17
Mei
 
A A A
Seni - Minggu, 29 Jan 2012 07:55 WIB
Menghidupkan Lukisan Mooi Indie di Medan
Lukisan Mooi Indie gaya lukisan pelukis Sokaraja, harga terjangkau masyarakat kebanyakan.
Oleh : Dr. Agus Priyatno, MSn. Di zaman kolonial sejumlah pelukis dari Eropa memperkenalkan lukisan naturalis dengan objek keindahan Indonesia. Lukisan mereka dikenal sebagai lukisan Hindia Molek (Mooi Indie). Disebut Hindia Molek atau Indonesia indah, karena mereka melukiskan keindahan Indonesia. Objek yang dilukis biasanya keindahan panorama sungai, hutan, persawahan, perbukitan, pegunungan, pantai, pedesaan dan kecantikan wanita. Era lukisan Mooi Indie berlangsung sekitar 1920-1938.
Sejumlah pelukis pribumi Indonesia mengikuti gaya melukis yang menjadi trend waktu itu. Mereka antara lain Abdullah Suriosubroto. Mas Pirngadi, Wakidi dan Basuki Abdullah. Merekalah yang mengawali munculnya senilukis pemandangan Indonesia. Sayangnya keberadaan senilukis Mooi Indie tidak berlangsung lama dan juga tidak berkelanjutan.

Stigmatisasi lukisan Mooi Indie sebagai lukisan dangkal digaungkan oleh sejumlah pelukis yang tidak menyukainya. Lukisan Mooi Indie dianggap hanya sebatas keindahan pemandangan, tidak memuat gagasan berbobot. Stigmatisasi ini mematikan benih yang mau tumbuh. Lukisan keindahan pemandangan perlahan ditinggalkan oleh pelukis Indonesia. Setelah era lukisan Mooi Indie, bisa dikatakan keindahan Indonesia tidak lagi banyak muncul di atas kanvas para pelukis.

Di luar mainstream lukisan Mooi Indie, di sejumlah daerah di Indonesia terdapat komunitas pelukis pemandangan yang sempat bertahan sebelum akhirnya lenyap. Lukisan pemandangan Sokaraja di Banyumas Jawa Tengah dan lukisan pemandangan seniman Medan di Jalan Listrik pernah mewarnai dunia senilukis pemandangan Indonesia. Meskipun lukisan pemandangan dibuat dengan material sederhana, lukisan pemandangan karya mereka sempat disukai masyarakat.

Lukisan cukup menarik dan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat banyak, menjadikan lukisan pemandangan Sokaraja di Banyumas dan Jalan Listrik di Medan banyak menghiasi dinding rumah-rumah masyarakat sederhana, hingga kelas menengah. Tidak berbeda dengan lukisan pemandangan Mooi Indie, lukisan keindahan pemandangan di Sokaraja dan Jalan Listrik Medan akhirnyapun gulung tikar.

Desa Sokaraja tidak lagi marak dengan lukisan pemandangan. Komunitas pelukis Jalan Listrikpun kini pergi entah kemana.

Lukisan Pemandangan di Mancanegara

Jika di Indonesia lukisan pemandangan diabaikan para pelukis, di mancanegara justru diperjuangkan oleh para pelukis. Lukisan pemandangan yang awalnya tidak dianggap penting, secara konsisten diperjuangkan oleh para pelukis, hingga menjadi lukisan yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah senilukis. Lukisan pemandangan akhirnya terdokumentasikan dan tercatat dalam sejarah senilukis.

Abad ke-14 para pelukis mulai menciptakan lukisan pemandangan sebagai latarbelakang lukisan. Baru awal abad ke-15 lukisan pemandangan mulai berdiri kokoh sebagai aliran lukisan di Eropa. Pada akhir abad ke-19 lukisan pemandangan menempati kedudukan yang penting sejak dilukiskan oleh para pelukis impresionis. Lukisan keindahan pemandangan karya pelukis impresionis terpajang di museum-museum seni terhormat dan banyak disukai kolektor seni. Harganyapun melambung tinggi di pasaran seni lukis.

Di Amerika Serikat (AS) terdapat komunitas pelukis pemandangan, pertengahan abad ke-19 sejumlah pelukis pemandangan di AS mendirikan Hudson River School. Komunitas pelukis Hudson River School banyak menciptakan lukisan bertema keindahan pemandangan negeri tersebut.

Saat ini lukisan pemandangan Amerika Serikat, masih banyak diciptakan oleh para pelukis. Karekterisitik lukisan mereka adalah detail dan agak diiidealisasi supaya tampak lebih bagus pemandangannya.

Mooi Indie di Medan

Lukisan tentang keindahan pemandangan Indonesia (Mooi Indie) hingga hari ini belum nampak tanda-tanda kebangkitannya. Para pelukis masih enggan melukiskan keindahan pemandangan Indonesia di atas kanvas mereka. Paradigma tentang lukisan pemandangan sebagai lukisan tidak berbobot sudah saatnya dijauhkan. Keindahan Indonesia sudah saatnya dilukiskan kembali di atas kanvas. Kita hidup di negeri yang indah, banyak pemandangan alam yang memesona dan pantas dilukiskan. Tidak semestinya keindahan itu disia-siakan.

Para pelukis Medan memiliki kemampuan teknik untuk melukis keindahan pemandangan. Jika mereka berani menghidupkan kembali lukisan Mooi Indie, mereka akan menjadi yang pertama dalam sejarah senilukis sebagai pejuang lukisan pemandangan di Indonesia. Berjuang melawan stigmatisasi lukisan pemandangan sebagai lukisan dangkal, melawan paradigma lama dan membangun paradigma baru. Lukisan pemandangan layak disejajarkan dengan lukisan-lukisan lainnya. Pelukis Medan yang selama ini dianggap tidak penting dalam pergerakan seni di Indonesia, memiliki kesempatan untuk berperanan dalam perkembangan senilukis Indonesia. memperjuangkan genre lukisan berdasarkan potensi yang mereka miliki, yaitu sebagai pelukis pemandangan. Kelebihannya lagi, di Medan dan sekitarnya banyak terdapat pemandangan indah kelas dunia, seperti bukit Barisan dan danau Toba. Jika keindahan pemandangan daerah ini dilukiskan, seniman daerah lain sulit menyaingi.

Memutuskan menjadi pelukis pemandangan di saat lukisan jenis ini masih dianggap dangkal memang butuh nyali besar. Berani menentang arus melawan pendapat banyak orang tidak mudah, tetapi jika seorang pelukis punya keyakinan dan keteguhan untuk menjadi pelukis pemandangan, sebenarnya ini kesempatan untuk berdiri paling depan sebagai perintis kebangkitan lukisan Mooi Indie, sekaligus berperanan dalam sejarah senilukis Indonesia. Jika para pelukis Medan ada yang berani mempelopori lukisan Mooi Indie dan melanjutkan sejarah yang pernah terputus, maka pelukis Medan akan tercatat dalam sejarah seni rupa. Siapa berani berjuang untuk seni ini?

Penulis; dosen pendidikan seni rupa di FBS Unimed Medan.
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris