Oleh : Hasan Al Banna. Siapa yang tidak tahu manfaat salon? Sudah menjadi pengetahuan umum kalau salon itu menjadi tujuan khalayak kalau hendak mempercantik diri. Cantik apanya? Ya, bisa meliputi kecantikan rambut, atau wajah/tubuh. Nah, siapa yang ingin kelihatan cantik, silakan pergi ke salon. Terserah! Mau ke Permata Salon, boleh. Hendak mengunjungi Mahkota Salon, tidak apa. Siapa yang melarang anda pergi ke Indah Salon, misalnya?
Dalam tulisan ini, fungsi salon tidak perlu dibahas lagi secara mendalam. Namun, sebagai istilah, perlu dibicarakan lagi secara rinci demi ‘kecantikan bahasa’ Indonesia. Secara mendasar, istilah salon dicerabut dari bahasa Inggris yang dapat bermakna ‘ruangan, ruang besar’. Namun, tersedia pula pengertian yang lebih spesifik. Dalam kamus saku Oxford Learner’s Pocket Dictionary, kata salon berarti ‘shop where hairdressers and beauticians work’, yaitu ‘toko tempat penata rambut dan penata kecantikan bekerja.’
Dalam bahasa Inggris, secara umum, salon dapat dijabarkan menjadi dua bagian, beauty salon (salon kecantikan; wajah atau tubuh) dan hair salon (salon rambut). Namun, pemakaian salon saja pun sudah dapat mewakili keduanya.
Bagaimana dalam bahasa Indonesia? Kata salon sudah termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang artinya tidak jauh berbeda dari makna dasar di negeri asalnya, yaitu ‘ruang (kamar) yang diatur dan dihias dengan baik (untuk menerima tamu dan sebagainya)’. Makna yang disodorkan KBBI menjadi lebih rinci dan kokoh ketika dalam contoh lema diikuti kata kecantikan yang kemudian menderetkan arti: ‘tempat (gedung dan sebagainya) orang merawat kecantikan (merias muka, menata rambut, dan sebagainya)’.
Lantas, sudah tepatkah merk usaha kecantikan berikut ini: Permata Salon, Mahkota Salon, Indah Salon?
Sudah diketahui secara jamak, bahwa struktur bahasa Indonesia hanya mengenal hukum D-M (diterangkan-menerangkan), bukan M-D (menerangkan-diterangkan) yang merupakan struktur bahasa Inggris. Misalnya, Mahkota Salon sudah benar sebagai kata berbahasa Indonesia, tetapi menjadi keliru karena berstruktur M-D. Seharusnya hukum D-M yang dikenakan, sehingga Mahkota Salon menjadi Salon Mahkota. Begitu pula Permata Salon seharusnya Salon Permata dan Indah Salon menjadi Salon Indah.
Ironisnya, disebabkan pengetahuan yang dangkal, tidak sedikit yang memakai kata saloon untuk menerangkan hal yang berkaitan dengan tata kecantikan. Padahal saloon berarti ‘public room in aship, hotel’ yang semaksud dengan ‘ruangan umum di sebuah kapal, hotel, dan sebagainya’. Di Amerika Serikat, saloon malah lebih dikenal sebagai ‘bar’.
Sebenarnya, bertolak dari fungsinya, ada pilihan lain untuk menamai ‘toko tempat penataan rambut atau penataan wajah/tubuh’. Kalau rumah makan dimaksudkan sebagai ‘rumah untuk makan’, mengapa ‘rumah untuk cantik’ tidak digiring menjadi rumah cantik? Di beberapa tempat di kota Medan, beberapa usaha jasa salon, sudah mulai menggunakan istilah rumah cantik, semisal Rumah Cantik Amira.
Menurut hemat penulis, istilah rumah cantik lumayan cantik. Oleh karena itu, mengapa malu menggunakannya?***
Penulis adalah staf Balai Bahasa Medan dan dosen luar biasa di FBS Universitas Negeri Medan (Unimed).