau ingin
aku menyentuhkan sesuatu bibirmu
untuk bisa kau kenang-kenang seusai perjumpaan itu.
tapi kukira, engkau tak benar-benar menginginkannya.
sebab dalam sekian perjumpaan yang
pernah ada, engkau tak pernah benar-benar
mengenang sesuatu dariku, justru melupakannya.

sekiranya ada jarak yang bisa mengorbankan kita
jadi sepasang langkah tak berirama,
aku akan segera menemuinya dan berbisik,
?lahirlah di antara kami. kami sudah tak saling mengenali.?
tapi kita sudah sama-sama tahu, jarak
telah memisahkan diri dari perpisahan kita.
dan apa-apa yang kita sangka akan menjauhkan,
kenyataannya membuat ingatan kita
terus mengalir di nadi yang sama, menuju laut
yang juga sama. lalu siapakah sesungguhnya
yang harus mengakhiri suatu permulaan
dan memulai suatu akhir? apakah itu engkau,
aku, atau seseorang yang bahkan kita
sendiri tak tahu? setiap peristiwa yang terlanjur
merekatkan kita, niscaya sebuah jawaban bagi
pertanyaan-pertanyaan yang
membuat kita telah saling meragukan.

kelak jika kita berjumpa lagi, biarlah aku
yang menginginkan sesuatu darimu.
anggap saja perjumpaan adalah kesaksian yang
berulang, antara siapa-siapa yang menyangkal
dan siapa-siapa yang mengakui,
bahwa kita pernah sama-sama menjadi penawar
bagi candu yang kita ciptakan sendiri.
Bogor.April.2011

Peron, Perpisahan
gerbong-gerbong melaju semakin cepat.
langit dengan sendirinya menjadi gelap. angin dari timur. suara-suara.
sisa getaran masih terasa meski kita sudah terdiam cukup lama.

sudahlah, katamu. kusaksikan hujan perlahan membasuh air matamu,
mengalirkannya ke mataku. dan kita dipaksa kembali menandai ingatan satu-satu seperti pernah kita mencoba menghapusnya satu-satu. semestinya kita menyadari, tak ada yang kekal dari apa-apa yang selama ini kita miliki.

sudahlah. anggap saja kita tak pernah bertemu, katamu. namun kejadian-kejadian terus berulang di ingatan, begitu saja. masa lalu mengorbankan dirinya untuk kita, untuk menebus segala dosa dan air mata. dan di peron ini, dalam sebuah jeda antara kedatangan dan keberangkatan, kita telah saling menangisi apa yang tak pernah kita bayangkan akan terjadi: kesetiaan telah mengkhianati kita.

sudahlah, katamu, lagi. memang, rasa sakit dari sebuah pengkhianatan
dengan mudahnya membuat kita berjanji untuk saling melupakan. di dalam hati, aku pun berjanji kepada dirimu yang lain, pada diriku yang lain: aku akan bertahan pada kesetiaan, meski itu menuntunku pada kesia-siaan.

lalu gerbong-gerbong muncul dari arah yang lain. gerbong yang berbeda. langit sudah sepenuhnya gelap. angin kembali bergerak dari timur. suara-suara lindap jadi kesunyian. jadi keheningan. dan kita tak bisa berhenti untuk saling menangisi apa yang tak pernah kita bayangkan akan terjadi: kesetiaan telah mengkhianati kita, seperti kita kini mengkhianatinya.
Bogor.April2011

Idris Pasaribu
BERSATULAH
: Bung Karno
inilah inti
sari pati
kandungan bumi pertiwi
kupetik dari ujung paling utara, sampai ke selatan
kupetik dari ujung timur sampai barat
bukan dari pusat kejayaan
sebalik dari pusat kemiskinan
desa sigaraleng
dayeuh kolot di selatan
kepal tangan mengacung pada sebujah tekad
menyingkri dari sistem feodalisme
dari sistem kolonialism
dari sistem kapitalism.
ayo,
bersatulah
menang !
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Rabu, 16 Mei 2012 07:56 WIB
Minggu, 13 Mei 2012 00:12 WIB
Puisi
Rabu, 09 Mei 2012 07:40 WIB
Rabu, 02 Mei 2012 07:25 WIB
Rabu, 25 Apr 2012 07:29 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris