Oleh: T. Sandi Situmorang. PEMULUNG SUNGAI: Tiga orang pemulung sedang mencari barang-barang bekas yang berada di dasar Sungai Deli. Secara tidak langsung para pemulung sungai ini juga membantu konservasi daerah aliran sungai.
Di tengah semrawutnya jalanan kota dan gedung-gedung tinggi yang saling berdempetan, sangat susah sekali mencari tanah kosong sebagai arena hiburan. Taman-taman berganti mal dan perumahan. Mencari lokasi untuk sekedar menjernihkan pikiran setelah seharian didera rutinitas pekerjaan yang begitu memusingkan kepala, seperti mencari sebuah jarum di antara tumpukan jerami. Memang ada sejumlah lokasi pemandangan di pinggiran kota Medan, namun tentu saja akan membutuhkan waktu dan uang yang tidak sedikit untuk mengunjunginya. Mal, plaza dan kafe tidak selamanya menyenangkan. Ada saat-saat kebosanan mendera berganti keinginan kuat untuk menikmati dan bersatu dengan alam.
Lantas, apa yang harus kita lakukan?
Tidak banyak yang bisa dilakukan selain sedikit berandai-andai. Sedikitnya, ada sembilan sungai yang melintasi kota Medan. Sebutlah diantaranya sungai Belawan, Sungai Babura, Sungai Deli, Sungai Sikambing dan yang lainnya. Perhatikan, ada kesamaan pada sungai-sungai tersebut. Airnya sangat keruh dan coklat, sampah berserakan di tepi sungai dan mengalir bersama aliran sungai, tidak jauh dari bibir sungai, berdiri rumah-rumah kumuh warga. Lalat terbang, saking banyaknya mungkin lalat-lalat itu akan saling bertabrakan. Kebanyakan baunya akan membuat perut mual.
Apa boleh buat, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan masih sangat memprihatinkan. Bagaimana menjaga agar lingkungan tetap terjaga bersih dan nyaman barangkali tidak pernah terlintas dalam pikiran sebagian masyarakat.
Bayangkan salah satu sungai yang melintasi kota Medan berair jernih dan mengalir tenang. Kedua sisi sungai dibatasi dinding beton, namun pada beberapa bagian ada tangga menuju air sungai, sehingga pengunjung mudah menyentuh air sungai bahkan duduk pada batu-batu besar yang tersedia di tepi sungai. Sembari mengobrol di atas batu tersebut, kaki menjuntai ke dalam air sungai yang sejuk. Jika beruntung bukan mustahil mata ini melihat ikan berenang-renang dan bersembunyi ke balik batu-batu ketika dilempar dengan kerikil kecil.
Di kanan dan kiri tepi sungai terdapat taman-taman bunga dan berbagai permainan sederhana untuk anak-anak. Mungkin ada satu dua pedagang yang menjual makanan sebagai teman menghabiskan senja. Namun tempat tersebut sangat bersih dan rapi, tanpa sepotong sampah sekalipun. Tidak jauh dari area itu, terlihat gedung-gedung tinggi dan lalu lintas yang padat merayap.
Tentu menyenangkan sekali memiliki arena rekreasi seindah itu di pusat kota. Sangat menekan biaya dan tentu saja mengurangi polusi jika harus berkendaraan jauh ke luar kota.
Bukan hal mustahil mewujudkan sungai seperti ini di kota Medan. Namun butuh perjuangan, kedisiplinan dan tentu saja waktu. Sampai saat ini masyarakat masih mengandalkan sungai sebagai sarana mandi, cuci dan kakus (MCK), tempat pembuangan sampah, bahkan tidak sedikit memanfaatkan tanah, pasir dan bebatuan sungai sebagai bahan bangunan. Rumah-rumah kumuh dibangun seadanya di tepi sungai dan pengusaha membuang limbahnya secara langsung ke dalam sungai.
Keputusan masyarakat sekitar sungai menjadikan sungai sebagai MCK tentu saja berhubungan dengan faktor ekonomi. Sehingga hanyalah merupakan hal yang sia-sia meminta masyarakat tidak melakukan hal tersebut tanpa terlebih dulu mensejahterakan kehidupan mereka.
Menjadikan air sungat bersih dan jernih bukan hanya tugas di badan sungai, tetapi harus dilakukan mulai dari hulu sampai hilir. Biasanya air sungai berasal dari air hujan dan pohon-pohon di hutan merupakan salah satu wadahnya. Jika pohon-pohon di hutan ditebang secara berlebihan akan mengakibatkan tergerusnya tanah bahkan banjir bandang.
Sehingga untuk mewujudkan sungai impian tersebut dibutuhkan kerja sama semua pihak. Masyarakat, pemerintah dan pengusaha bersama-sama menjaga alam dan lingkungan. Mampukah kita melakukannya?
(Penulis adalah pemerhati masalah sosial, budaya dan lingkungan)