PARA pejabat Thailand bidang satwaliar menyatakan Kamis, bagian-bagian tubuh bangkai seekor gajah liar yang ditemukan tanpa gading, ekor dan kemaluannya kemungkinan besar akan dijual ke restoran-restoran di daerah-daerah wisata.
Makhluk itu, yang ditemukan di Taman Nasional Kaeng Krachan dekat perbatasan Myanmar di Thailand tengah pada Senin lalu, diyakini mati di tangan sebuah kelompok pemburu liar setempat.
"Mereka memotong gading, belalai, organ seksual dan ekornya. Bagian-bagian yang dimutilasi itu pasti dijual pada agen dan akan dikirim ke restoran di berbagai daerah wisata seperti Phuket, Surat Thani dan Hua Hin," ungkap kepala taman nasional itu Chaiwat Limlikhitaksorn.
"Ada satu tim pemburu gajah di kawasan ini. Mereka merupakan orang-orang tanpa kewarganegaraan yang tinggal di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar," imbuhnya.
Departemen satwaliar telah menemukan empat bangkai gajah yang dibunuh para pemburu liar dalam tiga tahun terakhir.
Salahkan
Chaiwat menyalahkan hukum yang tidak efektif atas meningkatnya kejahatan itu dan menyebut lebih 250 gajah liar dan para petugas dalam bahaya.
Thailand dikenal sebagai pusat global perdagangan gading gajah, dengan penyitaan gading naik dramatis dalam beberapa tahun belakangan ini karena kepunahan gajah di negara kerajaan itu mendorong para pemburu berpaling ke Afrika untuk melakukan kejahatan mereka.
Negara itu memiliki tradisi mengukir gading sejak menjelang akhir abad ke-19 ketika sekira 100.000 ekor gajah berkeliaran di kerajaan tersebut.
Sejak itu sebagian besar gajah telah hilang di tangan pemburu liar dan akibat pembabatan hutan habitatnya, dan kini jumlah gajah yang tersisa hanya ribuan ekor saja, banyak darinya bekerja di industri turisme.
Karena faktor lokasinya yang strategis, Thailand mengekspor banyak dari gadingnya ke China -- tempat gading itu dipergunakan untuk bubuk obat-obatan tradisional -- dan Jepang. (afp/bh)