17
Mei
 
A A A
Taman Remaja Pelajar - Minggu, 02 Okt 2011 01:14 WIB
Cerpen
Oleh: Sartika Sari. Sebelum petang datang, Ria menyempatkan diri untuk singgah ke toko sandal. Ia membelikan sepasang sandal bergerigi yang biasa digunakan untuk penderita rematik, untuk ibunya. Tidak mahal, karena sandal itu hanya imitasi, bukan yang aslinya. Tapi paling tidak, bisa membantu ibu meredakan sakitnya.
RIA sudah berjalan hampir setengah hari. Kakinya sudah lelah. Wajahnya juga penuh keringat dan debu yang sedari tadi berseliweran dan akhirnya hinggap di seluruh pori-pori. Belum lagi, perutnya yang keroncongan karena sejak pagi belum terisi sesuap nasi. Tapi hari ini memang Ria harus berjuang dan mengalahkan segala kelelahan itu. Tidak boleh lengah.

Ria meneruskan perjalanan menyusuri tiap lorong. Matanya bergerak ke kanan kiri mencari botol atau plastik yang barangkali tergeletak tak digunakan lagi oleh pemiliknya. Tanganya juga tak henti menggerak-gerakkan kayu kering yang sengaja dibawanya untuk mengobrak-abrik tumpukan sampah. Beginilah, memang sudah menjadi kegiatan rutin Ria untuk mengumpulkan botol plastik dan barang-barang bekas lainnya sepulang sekolah. Hari ini Ria harus mendapatkan lebih banyak.

"Hei, kamu pencuri ya..?" Ria terkejut mendengar suara seorang laki-laki tua meneriakinya.

"Ti…dak Pak." Ria menjawab dengan suara pelan.

"Ah, sudah banyak anak yang berlagak seperti kamu. Dan akhirnya mencuri juga." Lelaki itu menyambung tuduhannya.

"Saya bukan pencuri Pak..!" sambung Ria.

"Jadi mau apa kamu disini..?" lelaki itu bertanya.

"Saya hanya mencari botol bekas, Pak,"tutur Ria.

"Sudah sana pergi!"lelaki itu mengelurakan suara yang semakin besar.

Ria benar-benar terkejut. Jantungnya berdegup makin kencang. Wajahya pucat pasi. Ya, Ria benar-benar takut. Tapi bukan karena ia mau mencuri. Ia takut karena sejak kecil, memang paling tidak bisa jika mendengar suara yang keras. Seperti fobia (ketakutan yang sangat besar terhadap sesuatu).

Akhirnya Ria memutuskan untuk pergi. Kakinya melangkah makin cepat. Ria ingin segera meninggalkan lorong itu. Sampailah Ria di persimpangan jalan. Wajahnya tertunduk lesu. Kali ini ia tidak sedang mencari botol atau plastik bekas. Tapi karena memang sudah teramat lelah. Bayangkan saja, sejak matahari terbit sampai matahari tepat berada di atas ubun-ubun, ia masih berjalan menggendong tas goni di pundak. Ah, tenaga Ria sudah tiada.

"Bu, tunggu…"tiba-tiba Ria berteriak"

"Tinn…tinn...hei, minggir kamu!"salah seorang pengendara motor marah.

"Maaf pak." Ria memelas.

Hampir saja ia tertabrak sebuah sepeda motor yang melintas. Seketika kedua kaki Ria lemas. Ia masih terbayang-bayang kalau saja tadi sepeda motor itu menabraknya, tentu sekarang ia sudah penuh darah.

Ria menyandarkan diri ke tiang lampu merah sambil mengatur nafas yang masih tergesa-gesa.

"Ibu itu..? Aku harus menemuinya,"sontak Ria terbangun dari sandarannya. Ia teringat kembali pada ibu yang tadi untuk mengembalikan dompetnya yang jatuh ketika menyeberang di zebra cross.

Dompet itu masih dalam genggaman Ria. Dari ukurannya, sangat jelas terlihat kalau pemilik dompet ini adalah orang yang cukup kaya. Betapa tidak, selain ukurannya yang besar, dompet itu juga sangat tebal. Tapi untunglah Ria bukan seseorang yang mudah tergoda. Ia sadar akan pesan almarhum ayahnya.

"jangan sampai kemiskinan menjadikan kita seorang pencuri."

Sejak kecil ayahnya telah menanamkan sifat-sifat mulia kepada Ria dan kedua adiknya. Sampai saat ini, di usia Ria yang ke sepuluh tahun, semua pesan itu masih ia jaga dan lakukan.

"Aku harus menemukan alamat pemilik dompet ini." Ria menggumam dalam hati.

Lantas, ia bergegas menuju alamat yang tertera di Kartu Tanda Penduduk pemilik dompet tersebut. Jalan Tulus, No.5. Alamat itu cukup jauh. Kurang lebih satu kilometer dari posisi Ria sekarang.

Matahari semakin terik. Kondisi tubuh Ria juga sudah makin memburuk. Sebenarnya ia sangat lelah. Tapi niat mulia untuk mengembalikan dompet itu kepada pemiknya terlampau kuat. Ria memutuskan untuk tetap berjalan.

Sepanjang jalan, berkali-kali Ria berhenti untuk sekedar meluruskan kaki dan mengeringkan keringat. Setelah melewati beberapa tikungan, lampu merah dan lorong-lorong kecil. Akhirnya Ria sampai di alamat yang dituju. Dengan segera Ia mengetuk pintu pagarnya.

"Selamat sore…" Ria memberi salam. Tapi tidak ada jawaban.

"Selamat sore!" Ria mengulangi ucapannya dengan suara yang makin keras.

"Ya, selamat sore."sahut seorang perempuan dari dalam rumah.

Tak berapa lama kemudian, pintu pagar terbuka. Seorang perempuan paruh baya berdiri di balik pagar.

"Ada apa ya Nak...?"pe-rempuan itu bertanya.

"Hm…maaf Bu, saya hanya ingin mengembalikan dompet ini, "ujar Ria sembari menyerahkan dompetnya.

"Lho? Kenapa bisa ada di tangan kamu..?"perermpuan itu bertanya kembali.

"Tadi sewaktu ibu menyebrang di lampu merah, saya melihat dompet ibu jatuh. Tapi ketika saya hendak mengembalikannya, ibu sudah naik angkutan umum,"jawab Ria.

"Oh, terimakasih banyak ya Nak. Ibu kira dompet ini sudah hilang. Padahal di dalamnya banyak surat-surat penting. Perkenalkan, saya Mita. Ayo masuk dulu Nak. Kamu terlihat sangat lelah,"ujar perempuan itu.

"Tidak usah Bu, saya langsung pamit saja,"ucap Ria dengan nada yang lemah.

"Jangan begitu nak, kamu sudah jauh-jauh berjalan ke rumah ibu, kamu pasti lelah. Ayolah, paling tidak sekedar minum," tawar Bu Mita.

Ria mengangguk. Perlahan-lahan, ia membuntuti Bu Mita menuju ruang tengah.

"Minum dulu ya Nak."

"Iya Bu, terimaksih." Ria meminum minuman yang disediakan. Tak berapa lama berselang, Ria berpamitan.

"Bu, saya pamit pulang ya? Saya mau melanjutkan pekerjaan,"ujar Ria.

"Iya Nak, sekali lagi terimaksih ya? Ini buat kamu." Bu Mita menyerahkan segenggam uang pada Ria.

"Tidak Bu, tidak usah. Saya ikhlas." Ria menolak.

"Tidak Ria, anggaplah ini sebagai ucapan terimakasih dari ibu karena kamu telah mengembalikan dompet ini."Bu Mita memaksa Ria untuk menerima pemberiannya.

"Terimaksih ya bu."Akhirnya dengan berat hati Ria menerima. Setelah berpamitan, dengan langkah yang makin kencang ia menuju jalan pulang. Di tangan kanannya, ada uang lima puluh ribu, pemberian Bu Mita. Ria sangat bersyukur karena mendapat rezeki dan akhirnya bisa membelikan kado untuk ibu tepat di hari ultahnya, besok.

Ria sudah sangat lelah. Ia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya hari ini.Sebelum petang datang, Ria menyempatkan diri untuk singgah ke toko sandal. Ia membelikan sepasang sandal bergerigi yang biasa digunakan untuk penderita rematik, untuk ibunya. Tidak mahal memang, karena sandal itu hanya imitasi, bukan yang aslinya. Tapi paling tidak, bisa membantu ibu meredakan sakit. Selebihnya, uang yang ia miliki dibelikan sepasang baju tidur bercorak batik yang juga diimpikan ibu.

"Semoga ibu senang dengan hadiah dari Ria ini," gumamnya dalam hati.

Maksud Ria menggembirakan ibunya yang sedang sakit.Paling tidak dari pemberiannya itu ibu bisa tersenyum, sekedar mengurangi sakit yang ia derita. Dari senyum yang sejenak di hari ulang tahun ibu, semogoa dapat menjadi obat. ***
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Senin, 30 Apr 2012 00:38 WIB
Minggu, 08 Apr 2012 00:04 WIB
Kamis, 29 Mar 2012 15:11 WIB
Selasa, 20 Mar 2012 00:20 WIB
Terkait Tawuran Pemuda di Bagan Asahan
Jumat, 16 Mar 2012 10:34 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris