Oleh : Rahmatika Syawal. AYU berlari ke luar kelas. Ayu menahan tangisnya. Ayu tidak mau teman-temannya mengatakannya anak cengeng. Tapi terkadang Ayu sudah tidak kuat jika teman-temanya terus menerus mengejeknya. Apalagi jika teman-temannya mengejek ayahnya.
"Sudahlah yu, jangan pedulikan kata-kata mereka. Mereka hanya iri kepadamu Yu. Makanya mereka mengejekmu," nasehat Rina kepada Ayu.
"Rin, apa benar aku menjijikkan dan bau..?" ucap Ayu lirih sambil menahan tangisnya.
Rina menggeleng. Rina langsung memeluk Ayu. Ayu sangat bersyukur memiliki teman seperti Rina. Walaupun Rina memiliki segalanya, Rina tidak sombong dan membeda-bedakan dalam berteman. Yang penting bagi Rina dalam pertemanan itu harus ada rasa kesetiakawanan dan kejujuran. Bukan karena wangi atau bau.
Tiba-tiba teman-teman yang lainnya datang menghampiri Ayu dan Rina.
"Rin kenapa sih kau mau berteman dengan anak tukang sampah..? Apalagi dia bau dan menjijikkan," ucap Ika tiba-tiba
Rina langsung berdiri dan mendatangi Ika.
"Apa salahnya jika Ayu anak tukang sampah..? Apa salah anak tukang sampah berteman dengan kita. Lagi pula petugas kebersihan atau tukang sampah itu bagiku pekerjaan yang sangat mulia. Agama juga mengajarkan kebersihan itu setengah daripada iman. Makanya posisi petugas kebersihan itu di sisi yang maha kuasa memiliki nilai tersendiri ..!" tegas Rina kepada Ika.
"Salah jika kita berteman dengan anak tukang sampah. Karena sampah itu bau dan menjijikkan. Jadi siapa saja yang dekat dengan sampah, baunya juga akan seperti sampah,"jawab Ika tak mau kalah.
Hati Ayu semakin sakit mendengar jawaban Ika. Ayu tidak kuat menahan rasa sakit itu. Air mata Ayu menetes membasahi pipinya. Rina sangat kasihan melihat Ayu diperlakukan seperti ini. Rina berusaha menenangkan hati Ayu.
"Yu, ambil saputangan ini. Kau jangan menagis lagi ya," ucap Rina sambil memberikan saputangan kepada Ayu.
"Terima kasih banyak ya Na. Aku senang banget berteman denganmu,"jawab Ayu sambil memeluk Rina.
"Ya sudah. Mari kita pulang. Nanti kau kuantar pulang,"ucap Rina kepada Ayu. Rin menyuruh Ayu masuk ke dalam mobil. Sebelum pulang ke rumah, Rina terlebih dahulu mengantar Ayu ke rumahnya. Lima belas menit kemudian, Ayu sampai ke rumahnya. Setelah itu Rina langsung menyuruh pak Ujang pulang ke rumah.
Setibanya di rumah. Rina langsung membuka pintu rumahnya dan berteriak memanggil-manggil ibunya. Ibu yang sedang asyik memasak di dapur terkejut mendengar teriakan Rina. Ibu langsung bergegas menemui Rina.
"Ada apa sayang? kok kamu menjerit-jerit," ucap ibu penasaran.
"Rina lagi kesal bu. Tadi di sekolah Ayu diejek-ejek teman-teman yang lainnya. Sampai-sampai Ayu menangis bu," jelas Rina kepada ibunya.
"Kenapa Ayu diejek teman-temannya yang lain?,"tanya ibu penasaran kepada Rina.
"Mereka bilang Ayu bau dan menjijikkan. Karena ayah Ayu adalah seorang tukang sampah. Padahal kenyataannya Ayu gak bau kok bu. Ayu wangi, baik dan pintar lagi," jelas Rina kepada Ibu.
"Menurut ibu apakah bekerja sebagai tukang sampah itu hina ya bu, makanya orang lain menganggap Ayu hina dan menjijikkan." tanya Rina lagi kepada ibu.
"Rina siapa bilang pekerjaan sebagai tukang sampah itu hina? Semua pekerjaan itu mulia. Semua pekerjaaan itu terhormat dan mulia selama pekerjaan itu dikerjakan dengan cara yang baik dan halal. Seorang dokter yang selalu menolong orang lain tanpa pernah membeda-bedakan sesama, tentu mulia pekerjaannya.
Seorang guru tentu mulia pekerjaannya karena guru itu memberikan ilmu dan pengetahuan kepada anak didiknya. seorang pegawai atau pejabat, jika mereka mengerjakan dan menjalankan tugasnya dengan baik, pekerjaan mereka juga sangat mulia. Namun, sang pegawai betapapun tinggi pangkatnya jika ia melakukan korupsi itu sama saja artinya dengan mencuri. Jadi pekerjaannya itu tidak mulia.
Jadi pekerjaan sebagai tukang samapah iitu sangat mulia sekali. Karena tukang sampah itu sangat berguna bagi orang lain. Coba bayangkan, apa yang akan terjadi jika tukang samaph tidak ada..? Pasti tidak ada yang mengambil sampah dan sampah itu akan menggunung. Jika sampah sudah menggunung penyakit juga akan berdatangan. Jadi tukang sampah itu sangat mulia pekerjaannya," jelas ibu kepada Rina.
Rina mengangguk-ngangguk pelan kepada ibu.
"Oleh karena itu, kita tidak boleh merendahkan orang lain apalagi sampai menghinanya. Allah saja menganggap kita sama. Tidak pernah membeda-bedakan umatnya. Yang membedakan kita adalah amalan dan perbuatan kita," jelas ibu lagi kepada Rina.
"Iya bu. Rina sudah mengerti dan paham dengan penjelasan ibu. Besok Rina akan menjelaskan kepada teman-teman bahwa bekerja sebagai tukang sampah itu bukanlah pekerjaan hina tapi pekerjaan yang sangat mulia," ucap Rina sambil mencium pipi ibu.
Rina sangat beruntung memiliki ibu yang bijaksana. Karena ibu bisa menjelaskan dan memberikan solusi kepada Rina. Jawaban ibu juga bisa membuat hati Rina tenang dan Rina bisa memahami penjelasan ibu dengan baik.
Setelah mendapat pembekalan dari ibu, Rina menjadi semangat.Rasanya ia ingin segera menyadarkan orang-orang yang keliru pandangannya mengenai petugas kebersihan yang dianggap sebahagian orang hina.
Padahal pandangan itu salah besar, petugas kebersihan, penyapu jalanan, pengutip sampah adalah pekerjaan yang sangat mulia.
***