
Judul : "Kata Orang, Aku Korban Politik..!"
Penulis : Aulia Pohan
Penerbit : Jakarta, Murai Kencana
Tahun Terbit : 2011
Tebal : xxvii + 151 halaman
Siapa yang tak kenal Aulia Pohan, di kalangan BI, namanya tidak begitu asing lagi ia merupakan orang yang berkarir mulai dari bawah sampai jenjang yang cukup tinggi. Apalagi ketika anaknya Anisa Pohan menikah dengan anak SBY, tentu saja ia menjadi besan SBY yang menjabat sebagai Presiden RI. Namun, kehidupannya tidak seperti yang ia bayangkan. Mimpi sukses yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sejak kecil hingga menjadi besan orang nomor satu di negara ini bukan membuatnya lebih happy tapi sebaliknya, ia menjadi pesakitan di terali besi. Apakah benar ia bersalah?
Dalam bukunya ini Aulia Pohan mencoba membuka "masalah" yang sebenarnya tidak ia nikmati. Ia dituduh melakukan korupsi, apalagi opini massa sudah "memojokkan" dia seolah-olah ia telah bersalah. Sementara pengadilan dinilai juga mengeyampingkan fakta yang ada. Akibatnya vonis bersalah ia terima. Itulah pernyataan yang ia munculkan:
"Ibuku mengajariku untuk bersikap jujur dan hidup apa adanya bahkan ia berharap agar aku bisa meneladani para wali kekasih Allah. Itulah mengapa aku menyandang nama Aulia Thantawi. Para seniorku, Rachmat Saleh dan Arifin Siregar menggembleng dan mengajariku menjadi banker bank sentral yang bermartabat, berkarakter, dan profesional dibidangnya sehingga disegani kawan. Lantas, bagaimana mungkin di penghujung karierku justru tertoreh tinta "hitam" yang sungguh memalukan itu. Tidak! Aku bukan koruptor seperti dakwaan jaksa dan putusan hakim. Buku kecil ini akan merunut perjalanan panjang masalah yang menimpaku dan cerita di balik kisah tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Biarlah pembaca yang budiman yang menilai sendiri kebaradaanku." (hlm. xviii)
Itulah sekelumit, ungkapan yang ditulis Aulia Pohan. Dan ungkapan-ungkapan selanjutnya akan bisa dibaca pada bab-bab selanjutnya. Walaupun buku ini mirip sebuah memoar perjalan namun hemat saya buku ini berisi informasi yang bisa membuka mata kita, apa yang sesungguhnya terjadi, walaupun tidak fair rasanya kalau hanya membaca pengalaman sang Aulia Pohan saja. Boleh jadi, ketika Aulia menulis dan mencoba "membuka" borok seseorang, orang itu akan menulis apa yang sebenarnya terjadi, sehingga memang informasi tidak hanya kita dapatkan dari satu sisi saja, tetapi harus memenuhi dua sisi. Dari sini kita akan melihat kebenaran yang sesungguhnya, walaupun sebenarnya kebenaran yang hakiki akan kita lihat pada pengadilan Allah nanti.
Yang jelas, benarkah Aulia Pohan termasuk salah satu dari orang yang dikorbankan atau korban politik, hanya ia lah yang tahu dan tentu saja, apa yang ia tahu coba ia ungkapkan lewat bukunya ini, yang ditulis sangat menarik dan "berbicara" apa adanya. Peresensi: Alsari