Oleh: Erond L. Damanik. Kunjungan dalam rangka Konferensi Internasional SSEASR ke-4 pada 30 Juni-5 Juli 2011 silam di Bhutan, tidak saja mempertemukan penulis dengan 249 orang pakar ilmu sosial, budaya dan agama dari 37 negara di dunia, tetapi sekaligus memperlihatkan keindahan alam dan budaya masyarakatnya. Terbang dari Jakarta ke Bangkok terus ke Paro International Airport selama enam jam. Kemudian menaiki bus sekitar satu setengah jam dari airport ke Thimpu, ibukota negara Bhutan.
Bhutan, adalah sebuah negara kecil yang terletak di timur pegunungan Himalaya yang diantarai oleh India dan China. Dalam bahasa daerahnya, Dzongkha, negara ini disebut dengan Druk Yul atau ‘Tempat Naga’. Nama itu diberikan oleh Tsangpa Gyare Yeshe Dorji (1161-1211), seorang pendeta Budha yang membangun biara di Tibet.
Pada saat itu, ia mendengar suara Naga agar ia mengajarkan Budha di kawasan tertentu yang berbatas dengan Tibet. Kemudian, ia menamai biara tersebut dengan ‘Druk’ ‘Naga’ dan masyarakatnya dengan Drukpa Kargyupa. Dekatnya gambaran naga itu pada masyarakat Bhutan masa kini, tampak pada benderanya yang bergambar naga, maskapai penerbanganya yakni Drukair dan sebutan masyaraknya yakni ‘Drukpa’, Selain itu, juga terlihat pada ritual keagamaan, asitektur maupun seni tradisi masyarakat Bhutan.
Berdasarkan sejarahnya, negara ini sering disebut dengan "Lho Mon" (Negeri Kegelapan dari Selatan), "Lho Tsendenjong" (Negeri Cendana dari Selatan), "Lhomen Khazhi" (Negeri Empat Tujuan dari Selatan), dan "Lho Men Jong" (Negeri Obat Tumbuhan dari Selatan).
Merujuk pada bukti-bukti arkeologis yang ada, setidaknya Druk Yul sudah ada sejak permulaan tahun 2000 BC. Pada permulaan abad ke-7, seorang pendeta Budha dari Tibet bernama Songtsen Gampo membangun kuil pertama di Bhutan (Druk Yul) tepatnya di Paro dan Bumthang.
Pada tahun 747 AD, seorang pendeta India dan Guru Padmasambhava atau guru Rimpoche yang membangun sekte Nyingmapa di Tibet, datang ke Bhutan yang menurut legendanya menaiki harimau terbang (flying tiger) dan melakukan meditasi di tebing gunung yang curam (cliff) di lembah Paro. Pada saat ini, tempat tersebut sangat popular bagi wisatawan yang disebut dengan Taktsang atau Tiger Nest.
Namun demikian, seperti yang diakui oleh Ashi Dorji Wangmo Wangchuck (2006) dalam bukunya Treasure of the Thunder Dragon: A Portrait of Bhutan mengemukakan bahwa kebanyakan sejarah Bhutan telah hilang sebab catatan historis itu lenyap karena kebakaran dan gempa bumi yang menyebabkan musnahnya biara (dzongs), kuil dan lukisan. Pada tahun 1616, terjadi perubahan besar dalam sejarah Negeri Bhutan.
Adalah seorang Zhabdrung Ngawang Namgyel (1594-1651) yang merupakan keturunan Dalai Lamas dari Tibet yakni seorang mahaguru spritual, budaya dan pemimpin militer yang membangun dan mempersatukan sekaligus dikenal sebagai Bapak Bangsa Bhutan. Keturunan dari founding fathers inilah yang berhak menjadi raja di Bhutan hingga saat ini.
Pada masa sekarang, raja di Bhutan ialah Dasho Jigme Khesar Namgyel Wangchuck yang ditabalkan pada tahun 2008 silam. Berbeda dengan negara lain di dunia ini yang menghitung kesejahteraan penduduknya dengan Gross Demostic Product (GDP), maka Bhutan adalah satu-satunya negara di dunia ini yang menghitung kebahagiaan penduduknya yang disebut dengan Gross National Happiness (GNH). Teori pembangunan ekonomi di Bhutan ini didasarkan pada empat pilar yakni: pembangunan sosio ekonomi, konservasi dan proteksi lingkungan, preservasi dan promosi warisan budaya dan pemerintahan yang jujur dan responsif terhadap penduduknya.
Berpetualang dan Berwisata
Salah satu keunikan negeri Bhutan sebagai tempat wisata adalah alam yang indah, budaya yang khas dan biara Buddha yang menakjubkan. Tentu saja potensi ini berbeda dengan Eropa yang justru menonjolkan bangunan-banguan bersejarah sejak abad pertengahan.
Mengitari kota-kota atau desa-desa di Bhutan dengan jalan kaki, pasti agak melelahkan karena kondisi tanahnya yang berbukit-bukit. Dapat disebutkan bahwa 80% tanahnya adalah berbukit-bukit yang ditumbuhi oleh pohon pinus serta hutan yang sangat lebat. Rumah penduduk percis berada di lembah atau dikaki perbukitan yang dari jauh tampak seperti model teras bangku (model sawah diperbukitan).
Tidak mengherankan apabila masyarakatnya selalu mengunyah, apakah itu sirih atau permen karet untuk mengurangi rasa lelah. Gunung-gunung tersebut sangat variatif dan gunung teringgi ialah Gangkar Puensum setinggi 7.564 meter di daerah Punakha yang berbatas dengan Nepal. Puncak gunung tersebut selalu diselimuti oleh es. Akibat hutan yang masih lestari itu, maka hampir disetiap lembah terdapat sungai-sungai besar yang dimanfaatkan untuk pertanian. Salah satu komoditas unggulan dari Bhutan adalah apel khas Bhutan yang diekspor ke Thailand, Nepal, Tibet dan India. Selain itu, mereka juga dikenal pengespor daging ayam dan lembu serta susu.
Makanan yang tersedia di Bhutan, hampir tidak ada bedanya dengan Indonesia. Hanya saja, harganya cukup mahal. Bahan-bahan makanan seperti beras merah, beras putih, jamur, wortel, brokoli, asparagus, buncis, kol, mie, dan lain-lain. Sewa hotel terendah per malam adalah US$ 35 sedang biaya sekali makan direstoran berkisar antara US$ 3-5. Makanan khasnya adalah ‘Momo’ yang terdiri dari ‘Momo daging’ atau ‘Momo sayur’. Angkutan umum utama di Bhutan adalah taxi yang tarifnya senilai US$ 5 atau 250 Ngultrum. Biaya hidup sebagai wisatawan di Bhutan mencapai US$ 10-25 perhari. Makanan bagi vegetarian sangat mudah didapat, demikian pula hotel-hotel sangat banyak ditemui di pusat kota bahkan didesa. Wisata alam yang natural sangat menabjukkan. Setiap hari puncak-puncak gunung tersebut selalu tertutup oleh embun dan setiap harinya pada bulan Juni-Agustus selalu turun gerimis. Pemandangan alam yang indah itu, serta cuaca yang relatif dingin berkisar antara 180-240C menambah keasrian negeri di tengah pegunungan Himalaya tersebut.
Disamping menikmati keindahan alam di Bhutan, yang membuat kamera tidak henti-hentinya memotret keindahan alam tersebut, wisatawan dapat berpetualang untuk mengunjungi bangunan biara-biara (dzongs) yang sangat bersejarah di negeri itu. Di Bhutan, tepatnya di Paro terdapat biara bersejarah yang dibangun pada abad ke-7 masehi. Biara tersebut terdapat dipuncak gunung dan mirip seperti tembok raksasa China.
Terdapat 6 (enam) menara yang berfungsi sebagai tempat perhentian yang berjarak sekitar 50 meter antara satu menara dengan menara lainnya. Bangunan yang sudah dilindungi sebagai warisan tersebut belum direstorasi sehingga menunjukkan keaslian bangunan dari abad ke-7 masehi. Bangunan tersebut tersusun dari batu cadas berbentuk ceper yang dilekatkan dengan tanah liat. Tempat tersebut ramai dikunjungi hingga sekarang. Hampir disetiap distrik di Bhutan terdapat satu dzongs (Biara) utama tempat berkumpulnya para biksu (monks).
Salah satu ikon wisata Bhutan adalah Taktsang Monastery atau lebih dikenal Tiger’s Nest yang percis berada di tebing jurang yang sangat terjal. Monastery yang pada awalnya merupakan tempat meditasi biksu tersebut dapat ditempuh dengan cara mendakinya selama 4-5 jam.
Selain itu, terdapat pula biara yang terbesar di seluruh Bhutan yang disebut dengan Punakha Dzong yang terdapat di Punakha. Biara tersebut percis dibangun diantara dua sungai yang sangat besar yakni Mo Chhu dan Pho Chhu.Jembatan menuju biara tersebut adalah persembahan dari duta besar Jerman pada tahun 2008 silam sebagai restorasi atas jembatan sebelumnya.
Selain mengunjungi biara bersejarah, para turis dapat mengunjungi tempat-tempat yang sangat menarik seperti Druk Wangyel Chortens di Dochu La, yaitu sebuah monumen peringatan yang sangat indah yang dibangun oleh Sri Ratu Kerajaan Bhutan. Selain itu, terdapat pula Royal Manas National Park, Royal Botanical Garden, National Muzeum of Bhutan dan lain-lain. Di pusat ibukota yakni Thimpu, terdapat patung Buddha yang berukuran raksasa yang percis dibangun di kaki gunung, yang disebut dengan Buddha Point. Dari puncak itu, para turis dapat melihat keindahan serta keadaan lingkungan alam sekitar kota Thimpu.
Pada masa kini, negara Bhutan sedang giat membangun apalagi setelah perubahan dari monarchi absolut menjadi monarchi parlementer sejak tahun 2008 silam. Sejak tahun itu, Bhutan telah terbuka untuk masyarakat dunia sehingga memungkingkan terbukanya lahan investasi.
Bahasa pengantar utama di Bhutan disamping bahasa Dzongkag (bahasa lokal) adalah Bahasa Inggris. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila anak seusia sekolah dasarpun telah fasih berbahasa Inggris. Ornamentasi bangunan di seluruh Bhutan relatif sama karena telah diatur oleh pemerintah. Demikian pula, bahwa merokok sangat dilarang di seluruh kawasan Bhutan. Bagi anda yang ingin berwisata dan senang berpetualang, maka Bhutan termasuk salah satu opsi yang menyenangkan, yaitu negara Shangri-La di Himalaya.***
Penulis adalah peserta Konffensi Internasional SSEASR ke-4 di Buthan