17
Mei
 
A A A
Puisi - Minggu, 03 Jul 2011 12:53 WIB
Rambutmu yang gugur menghambat lajunya air di kamar mandi kita ke selokan. membuat air menggenang setinggi tumit kakiku dan kakimu.
Ilham Wahyudi
Mengais-ngais rambutmu yang gugur di kamar mandi membuatku merasa menjadi laki-laki kembali
:kpd Elvina

Rambutmu yang gugur menghambat lajunya air di kamar mandi kita ke selokan. membuat air menggenang setinggi tumit kakiku dan kakimu. dengan sumpit bambu yang biasa kita pakai -dulu- untuk menghabiskan mie balap setiap sarapan pagi, kukais-kais rambutmu yang gugur agar air dapat melaju kembali seperti semula - sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. semoga saja malam ini kau akan memujiku seperti dulu, saat aku pertama kali menggendongmu ke kasur. Duh, mengapa aku tiba-tiba merasa menjadi lakilaki kembali?

Medan, 2011


Pohon Cerita Dalam Kepala
:edy siswanto

pohon yang kau tanam dalam kepala tempo hari, kini bertumbuh rimbun. rantingnya memanjang sampai ke jantung dan menerobos sudut-sudut terdalam lambung. akarnya menyebar di mata, hidung, mulut hingga ke telinga. tiap petang selalu ada saja orang yang memetik buahnya. kadang mereka jadikan jus sebagai penganti kebiasaan mereka minum kopi sambil main catur. lain waktu pernah juga mereka jadikan sayur pengganti lauk mereka yang itu-itu saja. tapi sayang, mengapa mereka begitu kikir menanam biji-bijinya kembali?

Medan, 2011


Starbucks

dengan sebuah benda yang telah diolah sedemikian rupa konon tak lain adalah tumpukan seng dan karet kutemui kau di sebuah bangunan tinggi-besar yang menyimpan pelbagai kebahagian dan kemurungan (bagi laki-laki yang berencana mengencani gadis berceruk kaca) agar kau percaya bahwa aku akan menikahimu nanti malam sebelum jantung bulan berdarah yang akhirnya benar-benar terbelah.

aku memesan setengah gelas percakapan angin dan sepiring kabara baik-buruk yang kau tulis menjadi puisi di kerah kemejaku yang tertinggal di kamarmu tempo hari saat aku buru-buru pulang ketika ikan lohanku menangis histeris di telingaku dan kau memesan berpiring-piring kecemasan dan bergelas-gelas ketakutan sehingga meja yang kita pesan dilimpahi pertanyaan-pertanyaan bodoh - sekali lagi telah aku buktikan betapa pertemuan kita adalah semacam penolakanmu pada hari senin yang macet dan ketidaksanggupanmu menerima nasib buruk yang selalu diteriakan pembaca berita infotaiment.

akhirnya dan ya akhirnya kita pun mengulangi kembali peristiwa lampau yang tak pernah berujung apapun selain kita akan kembali dan terus kembali ke tempat ini untuk merelakan tubuh kita berkeringat tanpa sekalipun mengerti mengapa tubuh kita selalu berkeringat.

Medan, 2011


Amrin Tambuse


PERAHU TANPA KEMUDI

kemana engkau menuju

kemana engkau hanyutkan jiwamu

kemana engkau bermuara

kemana engkau tenggelamkan kerapuhanmu itu?

engkau tak punya kendali

engkau tak punya kemudi

engkau tak punya emosi

engkau pun tak punya harga diri!

karamlah engkau

kandaslah engkau ke dasar samudra

engkau memang pantas tenggelam

dalam, sedalam kebodohanmu

Sei Rebat, Mei 2011


DAUN KERING DI ATAS KEPALA


sehelai meluruh di atas kepala

bercerita tentang waktu tanpa bersisa

rambut-rambutku, tak hitam semasa muda

kini putih, kering, kusam, tak berkilau

kadang meluruh di kulit wajahku berkeriputan

kemana engkau berlari duhai sang waktu

membawa ketampanan masa mudaku dahulu?

ya, aku tak sanggup mengejarmu kini

mengembalikan muda tubuhku

seperti sedia kala

kini aku kering

lalu meluruh di atas bumi yang semakin sepuh

seperti daun-daun di atas kepalaku itu

Pulau Banyak, Mei 2011
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Rabu, 16 Mei 2012 07:56 WIB
Minggu, 13 Mei 2012 00:12 WIB
Puisi
Rabu, 09 Mei 2012 07:40 WIB
Rabu, 02 Mei 2012 07:25 WIB
Rabu, 25 Apr 2012 07:29 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris