Oleh: Amrin Tambuse. DALAM beberapa hari belakangan ini, mama seperti tidak menemukan sosok Sisi yang periang. Sisi yang tidak pernah melewatkan hari-harinya dengan bertanya karena keingintahuannya pada Beno dan Agil, kedua kakaknya. Sisi yang sekarang, Sisi yang murung dan pendiam. Tentu saja seisi rumah mendadak khawatir. Terlebih mama dan papa tentunya.
Mama dan papa saling berpandangan ketika Sisi ngeloyor begitu saja ke kamarnya tanpa pamit. Tidak ada lagi cium pipi kiri kanan saat Sisi ingin tidur. Tidak ada lagi kata- kata "selamat malam, Ma, Pa." Tak terdengar lagi kata-kata Ma..!, Pa...!
Cepat papa menahan mama manakala mama ingin bangkit menyusul Sisi ke dalam kamar. Papa tersenyum sambil menggeleng- geleng.
"Barangkali, saat ini Sisi tak ingin diganggu." kata papa.
"Mama khawatir, Pa. Mama mau nanya ada apa sebenarnya sama dia," ujar mama sambil bangkit dari sebelah papa.
Papa tetap menahan agar mama tidak menyusul Sisi ke kamarnya.
"Biarkan saja, Ma. Toh pada akhirnya Sisi akan cerita juga kalau dia punya masalah yang tidak bisa dia tanggung sendiri."
Mama duduk kembali seraya menghela nafas. Biasanya kalau Sisi protes, Sisi selalu mengungkapkan dengan jujur dan terus terang. Tidak pernah ada yang dia simpan- simpan. Tapi kenapa kali ini semua berubah..?
Saat pergi sekolah seperti pagi ini, Sisi lebih menyibukkan diri dengan sepiring nasi goreng dan segelas susu. Mama berharap sekali Sisi mau cerita atau sekedar mengucapkan ‘Mama, antar Sisi ya?’ atau ‘Ma, uang jajan Sisi hari ini ditambah buat ngasi Laila ya?’ Laila, teman Sisi, yang tak pernah diberi uang jajan sama ayah ibunya karena Laila anak orang miskin.
Seperti kata papa, mama cukup menahan diri untuk tidak mendesak Sisi untuk bercerita tentang perubahan yang begitu drastis. Mama coba tersenyum sama Sisi, tapi Sisi membalasnya dengan tatapan dingin. Dan ketika mama bermaksud menambah sesendok lagi nasi goreng ke piring Sisi yang hampir kososng, Sisi malah bangkit dan meninggalkan mama dan papa tanpa sepatah kata pun.
Papa mengedikkan bahu tinggi- tinggi. Namun mama terus didera rasa gelisah. Dan mama nggak mau semua ini berlarut-larut tanpa ada kata penyelesaiannya. Jika dibiarkan berlama- lama juga, takut akan mengganggu perkembangan emosional Sisi. Dan mama, tetap mencaritahu akar persoalannya. Meski pun mama harus mendatangi beberapa teman akrab Sisi. Tentu saja tanpa sepengetahuan Sisi.
Diandra dan Salema, kedua teman Sisi yang didatangi mama, saling berpandangan. Mereka takut kalau membocorkan rahasia ini terhadap mama Sisi. Soalnya Diandra dan Salema sudah terlanjur berjanji pada Sisi untuk tidak membuka rahasia ini.
"Diandra dan Salema sayang sama Tante, kan..?" tanya mama pada keduanya. Sekali lagi, mereka saling berpandangan.
Diandra mendegut ludah. Melihat wajah sendu mama Sisi seperti itu, rasanya nggak tega juga. Diceritain apa tidak ya..? Kata hati Diandra ragu juga takut. Sisi lain, Diandra coba belajar mempertanggungjawabkan amanah. Sisi lain, Diandra nggak tega membiarkan mama Sisi mengiba seperti itu.Akhirnya, Diandra dan Salema memilih yang pertama. Mereka tetap teguh menyimpan rahasia itu. Apa boleh buat.
Sorenya mama memasuki kamar Beno dan Agil, kedua kakak Sisi. Mana tahu Beno dan Agil lebih tahu dari mama tentang perkembangan Sisi yang tidak biasanya.
"Mama cemas lihat perubahan Sisi. Apa kalian tahu kenapa Sisi berubah begitu..?" mama duduk di antara Beno dan Agil. Agil menghentikan main game-nya di laptop demi mencurahkan perhatiannya pada mama. Sedang Beno menurunkan buku pelajarannya dan meletakkannya di atas karpet.
Sebelum coba menjawab, Agil tertunduk sesaat. Tampaknya Agil berat untuk mengatakannya pada mama. Sebenarnya, masalahnya ringan aja. Cuma karena Sisi tidak mampu memecahkannya dan tak mau berbagi, akhirnya terasa berat untuk Sisi hadapi sendiri. Padahal Beno dan Agil sudah menawarkan diri membantu memecahkan persoalan itu.
Mama menarik nafas lega setelah Beno dan Agil menceritakan semuanya. Mama menggeleng-geleng kepala. Kalau cuma masalah itu, kenapa Sisi pake diam-diam begitu. Kalau mama ceritain nanti sama papa, papa pasti tersenyum-senyum. Ih, ada- ada saja si Sisi itu. Benar saja dugaan mama, papa tersenyum lebar seusai mama menceritakan semuanya di ruang perpustakaan kecil milik papa.
"Kalau hanya itu, kenapa Sisi diam dan enggan menegur kita, ya..?" papa melepaskan kaca mata minusnya. Tapi papa paham kok.
"Terus gimana, Pa..?" tanya mama sambil menyuguhkan segelas kopi panas pada papa.
"Apa mama sudah siap..?" papa malah balik bertanya.
"Sisi sudah sembilan tahun, ya. Dan dokter melarang mama agar jangan punya bayi lagi. Atau sebaiknya kita bicarakan sama Sisi agar Sisi lebih memahami kenapa sampai kini dia belum juga diberi adik." Saran mama pada papa.
"Ya. Sebaiknya kita bicarakan saja sama Sisi. Kalau dia berkeras mau punya adik juga, kita bisa adopsi anak dari pasangan tidak mampu dan tentu saja ikhlas memberikan anaknya pada kita."
Akhirnya Sisi mengerti ketika mama dan papa menceritakannya. Mama kini merasa lega. Sisi kembali seperti sedia kala. Hangat dan riang. Apalagi mama dan papa mengadopsi seorang bayi dari salah satu keluarga pemulung. Bayi mungil perempuan itu diberi nama ‘Amanah’.
Di ambang pintu kamar, mama dan papa saling berangkulan. Mereka semakin senang. Soalnya, semangat belajar Sisi semakin meningkat. Prestasi belajarnya melonjak.Rasa tanggung jawab Sisi dengan tugas- tugasnya pun, tak diragukan lagi. Meski pun ada bik Iras, si pengasuh Amanah, Sisi tak mau ketinggalan membantu.
Rahasia hati Sisi kini telah terungkap. Semoga Sisi menyayagi Amanah sampai kapan pun. Dan menganggap Amanah sebagai adik kandungnya sendiri. Mama papa berjanji memberikan pendidikan yang terbaik buat mereka semua. ***