Pematangsiantar, (Analisa). Walikota Pematangsiantar Hulman Sitorus SE mengatakan, guru harus bertanggungjawab dalam pembentukan masa depan bangsa. Untuk itu, guru harus dapat merasakan dan menyentuh pinggiran masa depan melalui persinggungan peserta didiknya dengan menyiapkan generasi penerus yang lebih baik.
Hal itu disampaikan saat membacakan sambutan Menteri Pendidikan pada HUTke-66 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) di GOR Jalan Merdeka, Rabu (30/11).
"Kemampuan guru menyentuh masa depan, walaupun hanya pinggirannya, menempatkan rasa tanggung jawab yang besar, namun mulia, sebab kemampuan dan kesempatan tersebut tidak dimiliki yang lain. Pada dirinya tertumpu beban tanggung jawab menyiapkan masa depan yang lebih baik, yaitu dengan berfungsi sebagai jembatan bagi peserta didik untuk melintas menuju masa depan mereka," ujar walikota.
Bertanggung jawab terhadap pembentukan masa depan, tambah walikota, menunjukkan guru berbeda dari profesi lainnya. Sebab itu, tidak berlebihan bila sebagai profesi, guru mendapat kehormatan memiliki"Hari Guru". Kehormatan yang tinggi ini memiliki implikasi pentingnya profesionalitas guru.
"Saya hormat dan terharu melihat perjuangan guru dalam mendidik para murid. Saya juga seorang murid yang kini menjadi walikota, terima kasih guruku,"ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan kota Pematangsiantar Drs Satia Siagian menjelaskan, profesionalitas guru akan terasa hasilnya pada masa depan, yang bila salah arah, akan mustahil diputar kembali untuk memperbaikinya, karena pendidikan adalah proses yang tidak bisa balik.
"Dampaknya yang massif di masa yang jauh di depan mengharuskan upaya pemeliharaan dan peningkatan profesionalitas guru yang dilakukan secara berkelanjutan dan seksama. Kita tidak boleh terjebak hanya karena pertimbangan kepentingan praktis sesaat," ujarnya.
Ketua PGRI Drs Daniel Siregar mengatakan, ke-depan bukan hanya kesiapan yang akan diukur, tetapi lebih jauh lagi adalah kelayakan seseorang menjalani profesi guru.
"Dengan cara ini, kita dapat menjamin bahwa guru, selain karena panggilan hati nurani, ia telah siap dan layak menjalani profesi guru. Pemberian perhatian secara khusus mulai dari perekrutan calon guru, pendidikan guru, peningkatan profesionalitas, sampai dengan perlindungan dan kesejahteraan guru harus dilakukan," katanya.
Daniel Siregar mengatakan, kelayakan menjalani profesi guru sangat diperlukan mengingat tugas guru memiliki ukuran multi-dimensional yang sangat kompleks dan terkait dengan penyiapan generasi penerus yang lebih baik dalam segala hal.
Ketidaklayakan guru, bisa berakibat terjadi kecacatan dalam proses pembentukan pola piker, pengasahan mata hati, dan pembiasaan prilaku sosial peserta didik.
"Tahun 2012, kita akan melaksanakan pelatihan guru agar lebih professional," katanya.(tps)