Rambutmu yang gugur menghambat lajunya air di kamar mandi kita ke selokan. membuat air menggenang setinggi tumit kakiku dan kakimu.
Ilham Wahyudi
Mengais-ngais rambutmu yang gugur di kamar mandi membuatku merasa menjadi laki-laki kembali
:kpd Elvina
Rambutmu yang gugur menghambat lajunya air di kamar mandi kita ke selokan. membuat air menggenang setinggi tumit kakiku dan kakimu. dengan sumpit bambu yang biasa kita pakai -dulu- untuk menghabiskan mie balap setiap sarapan pagi, kukais-kais rambutmu yang gugur agar air dapat melaju kembali seperti semula - sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. semoga saja malam ini kau akan memujiku seperti dulu, saat aku pertama kali menggendongmu ke kasur. Duh, mengapa aku tiba-tiba merasa menjadi lakilaki kembali?
Medan, 2011
Pohon Cerita Dalam Kepala
:edy siswanto
pohon yang kau tanam dalam kepala tempo hari, kini bertumbuh rimbun. rantingnya memanjang sampai ke jantung dan menerobos sudut-sudut terdalam lambung. akarnya menyebar di mata, hidung, mulut hingga ke telinga. tiap petang selalu ada saja orang yang memetik buahnya. kadang mereka jadikan jus sebagai penganti kebiasaan mereka minum kopi sambil main catur. lain waktu pernah juga mereka jadikan sayur pengganti lauk mereka yang itu-itu saja. tapi sayang, mengapa mereka begitu kikir menanam biji-bijinya kembali?
Medan, 2011
Starbucks
dengan sebuah benda yang telah diolah sedemikian rupa konon tak lain adalah tumpukan seng dan karet kutemui kau di sebuah bangunan tinggi-besar yang menyimpan pelbagai kebahagian dan kemurungan (bagi laki-laki yang berencana mengencani gadis berceruk kaca) agar kau percaya bahwa aku akan menikahimu nanti malam sebelum jantung bulan berdarah yang akhirnya benar-benar terbelah.
aku memesan setengah gelas percakapan angin dan sepiring kabara baik-buruk yang kau tulis menjadi puisi di kerah kemejaku yang tertinggal di kamarmu tempo hari saat aku buru-buru pulang ketika ikan lohanku menangis histeris di telingaku dan kau memesan berpiring-piring kecemasan dan bergelas-gelas ketakutan sehingga meja yang kita pesan dilimpahi pertanyaan-pertanyaan bodoh - sekali lagi telah aku buktikan betapa pertemuan kita adalah semacam penolakanmu pada hari senin yang macet dan ketidaksanggupanmu menerima nasib buruk yang selalu diteriakan pembaca berita infotaiment.
akhirnya dan ya akhirnya kita pun mengulangi kembali peristiwa lampau yang tak pernah berujung apapun selain kita akan kembali dan terus kembali ke tempat ini untuk merelakan tubuh kita berkeringat tanpa sekalipun mengerti mengapa tubuh kita selalu berkeringat.
Medan, 2011
Amrin Tambuse
PERAHU TANPA KEMUDI
kemana engkau menuju
kemana engkau hanyutkan jiwamu
kemana engkau bermuara
kemana engkau tenggelamkan kerapuhanmu itu?
engkau tak punya kendali
engkau tak punya kemudi
engkau tak punya emosi
engkau pun tak punya harga diri!
karamlah engkau
kandaslah engkau ke dasar samudra
engkau memang pantas tenggelam
dalam, sedalam kebodohanmu
Sei Rebat, Mei 2011
DAUN KERING DI ATAS KEPALA
sehelai meluruh di atas kepala
bercerita tentang waktu tanpa bersisa
rambut-rambutku, tak hitam semasa muda
kini putih, kering, kusam, tak berkilau
kadang meluruh di kulit wajahku berkeriputan
kemana engkau berlari duhai sang waktu
membawa ketampanan masa mudaku dahulu?
ya, aku tak sanggup mengejarmu kini
mengembalikan muda tubuhku
seperti sedia kala
kini aku kering
lalu meluruh di atas bumi yang semakin sepuh
seperti daun-daun di atas kepalaku itu
Pulau Banyak, Mei 2011