17
Mei
 
A A A
Tinjauan Bahasa - Senin, 05 Des 2011 07:50 WIB
Oleh : S. Sahala Tua Saragih. Thailand dilanda banjir bandang. Indonesia telah, sedang, dan akan terus dilanda istilah (bahasa) asing, terutama bahasa Inggris. Simaklah judul-judul berita di lima media cetak harian berikut ini.
BUMN Minta Pencairan Dana PSO Dipermudah (Koran Tempo, 27/10), IBM Tunjuk CEO Perempuan (Koran Tempo, 27/10), Ciputra Property Siapkan Buyback Sahamnya (Koran Tempo, 26/10), Persisam Menang WO (Koran Tempo, 26/10), Angka Fertilitas Stagnan (Kompas, 27/10), Freeport Force Majeure (Kompas, 27/10), Periksa Semua Armada Busway (Kompas, 26/10), Revolusi Lari dan Ingatan People Power (Kompas, 26/10), Efek Moratorium TKI (Kompas, 25/10), Pemprov DKI Tidak Serius Benahi Busway (Kompas, 25/10), Endriadi Grogi Tampil di Palembang (Kompas, 25/10), JK, Komodo dan New Economy (Kompas, 23/10), JORR W2 Beroperasi Tahun 2013 (Kompas, 22/10), dan Quo Vadis Wayang Indonesia? (Kompas, 21/10).

Contoh-contoh lainnya, Freeport Umumkan Force Majeure (Media Indonesia, 27/10), Reshuffle Kabinet Upaya Yudhoyono Menjinakkan DPR (Media Indonesia, 26/10), Feeder bakal Hadir di Jakarta Utara (Media Indonesia, 26/10), Refinancing Dorong Bisnis Pembiayaan (Republika, 27/10), Swap Gas Mulai Pekan Ini (Republika, 27/10), Trafficking Jabar Tertinggi (Republika, 27/10), Jalur Pantura Sering Rusak Akibat Overload (Republika, 27/10), Layanan EDC Mobile Manjakan Nasabah Bank BJB (Republika, 27/10), Tim SAR Berjuang Melawan Waktu (Republika, 26/10), Holding BUMN Dibentuk 2012 (Republika, 26/10), IPO Viva Cukup Prospektif (Republika, 26/10), CSR Bank BJB Seragamkan Ukuran Sepatu Cibaduyut (Republika, 25/10), UU Pemilu dan Mission Impossible (Republika, 25/10), Hilangkan Threshold, Bereskan Alokasi Kursi (Republika, 25/10), In House Training kegawat-daruratan di STIKES DHB (Republika, 25/10), dan Tetap Funky dengan Seni Tradisi (Republika, 22/10).

Berikut ini contoh dari koran Bandung, Pikiran Rakyat. Jabar Surga Pelaku Trafficking (27/10), Industri Content Provider Terancam Kolaps (22/10), Dan Rivanto, Mereset Broadcast tidak Mudah (22/10), Optimalkan Islamic Center (22/10), dan Raih Medallion of Excellence di Worldskills Competition 2011 (25/10).

Kelima koran/tabloid harian yang saya kutip di sini, menurut Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional (kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), tergolong media cetak harian berbahasa terbaik dan sangat baik tahun lalu. Peringkat pertama hingga kesepuluh media cetak yang dinilai berbahasa terbaik dan sangat baik tahun 2010 sebagai berikut: Koran Tempo, Kompas, Media Indonesia, Republika, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, dan Jawa Pos Surabaya. Koran Tempo selama empat tahun berturut-turut (2007, 2008, 2009, dan 2010) dinilai terbaik dalam berbahasa. Tahun ini dan sebelum tahun 2007 Kompas beberapa kali dinilai berbahasa terbaik.

Bahasa asing dalam teras dan tubuh berita media massa cetak tentu jauh lebih banyak daripada dalam judul-judul berita. Banjir bahasa asing tentu jauh lebih parah di media massa elektronik dan dalam jaringan daripada di media massa cetak. Bahasa asing dalam media massa bukan karya para wartawan saja melainkan juga karya para pekerja media massa lainnya (antara lain penyiar dan pembawa acara di televisi dan radio siaran), sumber-sumber berita, narasumber, pembuat iklan, penulis artikel, dan siapa saja yang bisa tampil (menulis/berbicara) di media massa.

Beberapa tahun ini banjir bahasa asing melalui media massa, terutama televisi, semakin parah. Sadar atau tidak sadar kita setiap hari dilanda banjir bahasa asing, terutama bahasa Inggris, sehingga dalam komunikasi sosial sehari-hari kita sangat akrab dengan kata-kata asing tersebut. Kita memperlakukannya sama dengan bahasa kita sendiri. Hal yang sangat memprihatinkan kita, tak sedikit orang yang merasa sangat terpelajar atau hebat bila mampu menggado-gadokan bahasa Indonesia/daerah dengan kata-kata asing.

Simaklah banyak contoh ini: gas elpiji (maksudnya LPG - liquid petroleum gas), naik busway, Car Free Day (padahal sepeda motor juga dilarang ke kawasan yang dimaksudkan), kawasan Three in One (padahal bisa jadi satu mobil ditumpangi empat-enam orang), naik travel, incumbent, PT (parliamentary threshold), hattrick, agregat, assist, top, top scorer, top hits, tribute to, featuring, siaran live.

Tentu masih sangat banyak contoh berbahasa buruk (kata-kata asing) yang membanjiri kita setiap hari. Mau lihat buktinya? Simaklah kata-kata asing berikut. Life style, cat walk, fried chicken, fashion show, road show, press release, press gathering, press conference, press room, SPG (sale promotion girls), sale (bukan makanan tradisional), meng-counter, kick balik, mulai start, mencuri start, di-forward, di-scan, di-download, di-upload, dan lainnya.

Contoh di atas hanyalah sebagian kecil istilah asing yang telah cukup lama menjajah kita. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya banjir istilah asing yang melanda masyarakat Indonesia dalam belasan tahun ini melalui media massa, terutama melalui/oleh puluhan stasiun televisi swasta nasional dan daerah serta ribuan stasiun radio swasta lokal dan yang berjaringan nasional, di samping media massa cetak asing (terjemahan) waralaba. Banjir kata Inggris ini semakin dahsyat setelah kehadiran telepon selular (hand phone) dan jejaring atau media sosial bernama facebook serta twitter. Kini semua lapisan warga masyarakat, tak terkecuali lapisan terbawah (orang-orang miskin), tanpa disadari telah menjadi korban banjir istilah asing. Para wartawan dan pekerja media massa lainnya, perusahaan-perusahaan periklanan, perusahaan-perusahaan film, penerbit buku-buku, dan rumah-rumah produksi, menjadi produsen dan penyalur utama kata asing tersebut.

Fenomena atau gejala ini tanpa disadari secara perlahan-lahan telah membunuh banyak sekali kata asli Indonesia (Melayu dan bahasa-bahasa daerah) yang telah hidup selama puluhan tahun. Mereka memang bisa saja berkilah dengan mengatakan, bahwa mereka hanya mencerminkan realitas berbahasa yang sesungguhnya yang terjadi (ada) di tengah-tengah masyarakat Indonesia kini, terutama mereka yang sering sekali menjadi sumber berita atau tampil berbicara/menulis di media massa. Akan tetapi, menurut kita, sebenarnya para wartawan dan pekerja media massa lainnya, penerbit buku, pembuat iklan, pembuat film dan Sinetron bukanlah cermin pasif masyarakat. Semua pihak tersebut adalah agen pelestarian dan sekaligus agen perubahan kebudayaan Indonesia, termasuk bahasa Indonesia. Mereka seharusnya menciptakan terjemahan atau padanan kata-kata asing.

Ratusan kata asing, termasuk yang salah pakai atau "sok nginggris", yang secara intensif digunakan oleh para wartawan dan para pekerja media massa lainnya, pembuat film dan Sinetron, pembuat iklan, dan penulis buku, cepat atau lambat, suka atau tidak suka, niscaya diterima dan dipakai oleh para warga masyarakat Indonesia tanpa membeda-bedakan status. Begitu sangat biasanya kata-kata asing itu mereka serap dari media massa setiap hari, sehingga mereka tidak menganggapnya lagi sebagai bahasa asing. Kebiasaan berbahasa buruk dan salah mereka yang bergerak dalam dunia komunikasi massa dengan cepat ditiru khalayak (warga masyarakat). Ini membuktikan betapa besarnya pengaruh media terhadap khalayak dalam hal berbahasa. Namun sayang sekali, pengaruhnya justru bersifat negatif, yaitu memerosotkan kesadaran, kemampuan, dan perilaku berbahasa Indonesia warga masyarakat Indonesia, terutama kaum muda (siswa dan mahasiswa) sebagai pewaris serta pelestari kebudayaan Indonesia.

Para warga masyarakat atau khalayak media massa memang dapat belajar banyak hal kepada media massa, namun sayangnya sering sekali media massa mengajarkan hal-hal yang buruk dan salah, bahkan sering menyesatkan khalayak, termasuk dalam hal berbahasa. Ini jelas berdampak buruk terhadap khalayak, terutama khalayak yang tidak/kurang terdidik (terpelajar), tidak/kurang melek media atau yang bersikap tidak/kurang kritis terhadap sajian media massa, termasuk bahasa.

Menurut penulis, tidak mus tahil media massa selama ini memiliki "dosa" atau andil besar/kecil dalam kegagalan mayoritas siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan yang sederajat dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan yang sederajat dalam ujian nasional (UN). Seperti selalu diberitakan media massa setiap usai pengumuman hasil UN, nilai terendah para peserta UN senantiasa pada mata pelajaran bahasa Indonesia (bukan bahasa asing) dan matematika. Tak sedikit siswa yang gagal UN karena nilai buruk mereka pada kedua mata pelajaran tersebut. Kegagalan atau nilai buruk pada mata pelajaran matematika tampaknya masih dapat dimaklumi. Akan tetapi bagaimana dengan mata pelajaran bahasa Indonesia? Mengapa nilai mata pelajaran bahasa asing (Inggris) siswa umumnya bagus, bahkan nilai sebagian siswa sangat bagus, sedangkan nilai mata pelajaran bahasa nasional sendiri umumnya buruk, bahkan sangat buruk? Dampak buruk media massa terhadap kemampuan berbahasa para siswa tentu perlu diteliti secara imiah oleh para ilmuwan terkait.

Apakah kita sungguh-sungguh mencintai Indonesia? Apakah kita bangga menjadi orang Indonesia? Bahasa kita kini telah menjawabnya. ***

Penulis adalah dosen Jurusan Jurnalistik, Fikom Unpad Bandung dan Jatinangor
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris