Harta Pinem
batu yang kubawa dari gunung menjadi batu zaman
ketika jalan ke rumah-rumah penduduk penuh becek dan berkubang
engkau membangun saluran kesetiaan disana
seperti saluran air di hatimu di pinggiran lahan penuh debu
batu yang kubawa dari gununhg menjadi batu sungai di hatiku
kita sebarkan ke jalan berlubang berlumpur
sebelum jalan diratakan banyak pikiran harus diselaraskan
seperti langit dan hujan menanungi pepohonan
setelah jalan diratakan dengan pasir dan batu koral
pinggiran jalan ditanami pepohonan
ada keteduhan rasa terbangun di rumah kita
batu mengajarkan bagaimana harus membangun kehidupan
ketrika tak ada lagi yang bisa diharapkan di luar sana
saatnya kita kembali mengarahkan hati pada diri dan kesejuan embun
kita bangun derai rawa-rawa kesedihan
jangan perdulikan ocehan setiap orang
kehidupan harus diselesaikan tepat waktunya
jangan meremehkan gerimis pagi
bernyanyilah dari tempat tidurmu
semoga ketentraman hidup bisa kembali pada hari ini
2009
JERIT PENDUDUK JARAHAN
seperti tukang batu jalanan memecahkan batu besar dengan martil
aku pun memecahkan setiap soal yang mengganjal di depanku
sampai tak ada lagi bencana menimpa
engkau kumpulkan bagai pemacu kuda membawaku pergi mengembara
menjalani tebing-tebing kelak dalam hidupku
lihatlah di sekeliling kita banyak jurang dalam dan tebing terjal
di sepanjang perjalanan banyak keliaran para gentolet dan pengemis
bersama para pengamen mereka menyanyikan keresahan anak negeri
sambil menaburkan kata-kata sumpah serapah
"Dimana tempat kami, penguasa?"
mereka tak punya kampung halaman tempat berteduh
mereka tak punya negeri subur
semuanya berubah jadi rimba kemiskinan
mereka hanya bisa menabung mimpi-mimpi gelap tak terpecahkan
mereka hidup di negeri sirkus serta sulapan
saling mengelak dari tudingan serta kesalahan
mereka adalah generasi yang jatuh terkapar di bawah tiang gantungan
demikian kelam tempat pengembaraan kita, saudara
aku bagaikan tukang batu jalanan memeras keringat menantang matahari
tanpa pilihan masa depan
engkau seumpama pemacu kuda hanya bisa membawaku pergi mengembara tanpa tujuan
2009
@
Riza Multazam Luthfy
Curhat Pejabat
wahai rakyat
aku ini orang tuamu
wahai presiden
aku ini anak emasmu
Malang, 2010
Hanya Teman Lama
melihat wajahmu
seperti menyeret masa lalu
memandang wajahmu
tak ubahnya mengenang
rasa rindu yang membatu
wahai perempuan berhati nisan
kini saatnya mencuci tangan
bersedekah waktu
pada semua anakmu
: "ah, tak usahlah
mereka kan sudah dewasa
bisa ngurus diri sendiri"
si bungsu mengeluh
"bu, air susumu kok mampet,
apa ada pemeras selain diriku?"
saudara tua menambah keruh:
"bu, ayah kok lama tak pulang
katanya tahun kemarin sudah siap nampang?"
aku yang sudah lama lenyap hanya menyimpan harap
moga bulan depan bisa jenguk anak-anakmu
yang sudah lama kau titipkan pada alam
aku enggan mengaku ayah
tapi, hanya teman lama suamimu
yang telah ditelantarkan istrinya
Malang, 2010