17
Mei
 
A A A
Taman Riang - Minggu, 25 Sep 2011 00:59 WIB
Cerpen
Oleh: Amrin Tambuse. Di sekolahnya, Haikal diberi ucapan selamat dari guru-guru serta teman-temannya saat usai upacara bendera.Kepandaiannya melukis membawa nama harum Bak seorang pahlawan yang telah mengangkat nama sekolahnya ke forum nasional, Haikal dianugrahi sebagai murid teladan.
MINGGU sore yang mendung. Buru-buru Haikal menyudahi lukisannya sebelum gerimis benar-benar berubah deras menjadi hujan lebat. Kemudian dikemasinya seperangkat alat lukis dan memasukkannya ke dalam ransel. Lalu ia pun beranjak pulang sambil menggendong Dorbi, kucing angora kesayangannya.

Haikal menarik nafas lega begitu sampai di rumah. Sebab, hujan turun dengan sangat lebatnya. Seandainya tadi dia tidak pulang dengan segera, mungkin dia, lukisannya dan Dorbi, basah kuyup kehujanan.

"Terima kasih, Ma,"ucap Haikal pada mama karena mama telah menyuguhkan segelas susu panas untuknya di ruang lukis yang disediakan papa. Ruang lukisnya, dulu bekas garasi. Dan sejak papa merehab rumah ini, garasi dipindahkan agak ke depan.

Mama mengitari ruang lukis Haikal. Diam-diam mama semakin kagum dengan perkembangan Haikal melukis. Hampir- hampir mendekati aslinya.Tatapan mama bertumpu pada sebuah lukisan wajah. Mama mendekati lukisan itu. Dengan seksama, mama seperti menemukan wajahnya di situ.

"Baguskan, Ma..?" Haikal menemukan foto mama semasa muda dulu itu di album foto Haikal. Lalu Haikal lukis. Maksud Haikal, lukisan itu nantinya untuk kado diulang tahun mama lima hari lagi. Tapi mama keburu melihatnya.Sepertinya, jadi nggak surprais lagi, dong," kata Haikal sambil menatap wajah mama.

"Nggak apa- apa, kok. Kapan pun kamu beri lukisan ini, mama tetap merasa surprais menerimanya. Tidak semua orang lho mendapat hadiah seperti ini. Sebab tidak semua orang juga bisa melukis yang hampir sama dengan wajah aslinya seperti ini," ujar mama bangga dengan tidak lepas menatap lukisan dalam genggamannya.

"Jadi, mama tetap mau menerima lukisan ini sebagai kado dari Haikal nanti..?" tanya Haikal sekali lagi pada mama. Mama mengangguk.

"Kapan pun, dan apa pun yang kamu beri, mama tetap bangga menerimanya.Mama akan menjaganya," jawab mama meyakinkan Haikal.

"Terimakasih, Ma." Haikal memeluk mama erat- erat dengan penuh kasih sayang.

Pameran tunggal yang ditunggu-tunggu Haikal sekian tahun, akhirnya tiba juga. Dengan disponsori sebuah produk ternama, pameran lukisan tunggal Haikal di gelar di sebuah hotel berbintang. Ada sekitar lima puluh lukisan Haikal dipajangkan di situ. Semuanya bagus- bagus. Semuanya dikagumi penikmat lukisan.

Kesuksesan Haikal tidak langsung membuatnya tinggi hati. Justru diam-diam, hasil dari penjualan lukisan itu nanti, akan dia sumbangkan ke panti jompo di daerah Securai.

Haikal kaget bukan kepalang. Sebuah lukisannya tentang gunung meletus serta akibat dari keganasan laharnya, menarik perhatian seorang kolektor berasal dari Swedia. Mr. Sumdeht. Lelaki berusia empat puluh tahun itu ingin membeli lukisan Haikal sebesar tujuh puluh lima juta rupiah. Waow!

"Bener, Pa..? Benerkah Mr. Sumdeht mau membayar lukisan Haikal semahal itu..?" Haikal merasa belum yakin. Kalau pun benar, Haikal juga menganggap itu seperti sebuah mimpi. Sapuan kuas dan perpaduan warna yang menurut Haikal belumlah mendekati sempurna, dihargai setinggi itu? Hohh..!

"Kok kamu malah nangis lukisan itu dibayar mahal sama Mr. Sumdeht..? Mestinya senang, dong." Papa heran.

"Haikal nangis bukan lantaran sedih. Tapi justru Haikal senang bisa menyumbangkan uang itu nanti ke panti jompo...!" jawab Haikal.

"Ha! Apa...?!" Papa terperanjat mendengarnya.

"Haikal nggak punya kakek dan nenek lagi kan, Pa...? Jadi Haikal menganggap orangtua di panti jompo itu sebagai kakek dan nenek Haikal sendiri. Makanya Haikal ingin menyumbangkan sebagian rezeki Haikal untuk mereka. Seperti papa dan mama menyumbangkan sebagian rezeki pada mereka. Boleh, kan, Pa? Boleh, kan, Ma...?" Haikal menatap kedua orangtuanya bergantian.

Mama menarik tubuh Haikal. Lalu membenamkannya ke dalam pelukannya erat-erat. Tuhan tidak hanya memberi Haikal bakat melukis. Tapi Tuhan juga memberi Haikal sebuah hati yang sangat luar biasa. Mama terharu. Sampai- sampai mama meneteskan air mata. Sekecil ini, Haikal sudah merasakan bahwa hidup memang harus saling berbagi. Berbagi cinta. Berbagi kasih. Berbagi rasa. Berbagi penderitaan. Dan…berbagi rezeki.

Keesokannya, foto Haikal, lukisannya dan Dorbi, kucing angora kesayangannya, terpampang di koran-koran lokal dan nasional. Juga di majalah dan tabloid. Bahkan ia diliput beberapa televisi swasta Jakarta saat menyerahkan bantuan ke panti jompo. Haikal seperti seorang selebritis saja. Tapi itu tidak lantas membuatnya sombong. Sebab, Tuhan benci sama orang yang tinggi hati dan sombong.

Di sekolahnya, Haikal diberi ucapan selamat dari guru-guru serta teman-temannya saat usai upacara bendera. Bak seorang pahlawan yang telah mengangkat nama sekolahnya ke forum nasional, Haikal dianugrahi sebagai murid teladan dan berprestasi tahun ini.

Semua teman-teman memberi selamat kepada Haikal. Cuma Randi yang tidak mau memberi selamat sama Haikal. Bagi Randi, Haikal masih merupakan saingannya di sekolah SD Harapan. Sejak dulu Haikal tau kok kalau Randi nggak suka dengannya. Tapi Haikal nggak pernah benci apalagi dendam sama Randi. Malah keseringan Haikal yang duluan menegur Randi.

Seperti kali ini, Haikal mengajak Randi ke kantinnya Bu Balqis. Haikal ingin mentraktir Randi makan apa saja yang Randi mau. Terus makan sepuasnya.

"Sebenarnya kamu jauh lebih pintar dan jauh lebih jago melukis dibanding aku, Ran. Kamu lebih hebat dibanding aku. Tapi aku sedih, kenapa kamu nggak mau berteman sama aku. Tapi sekarang, mau kan temanan sama aku. Yok..kita makan di kantin Bu Balqis. Aku lapar. Kamu juga pasti lapar kan...? Aku ikhlas, kok, Ran. Jangan takut, aku yang bayar. Ayolah. Nah gitu, dong."

"Maafkan aku ya, Kal. Selama ini aku benci sama kamu." Akhirnya Randi mengakui kesalahannya.

"Sekarang tidak lagi, kan?" tanya Haikal tersenyum.

Randi pun membalas senyuman lebar Haikal. Sambil bergandengan tangan, mereka melangkah menuju kantin Bu Balqis. Kebencian Randi kepada Haikal selama ini, mencair tiba-tiba.Menjadi keteduhan dan damai. ***
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Jumat, 11 Mei 2012 01:28 WIB
Selasa, 27 Mar 2012 00:05 WIB
Minggu, 08 Jan 2012 01:40 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris