Medan, (Analisa). Perlu dilakukan studi lebih lanjut tentang kegeologian Aek Latong secara komprehensif, diskusi intensif dengan Departemen PU/Bina Marga, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I tentang program jangka panjang proyek jalan Tarurung- Sipirok.
Demikian salah satu dari lima rekomendasi hasil Round Table Discussion para pakar konsultansi, konstruksi jalan dan akademisi tentang solusi jalan Aek Latong, Tapanuli Selatan yang diselenggarakan DPP Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) Sumut di Medan Club yang berakhir Selasa (5/7) malam.
Kemudian, mengusulkan kepada Menteri PU/Dirjen Bina Marga agar lebih melibatkan konsultan/para ahli lokal/kearifan lokal di Sumut. Konsep alternatif Jalan Siborong-borong-Aek Humbang-Sp Tandosan-Sipirok harus tetap dilaksanakan. Kinerja BBPJN Wilayah I harus lebih memberi perhatian keselamatan pengguna jalan terancam mengingat kondisi jalan Nasional di Sumut yang kebanyakan tidak laik.
Peserta round table discussion, antara lain Ketua HPJI Sumut Umar Zunaidi Hasibuan, Sekretaris Burhan Batubara, Mantan Kadis Jalan Jembatan Sumut Syarifullah Harahap, Akademisi dari Departemen Teknik Sipil USU Johannes Tarigan, Zulkarnain A Muis, Rusyanto, Ahli Geologi Jonathan Tarigan, dari Distamben Sumut Nettiana Sitepu dan Nurhafni Lubis. Hadir juga Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Daerah (LPJKD) Sumut Murniati Pasaribu, Sekretaris Robertman Sirait, disamping peserta dari Inkindo Sumut sendiri seperti Ketua Murlan Tamba, Wakil Ketua Ricardo B Manurung, Sanusi Surbakti, Julius Bangun, Pendi Sebayang, Yan Mahdi, Tonggo Siahaan (moderator) dan Sekretaris Goentono.
Jonathan Tarigan berpendapat, perlu direncanakan pembangunan jalan layang Bolu (mengadopsi jalan layang Bolu di Turki) sebagai solusi atas permasalahan jalan Aek Latong. Namun, tentunya memerlukan kajian komprehensif pada radius sekurang-kurangnya 10 km yang mencakup kondisi geologi kegempaan dan geoteknis massa batuan kawasam Aek Latong dan sekitarnya.
Sementara Johannes Tarigan mengatakan, kawasan hutan lindung yang terkena sesar aktif (aktive fault), tidak layak dibangun infrastuktur seperti jalan, jembatan dan lainnya. Karenanya perlu studi geologi sampai di mana batasan sesar yang aktif dan disosialisasikan kepada masyarakat.
Konsep Lama
Ketua HPJI Umar Zunaidi Hasibuan mengatakan, konsep-konsep yang ada soal Aek Latong selama ini, juga harus menjadi masukan yang penting diakomodir untuk penanganan Aek Latong ke depan.
Seperti halnya usulan Dinas Bina Marga Provinsi Sumut soal Jalan Propinsi Siborongborong-Aek Humbang-Sp Tandosan-Sipirok, agar juga mendapat perhatian karena sangat layak menjadi jalan alternatif ruas jalan Aek Latong.
Ketua LPJKD Sumut, Murniati Pasaribu menambahkan, pada dasarnya sudah berkali-kali penanganan dilakukan di Jalan Aek Latong. Namun rendahnya keseriusan, ditambah kurangnya pemberdayaan pengusaha konsutansi maupun pelaksana konstruksi, membuat penanganannya berlarut-larut.
Ketua Inkindo Sumut Murlan Tamba menegaskan, sudah seharusnya diperhatikan pentingnya memperhatikan kearifan lokal, baik pada tenaga konsultan lokal maupun karakteristik alam, budaya dan heterogenitas Sumut, dalam setiap pengerjaan jalan Aek Latong.
Menurut Murlan, kurang terakomodirnya kearifan lokal ini membuat pekerjaan di Aek Latong seolah menjadi "arisan" bagi perusahaan-perusahaan yang selama ini menggarap proyek jalan Aek Latong. (rrs)