17
Mei
 
A A A
Renungan Minggu - Minggu, 04 Des 2011 00:04 WIB
Oleh : Jekson Pardomuan. Kemarin, tanggal 25 November 2011 kita memperingati Hari Guru Nasional. Penghargaan tertinggi kepada pahlawan tanpa tanda jasa ini adalah anak-anak didiknya bisa berhasil menjadi berguna bagi bangsa dan negara. Ketika seorang guru melihat anak didiknya berhasil menjadi seorang jaksa, polisi, pemimpin perusahaan atau menjadi seorang guru/dosen mengikuti jejaknya, satu hal akan terucap di lubuk hati mereka yang paling dalam. "Saya bangga bisa mengantarkan mereka untuk mewujudkan cita-citanya," demikian yang terucap di sanubari seorang guru.
Sama halnya dalam kehidupan kita sehari-hari, ada banyak hal sebenarnya yang bisa menjadi guru bagi perjalanan hidup kita. Guru dalam hal ini tidak boleh menganggap dirinya paling benar. Guru yang baik adalah guru yang selalu mau belajar dan belajar untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangannya. Kita semua adalah guru bagi diri sendiri, guru bagi anak-anak dan keluarga. Guru harus jujur dan rendah hati.

Guru juga sangat identik dengan sosok pemimpin, guru yang benar-benar adalah guru yang tidak pernah mengganggap dirinya paling benar. Mungkin, dari antara kita pasti pernah menemukan sosok guru yang menganggap dirinya paling benar. Setiap kali mengajar, sosok guru yang menganggap dirinya paling benar biasanya akan ditakuti oleh siswa. Kalau ujian, jawaban harus persis sama dengan yang ada di buku pengantar. Guru seperti ini adalah guru yang ingin mematron kita seperti dirinya sendiri. Sekarang ini, bukan jamannya lagi guru memaksakan keinginannya terhadap siswa harus begini dan harus begitu.

Di beberapa sekolah saat ini, guru yang menganggap dirinya paling benar sudah tak berlaku lagi. Karena, lambat laun mereka akan ditinggal oleh murid-muridnya. Di kehidupan kita sehari-hari pun, tidak ada gunanya lagi kita merasa paling benar, paling bisa, paling hebat dan yang lainnya.

Dalam Ayub 32:1-2 dituliskan "Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar. Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah.

Kemudian dalam Lukas 18 : 9 ada ditulis "Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Refleksi dari perumpamaan ini terhadap kehidupan kita di jaman sekarang adalah, agar kita jangan terlalu menyombongkan diri dengan apa yang ada pada kita. Kalau dibuat perbandingan orang yang rendah hati dengan orang yang tinggi hati pasti perbedaannya sangat jauh. Tak perlu jauh-jauh untuk mencari contoh. Di beberapa gereja masih saja ada ditemukan orang-orang seperti ini. Dia beranggapan, dengan kekayaan dan uangnya ia bisa mengatur seluruh jemaat untuk mengikuti kemauannya.

Bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Mungkin hari ini kita bisa sangat sombong dengan prestasi atau kekayaan yang kita punya. Tapi siapa yang tahu rencana Tuhan kalau dalam waktu beberapa bulan atau tahun ke depan kita kembali jatuh miskin atau uang yang kita punyai habis hanya untuk membiayai diri kita sendiri karena jatuh sakit ?

Oleh sebab itu, seperti tertulis dalam 2 Timotius 2 : 22 "Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni." Kemudian dalam Daniel 5 : 20 dituliskan "Tetapi ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya."

Filipi 4 : 4 menguatkan kita dengan ayatnya "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" Bersukacitalah dengan keberadaanmu sekarang, bersukacitalah dengan berbagai pencobaan yang datang dalam setiap gerak langkah kehidupan kita. Tuhan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Sekali lagi, Tuhan mengingatkan agar kita jangan pernah merasa paling benar dan menganggap diri paling benar. Amin.

Baca Juga Artikel Berita Terkait
Selasa, 15 Mei 2012 00:13 WIB
Rabu, 02 Mei 2012 00:01 WIB
Sabtu, 28 Apr 2012 06:59 WIB
Sabtu, 28 Apr 2012 06:57 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris