Oleh: Irfan Alma. DAHULU kala tersebutlah sebuah desa kecil yang terletak di pinggiran hutan dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu ramai. Di dalam desa tersebut hiduplah satu keluarga yang terkenal dengan keahlian dalam melukis.
Setiap harinya uang yang mereka dapatkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya berasal dari hasil melukis. Keluarga itu terdiri dari seorang ibu dan lima orang anak tirinya. Kesemua anak tirinya adalah perempuan. Mereka semua pandai melukis kecuali si bungsu yang bernama Putri.
Lukisan putri memang tampak yang paling buruk dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Walaupun demikian Putri justru memiliki paras yang paling cantik diantara yang lain. Matanya biru, kulitnya putih bersih dan rambutnya coklat bercahaya. Siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona. Putri merupakan gadis paling cantik di desa itu.
Kecantikan Putri ini akhirnya membuat keempat kakakanya menjadi iri hati terhadapnya. Karenanya, mereka lalu membuat putri agar selalu sibuk setiap hari. Putri harus mencuci, memasak dan melakukan semua pekerjaan berat sejak pagi hari. Namun semua itu tidak membuat Putri mengeluh. Kecantikan Putri malah bertambah hari demi hari.
Di suatu malam di musim dingin, Putri tidak bisa tidur. Di atas tempat tidurnya ia hanya melamun diri dan memandang ke langit-langit kamarnya. Tiba-tiba ia mendengar suara binatang berteriak kesakitan. Putri segera keluar rumah mencari binatang itu. Dilihatnya di antara semak belukar seekor musang yang kakinya luka tertusuk panah.
"Aaaaaaww.." teriak musang itu.
Karena merasa kasihan, Putri mencabut panah itu dan mengobati lukanya.
Setelah selesai, tiba-tiba saja musang itu beridir dan berbicara.
"Hai nona cantik! Aku sungguh tidak mengenalmu, tapi aku sangat berterima kasih atas segala pertolonganmu."
Dengan sangat ketakutan Putri pun bertanya.
"Musang kecil, kenapa kau bisa berbicara..?"
"Itu tidak penting," jawab si musang.
"Sekarang aku berhutang budi padamu. Sebagai ucapan terimakasihku, ambillah sepotong ranting dan cabutlah sedikit buluku."
Dengan sedikit heran, Putri lalu mengambil ranting dan bulu musang itu. Seketika berubahlah benda itu menjadi sebuah kuas yang sangat indah. Musang itu pun lenyap.
Putri kembali ke rumah dan menyimpan kuas itu di bawah tempat tidurnya.
Suatu hari, saat Putri pulang dari mencari kayu bakar, di dalam rumahnya telah berdiri seorang anak kecil. Pakaian anak itu sangat kumal dan tubuhnya bau. Rupanya pengemis kecil itu baru saja diusir oleh ibu dan saudara-saudaranya, Putri lalu memberinya sepotong kue dan segelas susu.
"Anak kecil, dimana keluargamu..?" Tanya Putri. Tiba-tiba pengemis kecil yang bernama Mardi itu menangis. Ia teringat ketika berpisah dengan kakaknya saat berburu di dalam hutan beberapa hari yang lalu.
Air mata Putri menetes ketika mendengar cerita Mardi. Karena merasa kasihan, Putri meminta izin pada keluarganya untuk menampung Mardi di rumah. Mendengar hal itu, ibu tirinya sangat marah. Demikian juga dengan keempat kakaknya. Putri pun diusir dari rumah itu.
Dengan perasaan sedih Putri meninggalkan rumah bersama Mardi.
"Kakak, maafkan aku. Karena membelaku kakak jadi diusir. Aku berjanji setelah kakakku ditemukan, aku akan membahagiakan kakak!" janji Mardi sambil menangis.
Sepanjang perjalanan, Putri berpikir untuk melukis wajah Mardi. Putri sangat ingin sekali menyebarkan lukisan wajah Mardi ke seluruh kota agar Mardi mudah diketaahui dan ditemukan oleh keluarganya. Tiba-tiba Putri teringat kalau ia tidak bisa melukis. Putri menjadi sedih sekali.
Tetapi ia lalu ingat pada kuas pemberian musang. Dengan dibantu Mardi, Putri mencoba melukis. Ia sangat kaget, karena lukisannya ternyata sangat mirip dengan wajah Mardi. Berkat kuas ajaib itu, putri bisa melukis dengan sangat indah.
Lukisan-lukisan itu lalu mereka tempelkan di sudut-sudut strategis kota. Ketika sedang beristirahat, tidak berapa lama kemudian, datanglah pasukan berkuda dengan seorang pangeran muda yang tampan.
Rupanya pangeran itu adalah kakak Mardi. Mereka berpisah sewaktu berburu di dalam hutan. Karena bantuan Putri, Mardi akhirnya bisa ditemukan. Pangeran sangat berterimakasih pada Putri. Tak berapa lama kemudian pangeran menikah dengan Putri dan mereka hidup dengan bahagia. ***