Kairo, (Analisa). Sekitar 10.000 rakyat Mesir, Jumat (27/1), menggelar aksi unjuk rasa dengan berkumpul di Lapangan Tahrir, Kairo untuk memperingati tahun pertama dimulanya aksi pelengseran Presiden Hosni Mubarak.
Setahun lalu, pasukan keamanan Mubarak menembaki para pemrotes yang membanjiri Lapangan Tahrir, ratusan orang tewas dan terluka. Pemberontakan berakhir dengan runtuhnya rezim Mubarak.
Tapi kini, setahun kemudian, para pemerotes yang berhasil menjatuhkan Mubarak terpecah menjadi kelompok Islam dan liberal. Kelompok Islam, Ikhwanul Muslimin, yang berhasil memenangkan pemilu parlementer, merayakan hari peringatan tersebut dengan penuh kegembiraan.
Pendukung Ikwanul Muslimin dan kelompok terkemuka Islam lainnya menyurati dewan militer, yang mengambil alih pemerintahan pasca turunnya Mubarak, mendesak pengalihan kekuasaan kepada pemerintahan sipil setelah diselenggarakannya pemilu presiden pada akhir Juni depan.
Kelompok liberal, mencurigai bahwa pihak dewan militer tidak memiliki itikad untuk mengalihkan kekuasaan kepada pemerintahan sipil seperti yang telah dijanjikan, menyerukan aksi protes
Mereka menuding dewan militer, dipimpin oleh mantan menteri pertahanan Mubarak, Marsekal Angkatan Darat Hussein Tantawi, yang kembali menghidupkan cara otoriter Mubarak, mengatakan bahwa meskipun Mesir akan menyelenggarakan pemilu yang paling bebas dalam beberapa dekade, budaya kediktatoran di Mesir sudah mengakar terlalu dalam dan tidak bisa diubah.
Para pemrotes meneriakkan "turunlah dewan militer," dan menyerukan untuk membayar ganti rugi kepada para pemrotes yang diyakini tewas di lapangan Tahrir, Jumat setahun silam.(AP/echo)