Banda Aceh, (Analisa). Para pekerja bangunan dan buruh asal pulau Jawa, saat ini mulai meninggalkan daerah Aceh untuk kembali ke kampung halamannya masing-masing karena merasa cemas dengan situasi keamanan di provinsi itu setelah beberapa kali menjadi sasaran teror penembakan misterius yang dilakukan orang tak dikenal (OTK).
Mereka memutuskan untuk pergi sementara waktu karena khawatir aksi teror akan terulang, dan akan mengancam keselamatannya, meskipun pihak aparat kepolisian di Aceh sudah menatakan memberikan perlindungan dan pengawalan terhadap para pekerja dari luar daerah.
Pada Sabtu (7/1), sebanyak 41 pekerja bangnan dan buruh meninggalkan kota Banda Aceh dan Aceh Besar terkait aksi penembakan belakangan ini. Mereka terdiri masing-masing 18 buruh bangunan korban penembakan di Simpang Aneuk Galong, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar dan 23 orang pekerja galian kabel milik PT Telkom yang berada di kawasan Desa Surin, Banda Aceh.
Sebelumnya, sebanyak 55 pekerja asal Pulau Jawa di Kabupaten Bireuen juga telah meninggalkan Aceh pada Kamis (5/1) lalu. Mereka merupakan pekerja pemasang kabel optik Telkomsel asal Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka sempat berlindung di Mapolres Bireuen setelah lolos dari insiden penembakan yang menewaskan dua temannya di Blang Cot Tunong Kecamatan Jeumpa.
Puluhan pekerja di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar mengaku khawatir terhadap keamanan mereka pascapenembakan terhadap tiga pekerja di kawasan Aceh Besar. Mereka mengaku akan kembali bekerja di Aceh jika kondisi keamanan terhadap pekerja mulai membaik.
"Katanya kondisi keamanan di Aceh lagi tidak menentu, ada penembakan dimana-mana dengan sasaran selama ini teman-teman kami dari pulau Jawa. Makanya kami pulang dulu, nanti balik lagi kalau sudah aman kondisinya," ujar Mulyo, salah seorang pekerja asal Pulau Jawa.
Sebelum meninggalkan Aceh, 41 buruh itu berkumpul di halaman Polsek Suka Makmur, Aceh Besar. Mereka diberangkatkan dengan menumpang sebuah bus sampai di kampung halaman. Sebelumnya, pihak kepolisian daerah Aceh juga akan menempatkan personil polisi di sejumlah lokasi pekerja yang berasal dari luar Provinsi Aceh, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Cemas
Sementara itu, sejumlah pengusaha Aceh yang bergerak di bidang konstruksi merasa cemas dengan kondisi ketidakamanan Aceh akhir-akhir ini dengan maraknya penembakan terhadap pekerja luar Aceh. Mereka gundah karena memperkerjakan puluhan bahkan ratusan pekerja yang berasal dari pulau Jawa.
Dari sisi bisnis, para pengusaha tersebut merasa cemas karena semua para pekerjanya berasal dari Jawa minta pulang ke daerahnya. Sementara untuk mengganti para pekerja tersebut bukanlah hal mudah di Aceh.
"Kami susah juga kala sampai pekerja asal Jawa minta plang. Anda kan maklum, tipikal kerja orang Aceh untuk bekerja pada posisi seperti itu sangat sulit mencarinya," ujar seorang pengusaha konstruksi di Banda Aceh.
Wakil Ketua DPR Aceh, Drs H. Sulaiman Abda meminta pihak polisi segera mengungkap kasus penembakan yang sudah meresahkan warga, dan pihaknya akan memberi dukungan penuh terhadap kepolisian dalam pengungkapkan kasus tersebut.
"Kita harapkan Pak Kapolda Aceh dapat memberikan rasa aman pada masyarakat Aceh dan pekerja pendatang di Aceh dengan mengungkap kasus ini segera. Masyarakat sudah sangat resah. Kalau pendatang sebagai pekerja di Aceh angkat kaki, akan membuat kondisi daerah ini akan terpuruk, di samping itu bila situasi seperti ini terus berlanjut akan berdampak pada investasi yang sudah mulai tumbuh," ujarnya. (mhd)