Oleh : T. Agus Khaidir. TIAP pagi, dalam perjalanan ke kantor, saya selalu melihat lelaki itu. Selalu pula di tempat berbeda, meski masih di jalan yang sama. Kadangkala saya melihatnya tidur pulas di bawah rerimbunan daun pohon jati, di depan sebuah kantor asuransi. Kali lain dia duduk termenung-menung di antara deretan gerobak penjual jajanan di depan sebuah sekolah.
Tak jarang pula saya melihatnya tanpa alas kaki hilir-mudik menyusuri trotoar. Begitu tiap hari. Tak seorangpun tahu dari mana dia berasal dan sejak kapan pula mulai tidur, termenung-menung dan berjalan hilir-mudik di jalan itu. Seperti sebutir pasir, lelaki itu memang benar-benar tak dihiraukan. Orang-orang kantoran selalu melintas tergesa-gesa. Barangkali di kepala mereka berkelebatan bayangan kertas berisi huruf dan angka-angka yang musti dihitung: dijumlahkan, dibagi, dikurangi.
Anak-anak sekolah menggumamkan kekesalan terhadap tugas-tugas yang tak jelas apa gunanya bagi kehidupan mereka kelak. Para pedagang dag-dig-dug, menunggu apakah hari itu petugas-petugas dari dinas penertiban akan datang. Semua orang sibuk memikirkan nasib sendiri dan tak ada yang peduli pada lelaki itu.
Apa boleh buat, memang sudah selayaknya demikian. Jika memikirkan nasib diri saja sudah cukup memusingkan, kenapa harus repot-repot memikirkan nasib orang? Lagipula peduli apa pada lelaki kumal, bau, berambut awut-awutan yang kerjanya cuma tidur-tiduran, termenung-menung dan hilir-mudik tanpa tujuan?
Apa perhatian padanya bisa merubah dunia serba sontoloyo ini jadi negeri dongeng dimana semua harapan bias mewujud nyata dan semua impian menjelma kebahagiaan yang datang dengan tiba-tiba saja seperti ketika kita menatap titik-titik embun di ujung daun? Mungkin tidak. Perhatian pada sebutir pasir salah-salah malah bisa membutakan. Iya, hidup memang mesti berjalan terus bagi tiap orang, sendiri-sendiri.
Suatu pagi dia tidak terlihat. Ajaib, karena kemudian entah kenapa hak itu jadi mengganggu saya. Sungguh mati saya tak dapat konsentrasi pada pekerjaan. Bayang-bayangnya terus berkelebatan, Kemana gerangan dia? Apakah sakit? Apakah sudah mati? Dua hari lalu, dia tidur mendekap erat badan, kepayahan menahan gigil. Atau jangan-jangan dia kena garuk petugas dinas sosial?
Kira-kira sepekan dia tak muncul. Selama itu, orang-orang kantoran memang tetap tergesa. Anak-anak sekolah tetap beraut wajah kesal. Para pedagang tetap cemas. O, rupanya, selain saya, memang tak seorangpun merasa kehilangan.
Hari ke delapan sekonyong-konyong dia muncul lagi. Waktu saya melintas, dia sedang duduk santai, bersandar di batang jati, mengisap rokok. Tak saya sangka, sekonyong-konyong dia melambai pula ke arah saya. Iya, benar-benar ke arah saya. Apa-apaan ini? Saya terus berjalan. Memaksakan diri tak menoleh.
* * *
Kemudian hari-hari berlalu. Berlalu begitu saja. Saya berganti pekerjaan, tapi tidak berganti nasib. Sekarang saya harus menulis. Menulis saban hari, tentang hal-hal menjengkelkan, hal menyenangkan, hal-hal yang dianggap penting maupun yang konyol saja, yang menerbitkan tawa atau membikin muntah, lalu mendapat gaji di setiap akhir bulan.
Di luar sana makin banyak orang pintar, atau merasa pintar, mengoceh perihal humanisasi, moralitas, kapitalisme, moralitas, religiusitas, sekularisme. Untungnya angin tetap semilir. Hujan masih berderai. Fajar sendu, senja selalu ungu.
Sampai suatu hari seorang redaktur sebuah penerbitan lain meminta saya menuliskan cerita bersambung yang seru. Saya senang tentunya, karena ini jelas akan jadi tambahan pemasukan. Kemudian saya malah dilanda bingung. Menulis untuk penerbitan tidak serupa menulis untuk diri sendiri. Apa yang kita anggap seru, belum tentu demikian bagi orang lain.
Pernah saya baca resep membikin tulisan jadi laris. Setidaknya harus memenuhi empat unsur, sex, crime, violence dan humanity. Hmm, seks segera saya singkirkan sebab selain sudah terlalu pasaran, penerbitan yang akan memuat cerita bersambung ini adalah penerbitan yang elite. Begitu pula kejahatan dan kekerasan. Sudah sangat tersosialisasi jadi semacam tontonan mengasyikkan sekaligus menggelikan.
Saya harus menulis tentang kemanusiaan? Ini pun tak urung penuh jebakan. Saya tak ingin ditertawakan karena menulis kisah cinta kampungan atau cerita kesengsaraan yang berlarut-larut dan menjemukan.
Tiba-tiba saya teringat lelaki itu. Iya, kenapa tidak? Saya kira saya bisa menuliskan tentang dia. Tentu saja saya tak bisa mengelak untuk tidak membuat improvisasi di sana-sini.
Sebagai pembuka, saya akan ceritakan bagaimana awal mulanya dia menjadi seperti itu. Dalam angan saya, dia seorang lelaki berbahagia. Beristrikan perempuan cantik, sukses pula sebagai pengusaha.
Dia juga pengusaha, bergerak di bidang ekspor impor. Mungkin alat-alat berat. Pertanian atau perkebunan juga menarik. Dia punya dua anak yang bersekolah di luar negeri. Kemudian badai mulai datang menghantam. Usahanya bangkrut, di saat yang sama dia mendapati istrinya berselingkuh.
Aimakjang! Sampai di sini angan langsung saya bunuh. Saya jadi malu sendiri. Bukankah tema itu sangat sinetron sekali? Memang, dari cerita macam begini sinetron bisa sambung-menyambung sampai ratusan episode dan membikin para pemainnya jadi idola walau sebenarnya tidak bias berakting sama sekali. Saya tak ingin membikin cerita yang hanya panjang tapi murahan. Saya ingin membikin cerita yang seru sesuai permintaan penerbitan itu.
Berminggu lamanya saya tak juga menemukan ide. Terkait lelaki itu pasti, yang jadi masalah adalah konfliknya. Rupanya begini perasaan orang-orang yang selalu menjadi penentu nasib orang lain. Tak gampang ternyata.
* * *
Saya hampir menyerah. Saya sudah berniat menelepon redaktur penerbitan itu untuk mengabarkan kegagalan saya menuliskan cerita yang seru ketika suatu sore, di atas kendaraan umum, seorang lelaki mengguit dengkul saya.
"Anda masih mengenali saya?" tanyanya membuka sapa.
"Saya pernah melambai ke arah Anda tapi Anda mengacuhkannya."
Astaga! Ternyata dia!
Saya masih belum percaya. Saya telusuri setiap jengkal tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rambutnya masih kusut. Wajah, baju, juga celananya masih kumal, walau tak sekumal dulu. Dia sekarang pakai alas kaki.
"Zainuddin," sebutnya seraya mengulurkan tangan.
"Awang."
"Seperti mereka, Anda dulu juga mengira saya gila, kan?"
"Sikap dan penampilan Anda yang memunculkan persepsi itu."
"Sudah saya duga. Selalu menyimpulkan sesuatu dari yang tampak telanjang."
"Saya kira Bung Zainuddin terlalu sinis."
Dia mendengus.
"Sinis bagaimana? Justru saya bicara apa adanya. Dari masa sebelum peradaban manusia tak berubah. Hawa tak bisa melihat setan di balik wujud ular. Dia makan buah sialan itu. Adam ikut-ikutan dan terlemparlah mereka ke bumi pengasingan dengan berbusana selembar daun dan sengsaralah kita semua sampai entah kapan. Julius Cesar, Iskandar Zulkarnaen, Jengis Khan, Hitler, Bush, Bin Laden, Obama, adalah lebih baik kalau dunia cuma dihuni dinosaurus. Apa Anda tidak menyadari, Bung, kalau Anda sudah dikelilingi para tukang onani jiwa?"
Dia terus mengoceh. Bicara perihal orang-orang mulia jarang berumur panjang. Tentang Rasul yang cuma dua puluh lima, sahabat yang hanya empat dan wali yang cuma sembilan. Dia menanyakan kenapa para pendeta tak lagi digubris dan dipaksa menyepi di puncak-puncak gunung? Mengapa petuah orang tua semakin basi dan mungkinkah Nabi Allah Khidir atau Imam Mahdi itu tak lebih dari sekadar dongeng.
"Bagaimana pendapat Anda, Bung?" tanyanya.
Saya membisu, semata karena tak tahu harus merasa aneh, jengah atau takjub.
Dia terlanjur menyangka lain.
"Hehehehe. Sejak Anda tak membalas lambaian saya, sudah saya duga Anda salah seorang dari mereka. Jadi saya pikir tidak ada gunanya kita bicara berlama-lama. Maaf saya sudah mengganggu perjalanan Anda. Pinggir, Bang!"
Sejurus itu dia melompat turun, melemparkan uang ke arah sopir. Begitu cepat kejadiannya. Saat saya tersadar, hanya sepotong punggungnya terlihat, yang semakin hilang ditelan keramaian para pejalan kaki.
Ah, mencuat sedikit asa menyesal. Kenapa saya tadi pasif sekali? Kira-kira setengah jam kami bersama, saya hanya tahu namanya Zainuddin. Tidak tahu kenapa dia dulu menggelandang. Kenapa dia begitu sok sufistik, begitu sok suci. Kenapa pula dia sempat menyangka saya sepemikiran dengan dia. Sama sekali saya tidak tahu. Sudahlah. Paling tidak sekarang saya sudah tahu dari mana harus mulai membuat cerita yang seru dengan dia sebagai tokoh utamanya.