Catatan Chairul Azmi Hutasuhut. Bersyukur dan Bersukacita. Dua ungkapan perasaan ini pantas ada pada diri kita, menyusul tuntasnya penyelenggaraan SEA Games XXVI/2011 di Palembang-Jakarta, dan terpenuhinya target menjadi juara umum pada pesta olahraga multi event paling bergengsi di Asia Tenggara ini.
Yang namanya "pesta", tentu satu dan lain hal ada kurang lebihnya. Tergantung dari arah mana kita melihat dan menyikapinya. Namun kerja keras yang telah dilakukan menjamu patriot-patriot olahraga dari seluruh negara ASEAN, patut diberi apresiasi. Apalagi, tuan rumah Indonesia sukses menjadi tuan rumah dengan torehan medali emas lebih dari 180 keping.
Momentum juara umum SEA Games XXVI/2011, setelah terakhir kali Tahun 1997 di Jakarta, harus kita jaga. Semangatnya mesti tetap ada untuk membangun dan menjadikan olahraga Indonesia lebih kokoh, berkembangan dan berprestasi di masa mendatang.
Poin pertama yang patut dipetik dari keberhasilan juara umum SEA Games tahun ini adalah bukti bahwa anak bangsa (baca; atlet-atlet) kita punya potensi, dan bisa. Selanjutnya, pemerintah dan seluruh komponen olahraga baik KOI maupun KONI, Pengurus Besar/Pengurus Pusat Olahraga dan lainnya, mesti sepakat SEA Games bukanlah akhir segalanya. Selaku negara besar, Indonesia sudah selayaknya berprestasi di tingkat lebih tinggi, seperti Asian Games bahkan Olimpiade.
Sejalan dengan itu, Pemerintah bersama segenap unsur-unsur lainnya yang terlibat di olahraga, sudah selayaknya melakukan terobosan dengan membuat grand desain pembangunan olahraga Indonesia untuk 25 tahun ke depan.
Grand desain ini tentunya, tidak hanya menjadi landasan dalam pembinaan atlet, tapi juga menyangkut sarana/prasarana, iptek olahraga serta faktor-faktor pendukung lainnya.
Grand desain pembangunan olahraga Indonesia ini dipandang perlu, sebab penangan olahraga, tidak bisa dilakukan secara sambilan, jika memang ingin berprestasi. Olahraga harus ditangani secara fokus dan terarah, dengan program-program berkesinambungan.
Jauh sebelum ini, sempat tersosialisasi rencana Pemerintah (cq Menpora) untuk membagi sentra-sentra pembinaan olahraga, baik untuk wilayah barat, timur dan tengah. Pembinaan cabor-cabor olahraganya, juga disesuaikan dengan karakteristik, watak dan popularitas cabang olahraga bersangkuta di wilayah-wilayah tersebut.
Namun sayang, program yang sangat baik itu hingga kini belum terwujud. Padahal sudah banyak dana negara tersedot untuk rapat, seminar atau dialog dan kegiatan-kegiatan sejenis lainnya untuk meminta masukan dari semua provinsi guna mematangkan rencana di atas.
Tapi sudahlah, cerita lama tak perlu dikenang. Lebih baik kita memantapkan langkah-langkah berikut yang harus dilakukan untuk mewujudkannya.
Kemauan atau political will pemerintah dalam membangun olahraga mutlak diperlukan. Langkah yang dilakukan selama ini, mengirim atlet berlatih ke luar negeri jelang menghadapi event-event besar, sepertinya mesti lebih divariasikan, sehingga tak timbul kesan kita tidak mampu menciptakan formula baru.
Pemerintah maupun badan non government yang dipercayakan menangani olahraga prestasi, harus berani menetapkan skala prioritas dalam memberi bantuan pembinaan olahraga.Selama ini, ada kesan, fokus pembinaan hanya ada pada cabor-cabor tertentu dan favorit, padahal prestasinya tak begitu membanggakan.
Sekali lagi, kita patut bersukacita menjadi juara SEA Games, tapi kita jangan puas dan terhenti. SEA Games baru merupakan sukses awal untuk meraih sukses lebih besar. Semoga. **