Oleh: Adi Mujabir
" Separuh dunia ini sudah kau lihat dan jalani!"
Suara itu datang dari pohon kayu di halaman rumah. Lelaki bertubuh sedang, yang baru saja ke halaman, diam tak menoleh ke arah suara itu. Dia terus melangkah menuju teras rumah.
"Separuh makanan sudah kau kunyah dan telan!"
Pohon itu bicara lagi. Lelaki ini tetap diam. Langkahnya sampai pintu rumah. Dia ketuk pintu. Lama pintu itu baru terkuak. Seorang lelaki gempal berdiri di depan pintu.
"Ada bapak?"
Lelaki gempal diam. Dia menggerakkan dua bola matanya ke kanan. Isyarat itu dibaca lelaki ini. Lelaki gempal menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi ruang, agar lelaki bertubuhn sedang bisa masuk.
Setelah lelaki ini masuk, lelaki gempal keluar dan menutup pintu.
"Hey, Babi bengkak!" teriak keras dari pohon di halaman. Lelaki gempal yang mendengar teriakan itu, tak jadi duduk di kursi yang tak jauh dari teras. Lelaki gempal memungut batu yang ada dekat kakinya.
"Becakap kau lagi? Kulempar!"
Sang pohon diam. Dia baru diancam lelaki gempal. Daun yang rimbun, ribuan ranting yang setia pada bunga, pada daun dan buah, tak lagi melihat ke arah teras dan halaman rumah. Para ranting cuma menatap tanah. Setelah puas mereka menatap langit. Setelah puas kembali lagi ke tanah, dan terus begitu...
"Setiap ada yang datang, pasti kau maki dan caci. Capek dan muak aku mendengarnya. Aku pun kau maki selalu. Tak bosan kau maki dan nyaci aku? Tak bosan kau kena lempar batu?"
Pohon diam. Dia biarkan lelaki gempal itu menumpah kesalnya. Sang pohon tahu, sebentar lagi lelaki gempal itu bosan dan duduk bermalas-malas di kursi. Batu di genggamannya terlepas dan jatuh ke tanah. Lelaki gempal tertidur...
Lelaki bertubuh sedang, yang barusan masuk ke rumah, kini terduduk lemas di sofa. Dia hanya menatap kosong sebuah teve berlayar besar di ruangan itu. Sesekali dia mencuri pandang ke arah lelaki botak yang sejak tadi mentatap dengan serius adegan-adegan yang ada di layar teve. Lelaki botak, tegap bertubuh pendek itu asyik menonton film penuh adegan jorok. Full seks!
Lelaki bertubuh sedang ini gerah dan sedikit mual melihat adegan-adegan yang sempat dilihatnya. Dia muak dan hambar. Karena dia perlu pada lelaki botak itu, dia terpaksa ikut menyimak. Terpaksa ikut mengatakan: " Iya,Pak, besar, pak, eheheh,pak."
Padahal, ingin saja lelaki bertubuh sedang ini memaki, menendang, meludahi lelaki berkepala botak itu. Itu tadi. Dia perlu sekali pada lelaki botak itu. Posisinya memang tidak bisa seperti itu.
"Kalau kau sabar, tunggu saja di luar dulu. Saya mau putar beberapa film lagi," ujar lelaki botak sambil mengarahkan remote ke layar teve.
Mendengar kata-kata itu lelaki bertubuh sedang ini semakin mau muntah. Rasa marah dan ingin menghantam kepala botak itu dengn batu, berseliweran.
" Ok, Pak. Saya di luar dulu. Kalau bapak sudah selesai, saya siap menghadap bapak," sahut laleki in i sambil bangkit dari sofa.
Perkenalkan. Lelaki bertubuh sedang adalah seorang ketua OKP yang sangat disegani. Punya ribuan anggota dan puluhan kader pengurus harian yang siap perintah. Kaya dan punya perempuan simpanan hampir sepuluh. Proyeknya banyak. Pengawal pribadinya ada empat, yang satunya merangkap sopir. Hari ini, ketika ingin bertemu si botak, ketua OKP ini harus sendiri. Harus diam, nurut, jadi penjilat yang banci.
Mobil mewah, sopir dan pengawal pribadinya terpaksa menunggu di ujung jalan, sekitar 100 meter dari rumah si botak. Itu kesepakatan tak tertulis. Bila bertamu ke rumah si botak, jangan ramai-ramai atau menyolok mata. Datang sendiri. Kalau tidak, tidak terima.
Lelaki botak, adalah anak seorang pensiunan jenderal. Dia menjabat Kepala Dinas PU. Dia tinggal di rumah dinas yang sederhana, tapi rumah pribadinya yang mewah ada empat. Semuanya bertembok tinggi dan dijaga satpam. Anaknya yang paling kecil kini bersekolah di Singapura. Nah, hebat,kan?
Hebat! Isterinya anak petinggi partai yang sedang berkuasa. Jabatan isterinya Komisaris di sebuah perusahaan konstruksi. Adik isterinya sekarang seorang perwira militer yang sedang naik daun. Hebat, kan?
Karena hebat itulah ketua OKP itu bak seorang pengemis yang kelaparan. Karena hebat itulah, lelaki gempal, seorang dari kesatuan elite itu bersiaga 24 jam untuk menjaga si botak. Merangkap Sopir dan pengawal bermental kacung.
Perkenalkan lagi. Pohon di halaman itu. Berumur sejak zaman Orba sampai akarang. Orang bilang itu Beringin Kuning Muning alias Soehartatamurni. Ada yang bilang itu pohon Habibitatan. Ada yang bilang Megasariwarna, Gusduramahkali dan pohon Sebeyesebaya. Entah mana yang betul. Yang pasti, pohon itu besar, berdaun lebat. Setiap musim, dia berbuah.
Begitulah sampai hari ini. Pohon itu tetap di halaman rumah dinas itu. Banyak kepala dinas, orang-orang yang sering ke situ. ia tahu. Begitu lamanya dia di situ, akhirnya tak satu pun unggas berkenan ke pohon itu. Pada akhirnya, membuat sang pohon gelisah, sepi dan terus menggerutu. Kemudian dia sering memaki pada orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang dilihatnya.
Cuma itu yang bisa dilakukan pohon itu. Selebihnya dia takut, diam dan pasrah. Karena pernah dia berteriak, memelas agar dia segera ditumbang, dipotong atau dimatikan, tapi tak ada yang mau.
Banyak waktu yang dirasakan, banyak manusia yang ditatap, banyak permohonan ditujukan, pada akhirnya, dia hanya bisa menyindir dan memaki. Bila dia kecut dan takut, dia diam.
Nah, kembali kisah ke lelaki bertubuh sedang tadi. Sesampai dia di teras, dia menggeleng ketika dilihatnya lelaki gempal yang menyambutnya tadi tertidur di kursi. Telapak tangan kanannya tampak berpasir. Sebuah batu tergeletak tak juah dari kakinya.
Lelaki bertubuh sedang itu duduk di dekat si gempal. HP yang ada di genggamannya berdering.
Dia mengerutkan dahi menatap layar HP-nya. Tak ada nomor yang tampil. Dia merasa aneh. Karena terlanjur berdering dia berkata: "Halo?"
"Separuh dunia sudah kau jalani. Separuh makanan sudah kau telan. Separuh tanah sudah kau miliki. Separuh perempuan sudah kau tiduri. Separuh bagunan kota ini adalah proyekmu. Apa lagi yang mau kau ambil dan nikmati?"
Ketua OKP, lelaki bertubuh sedang yang sering bertandang ke rumah dinas itu berang. Matanya menatap tajam ke arah pohon yang tak jauh dari ia duduk.
"Anjing, kau! Kulempar kau nanti! Dari tadi mulutmu ribut aja!"
" Ya sudah berapa banyak harga dirimu kau gadai? "
" Babi,kau!"
Sebuah batu yang tergeletak tak jauh dari kakinya, dia pungut dan....bag! Sebuah batu kencang melayang menghantam batang pohon.
Pohon diam. Goresan pada kulit batang tampak sedikit lebar. Ada cairan getah menetes perlahan.
"Ada apa? " tanya lelaki gempal saat tersentak dari tidur.
"Pohon jelebau ini ribut lagi."
Lelaki gempal segera memungut batu yang berserakan di halaman rumah dinas itu. Dia lempar berkali-kali ke arah pohon...
Suara gaduh di halaman rumah mengusik ketenangan lelaki botak. Dia segera berlari keluar. Sesampai di luar di lihatnya lelaki bertubuh sedang dan pengawalnya melempari pohon. Dia segera terpancing. Dia berlari ke halaman dan mengambil batu, lalu ikut melempar sambil memaki.
Batu yang bertubi-tubi menghantam batung pohon, membuat sang pohon penuh luka. Dia kesakitan dan menangis. Dia memelas..." Tolong tebang saya. Cabut saya... saya tak sangup jadi saksi sejarah ini. Saya tak sanggup terus mengeritik dan mencaci... saya lelah..."
Tiga lelaki akhir letih melempar batu ke arah batang pohon. Mereka terduduk di kursi dengan tubuh bercucuran keringat. Mereka mengantuk. Mereka tertidur.
Pohon yang menangis pelan menggerakkan daun-daunnya. Dari tangkainya bermunculan putik. Pelan-pelan. Kemudain besar menjadi buah. Mengeras dan kukuh. Berbuah batu. Pohon saksi sejarah itu berbuah batu yang lebat.Lebat sekali...
Awal Juni 2011