17
Mei
 
A A A
Puisi - Minggu, 31 Jul 2011 00:21 WIB
Harta Pinem

batu yang kubawa dari gunung menjadi batu zaman

ketika jalan ke rumah-rumah penduduk penuh becek dan berkubang

engkau membangun saluran kesetiaan disana

seperti saluran air di hatimu di pinggiran lahan penuh debu

batu yang kubawa dari gununhg menjadi batu sungai di hatiku
kita sebarkan ke jalan berlubang berlumpur

sebelum jalan diratakan banyak pikiran harus diselaraskan

seperti langit dan hujan menanungi pepohonan

setelah jalan diratakan dengan pasir dan batu koral

pinggiran jalan ditanami pepohonan

ada keteduhan rasa terbangun di rumah kita

batu mengajarkan bagaimana harus membangun kehidupan

ketrika tak ada lagi yang bisa diharapkan di luar sana

saatnya kita kembali mengarahkan hati pada diri dan kesejuan embun

kita bangun derai rawa-rawa kesedihan

jangan perdulikan ocehan setiap orang

kehidupan harus diselesaikan tepat waktunya

jangan meremehkan gerimis pagi

bernyanyilah dari tempat tidurmu

semoga ketentraman hidup bisa kembali pada hari ini

2009


 

JERIT PENDUDUK JARAHAN

seperti tukang batu jalanan memecahkan batu besar dengan martil

aku pun memecahkan setiap soal yang mengganjal di depanku

sampai tak ada lagi bencana menimpa

engkau kumpulkan bagai pemacu kuda membawaku pergi mengembara

menjalani tebing-tebing kelak dalam hidupku

lihatlah di sekeliling kita banyak jurang dalam dan tebing terjal

di sepanjang perjalanan banyak keliaran para gentolet dan pengemis

bersama para pengamen mereka menyanyikan keresahan anak negeri

sambil menaburkan kata-kata sumpah serapah

"Dimana tempat kami, penguasa?"

mereka tak punya kampung halaman tempat berteduh

mereka tak punya negeri subur

semuanya berubah jadi rimba kemiskinan

mereka hanya bisa menabung mimpi-mimpi gelap tak terpecahkan

mereka hidup di negeri sirkus serta sulapan

saling mengelak dari tudingan serta kesalahan

mereka adalah generasi yang jatuh terkapar di bawah tiang gantungan

demikian kelam tempat pengembaraan kita, saudara

aku bagaikan tukang batu jalanan memeras keringat menantang matahari

tanpa pilihan masa depan

engkau seumpama pemacu kuda hanya bisa membawaku pergi mengembara tanpa tujuan

2009

@

Riza Multazam Luthfy

Curhat Pejabat

wahai rakyat

aku ini orang tuamu

wahai presiden

aku ini anak emasmu

Malang, 2010


Hanya Teman Lama

melihat wajahmu

seperti menyeret masa lalu

memandang wajahmu

tak ubahnya mengenang

rasa rindu yang membatu

wahai perempuan berhati nisan

kini saatnya mencuci tangan

bersedekah waktu

pada semua anakmu

: "ah, tak usahlah

mereka kan sudah dewasa

bisa ngurus diri sendiri"

si bungsu mengeluh

"bu, air susumu kok mampet,

apa ada pemeras selain diriku?"

saudara tua menambah keruh:

"bu, ayah kok lama tak pulang

katanya tahun kemarin sudah siap nampang?"

aku yang sudah lama lenyap hanya menyimpan harap

moga bulan depan bisa jenguk anak-anakmu

yang sudah lama kau titipkan pada alam

aku enggan mengaku ayah

tapi, hanya teman lama suamimu

yang telah ditelantarkan istrinya

Malang, 2010


 
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Rabu, 16 Mei 2012 07:56 WIB
Minggu, 13 Mei 2012 00:12 WIB
Puisi
Rabu, 09 Mei 2012 07:40 WIB
Rabu, 02 Mei 2012 07:25 WIB
Rabu, 25 Apr 2012 07:29 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris