Oleh : An’nisa. WALAU ada yang menggangunya di jalan atau kebetulan ada orang gila yang melintas, buat Riki sudah menjadi hal biasa.Riki sudah mampu mengatasi sesuatu yang terjadi. Apabila ada anak jalanan yang nakal, ia tidak acuh sepanjang tidak mencederai atau mengambil barangnya.
Demikian pula apabila ada kebetulan orang gila hilir mudik di jalur jalan yang dilintasi Riki, ia berupaya menghindar. Saat pulang sekolah Riki tidak minta dijemput ayah atau abangnya. Padahal ia tahu abangnya Rico tidak ada kerjanya, sehabis mengantar atau menjemput ibu ke pasar ia paling main game di komputer.
Walau Riki putra bungsu, ia tidak memperlihatkan sikap cengeng di lingkungan keluarga. Sejak duduk di kelas III SD ia ingin menunjukan, tidak usah diantar jemput ia sampai juga di rumah dengan aman.Semula Riki terpicu oleh ucapan teman-temannya mula-mula ia duduk di kelas III SD itu. Beberpa orang temannya menyebutnya anak mama ketika mama pada siang itu menjemputnya pulang sekolah.
" Wou, wou...! anak mama ni ye...! kapan berenti dodotnya..?" ejek Eman teman satu kelasnya.
"Sok usil kamu, mau anak mama, anak papa itu urusanku," tantang Riki pada waktu itu.
Masih segar dalam ingatannya ketika ia diejek Eman dan teman- teman lainnya. Waktu itu Riki tetap melakukan perlawanan. Namun perlahan dipikirkannya, apa yang dilakukan teman-temannya itu menjadi pemicu agar ia tidak cengeng baik di ru- mah maupun di lingkungan sekolah dan pergaulannya.
Sebenarnya, sejak itu Riki sudah termotifasi.Namun secara jujur ia tidak mau mengakui itu kepada eman dan teman-teman lainnya.
Selain itu, Riki mendapat pengalaman dari Dedi. Siang pada jam istirahat itu Dedi bercerita kepada Riki bahwa abang sedang menjalani perkuliahan di Bandung, jauh dari orangtua.
"Abangku pernah bercerita, tahun-tahun pertama ia kuliah di Bandung," urai Dedi mengungkap cerita abangnya.
"Abangmu bercerita apa..?" desak Riki ingin segera tahu.
"Tahun pertama ia di kota hujan itu, untuk masak nasi saja ia tidak pandai. Itulah gunanya sejak SD perlu aktif di Pramuka itu.Hampir setahun lamanya ia makan di warung, padahal mama sudah berpesan agar hemat hidup di rantau. Abangku Zul kuliah di Bandung dan kakakku Rina kuliah di Pekanbaru. Tentu orangtua berat memikirkan itu yang hanya status pegawai kecil di kantor pemerintahan," urai Dedi.
"Jadi gimana cara abangmu bisa masak sendiri.Apa sebelum-nya mamapu mengajari abangmu bagaimana cara masak nasi..?" tanya Riki.
"Abangku pandai masak nasi setelah belajar dari teman-teman kuliahnya yang sama-sama berasal dari Medan," terang Dedi.
"Begitulah kalau hidup di rantau jauh dari orangtua, masak sendiri, nyuci sendiri, makan sendiri," timpal Riki yang dari cerita Dedi itu menambah pengalamannya.
Dari berbagai motivasi itu menjadi daya dorong dalam bersikap menjadi mandiri. Apalagi nantinya setelah lulus SMA ia bercita-cita akan melanjutkan studi ke Pulau Jawa, apakah di Bandung atau Yogyakarta masih jadi pertimbangan kelas setelah usia menjelang dewasa.
Setelah bersikap ingin mandiri, memang bukan sedikit tantangan yang dialami dan dihadapi Riki. Pernah suatu hari Riki nyaris pingsan setelah sampai di rumah. Hari itu ia menolak dibekali mama nasi bontot dalam tas, Riki berpikir lebih cepat dan praktis nanti sarapan di kantin sekolah.
Tiba pada jam istirahat Riki merogoh kantongnya. Rupanya uang jajan yang ia persiapkan tidak dibawa, terselip pada kantong celana lain yang masih teregantung pada sangkutannya di dalam kamar. Jadilah pada hari itu, ia praktis tidak sarapan dan tidak makan apa-apa.
Beberapa orang teman me- ngajaknya ke kantin sekolah. Ada yang menawarkan siap mentraktir teman-teman lainnya, termasuk Riki yang diajak bersama. Namun prinsip Riki ia lebih baik memberi daripada menerima dari teman-temannya. Prinsip itu ia pegang kuat walau ia dalam keadaan lapar. Selama dalam perjalanan pulang sekolah perutnya keroncongan ditambah masuk angin karena perut yang kosong.Tiba di rumah wajahnya sudah pucat.
Begitu selesai makan siang Riki terus makan obat, setelah salat suhur lalu tidur siang.
Sore hari Riki pergi ke lapangan bola kaki. Setiap sore Rido ada di tempat itu, namun bukan bermain bola. Rido yang anak yatim itu mengangon kambing kepunyaannya sebanyak 12 ekor.
Semula kambing itu hanya tiga ekor, pemberian paman Rido. Setelah dipelihara dengan tekun, mulai dari siang hingga sore diangon didekat lapangan bola. Kambing milik Rido cantik-cantik dan gemuk.
Rido bercita-cita, kelak setelah kambingnya berkembang biak sebahagian ia jual untuk biayanya kuliah.
"Kelak setelah lulus SMA, aku kuliah di Medan saja Ki...! Selain tetap ingin mengembangbiakkan kambing juga membantu ibu bekerja untuk biaya adik-adik yang masih sekolah," ujar Rido sendu nyaris menitikkan air mata mengingat ia yang masih yatim dengan dua adik yang masih ke- cil -kecil.
"Dimana saja kelak kuliah, itu sama saja, semua itu tergantung ketekunan kita," ujar Riki seraya menepuk-nepuk pundak Rido.
Rido memang anak yang rajin, pintar di sekolah dan tidak mau membuang-buang waktu secara sia-sia. Di sekitar tempatnya mengangon kambing terdapat lapangan bola, namun ia tidak tertarik untuk bermain bola dengan teman-temannya. Sudah berulangkali Ewin mengajaknya bermain bola, namun masih dapat ditolaknya secara halus. Rido dan Ewin sahabat karib sejak kecil, namun Ewin tanggap akan nasib sahabatnya itu. Sejak ayah Rido wafat setahun lalu ia lebih banyak bekerja fokus membantu ibu.
Keadaan yang menempa Rido harus mandiri, mengurai masa depan yang tidak mendapat bim-bingan dari sang ayah. Berbeda dengan Riki yang masih memiliki kedua orangtua dan penghasilan orangtuanya cukup memadai untuk membiayainya dan saudaranya ke perguruan tinggi. ***