Oleh : Jekson Pardomuan. Benarkah sampai hari ini Anda dan pasangan Anda masih saling mengasihi dengan sepenuh hati - Masihkah seorang suami mengasihi isterinya - Mengasihi anak-anaknya, orangtuanya, saudara-saudaranya atau teman-temannya - Apakah hari ini Anda masih menyimpan sebuah kebohongan terhadap suami atau isteri, anak-anak atau teman-teman - Membohongi suami, isteri atau anak-anak berarti kita telah membohongi diri sendiri. Mungkin, jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, kebohongan itu tak akan ada yang tahu kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa.
Banyak sekali contoh-contoh kasus nyata yang bisa kita jadikan pelajaran untuk menuju sebuah perbaikan. Acara GOSIP di televisi banyak mengungkap kasus-kasus selingkuh, perceraian para selebritis dan acara-acara lainnya yang mengungkap kasus-kasus perceraian dan perselingkuhan di tengah-tengan keluarga pejabat dan public figure.
Di dalam Alkitab ada beberapa ayat yang mengingatkan kita untuk tetap saling mengasihi dengan sepenuh hati. Yohanes 13 : 34-35 "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."
Kemudian, dalam I Petrus 1 : 22 dituliskan "Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu."
Dalam sebuah kesempatan, seseorang mengirimkan sebuah cerita kebajikan dan wujud dari kasih sayang yang tulus terhadap seseorang. Dalam cerita itu dikisahkan seorang pemuda tampan menyampaikan rasa sayangnya terhadap seorang gadis cantik tapi tak bisa melihat (tunanetra). Pemuda tersebut mengajak si gadis untuk menikah. Tapi, si gadis meminta satu hal. Dan berjanji akan menikah dengan pemuda itu ketika suatu waktu nanti ia bisa melihat.
Si pemuda tadi berusaha untuk mencarikan donor mata, sampai suatu waktu ia mendapatkan donor dan si gadis cantik yang tadinya buta sekarang sudah bisa melihat dunia. Lalu, si pemuda tadi menagih janjinya untuk menikah dengan si gadis. Jawaban si gadis sangat singkat. "Mana mungkin saya menikah dengan laki-laki yang buta !" katanya.
Mendengar jawaban itu, si pemuda langsung pergi dan mengucap syukur kepada Tuhan karena telah berhasil membantu seorang gadis bisa melihat. Beberapa hari kemudian, si gadis bertanya kepada dokter yang merawatnya. "Siapakah orang yang telah tulus mendonorkan matanya hingga akhirnya saya dapat melihat ?" tanya si gadis. Dengan berat hati dokter menegaskan bahwa orang yang telah rela mendonorkan matanya untuk si gadis adalah pemuda yang beberapa hari lalu menagih janji untuk menikah.
Mendengar pengakuan dokter, si gadis terkejut. Ia merasa bersalah telah mengingkari janjinya. Ia tidak tahu kalau organ mata yang sekarang ia gunakan untuk melihat dunia adalah milik si pemuda yang tulus itu. Berhari-hari ia mencari informasi tentang pemuda itu, tapi tak juga ia temukan. Perasaan bersalah si gadis semakin berkepanjangan. Ia baru sadar, bahwa wujud dari kasih sayang yang tulus dari si pemuda tadi adalah mau mengorbankan matanya untuk orang lain.
Di tengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini, banyak sekali anak-anak Tuhan seperti si gadis ini. Ketika masih terpuruk, miskin dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan, lalu datang pada Tuhan meminta pertolongan. Saat meminta pertolongan pada Tuhan, kita sering mengucapkan janji-janji palsu. "Tuhan, berkatilah keluargaku, berikan pekerjaan yang lebih baik dan penghasilan yang besar. Saya berjanji pada Tuhan akan memberikan perpuluhan, membantu orang miskin, menolong orang yang kesusahan."
Ketika Tuhan menjawab doa kita dan memberikan harta berlimpah, kita sering lupa dengan janji kita pada Tuhan. Bahkan, di saat kita baru saja menerima berkat dan ada orang lain yang meminta bantuan kita cenderung berdusta dan mengatakan tidak ada uang. Sudah menjadi hukum alam ketika seseorang menjadi sangat kaya, maka ketakutannya akan semakin besar. Ketakutan akan kehilangan hartanya.
Amsal 28 : 27menuliskan, "Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki." Kiranya renungan Minggu ini membuka wawasan berpikir kita tentang pentingnya saling mengasihi dengan sepenuh hati, menepati janji yang telah diucapkan dan terus berserah kepada Tuhan.
Amin.