Oleh : Jekson Pardomuan. "Besok kita makan apa ya, Pa?" Demikian pertanyaan seorang isteri kepada suaminya. Pertanyaan seperti ini pasti sering terucap di tengah-tengah keluarga yang boleh dikatakan masih kekurangan. Kalau keluarga yang berkecukupan atau berlebihan mungkin perkara makan tidak pernah di kuatirkan oleh isteri karena uang cukup dan mau beli apa saja tinggal bilang sama pembantu.
Kebutuhan untuk bertahan hidup sering menjadi persoalan yang tak bisa diselesaikan seperti membalik tangan. Persoalan kebutuhan hidup ini juga sering menjadi pemecah keutuhan sebuah keluarga. Tak perlu heran kalau isteri meninggalkan suami hanya karena suaminya tiba-tiba di PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja atau isteri menemukan sosok lelaki kaya yang bisa membeli segala keperluannya.
Demikian sebaliknya, suami meninggalkan isteri karena malu tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga, karena menemukan perempuan lain yang dianggap lebih mengerti keadaan. Persoalan-persoalan yang menimpa keluarga-keluarga muda saat ini sebenarnya muaranya hanya satu, yaitu UANG. Karena uang dari suami tidak cukup, isteri langsung berubah sikap dan haluan. Karena uang juga, si suami bisa berbalik mencari perempian lain yang memiliki penghasilan. Persoalan-persoalan seperti ini sudah kerap terjadi di seluruh dunia.
Apabila kita memiliki iman dan rasa percaya yang sungguh-sungguh atas pertolongan Tuhan, persoalan-persoalan apa pun pasti bisa diselesaikan dengan hati yang lapang. Matius 6 : 25 menuliskan "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?"
Permasalahan lain yang sering kita jumpai adalah ketika salah seorang dari anggota keluarga memiliki berkat yang lebih dan berkecukupan sementara saudara-saudaranya yang lain hidup dengan pas-pasan tidak memiliki rasa persaudaraan. Ketika saudaranya yang kekurangan datang meminta tolong, saudara yang kaya sering "berbohong" kalau uangnya tidak ada. Padahal, dalam 1 Yohanes 3:17-18 ditulis "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran."
Ibrani 13 : 5 selalu mengingatkan kita "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Dengan ayat ini, kita semakin dikuatkan untuk tidak perlu kuatir akan apa yang ada pada kita. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Selagi Tuhan memberikan nafas kehidupan kepada kita, kenapa kita sia-siakan dengan berpangku tangan saja ?
Bekerjalah sesuai dengan talenta dan potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing. Kalau kita bekerja dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti akan memberikan berkat-Nya kepada kita. Asal kita mau sungguh-sungguh dan berserah kepada-Nya dengan rajin berdoa, menuruti perintah-Nya, merenungkan firman-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jangan karena ingin mendapatkan uang dan harta berlimpah, kita jadi mengesampingkan iman dan percaya kita kepada Tuhan Yesus Kristus, yang mati demi dosa kita.
Dalam 1 Korintus 15:10 dituliskan "Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku."
Apabila kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan melakukannya dengan senang hati, percayalah bahwa tangan Tuhan akan menolong setiap kita yang berharap kepada-Nya. Ibrani 11 : 6 mengatakan "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia."
Lalu, Wahyu 22 : 12 menuliskan "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya." Oleh sebab itu, perbuatlah yang baik dan bekerjalah dengan sepenuh hati. Jangan bersungut-sungut dan saling mempersalahkan seperti dikatakan firman Tuhan dalam Yakobus 5 : 9 "Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu."
Amin.