Oleh: Fahrin Malau. PASAR mebel asal negeri Tirai Bambu dan jiran Malaysia secara perlahan mulai merajai pasar di Indonesia. Beragam model dan ukuran mebel dari China dengan mudah di temui. Soal harga, sedikit lebih murah dari mebel lokal seperti Medan, Jakarta.
"Lebih dari 60 % mebel impor dijual disini. 50 % berasal dari China dan 10 % dari Malaysia. Sedangkan 40 % mebel dari lokal. 25 % mebel dari Medan dan sisanya berasal dari Pulau Jawa," ungkap Purchasing Manager Yafurni, Martono Jayadi, B.B.A.
Mulai membanjirnya mebel impor di pasar Indonesia, termasuk Medan tidak terlepas mulai meningkatnya minat masyarakat untuk memiliki mebel impor. Berbagai keunggulan yang dimiliki mebel impor khususnya asal China salah satu alasan banyak diminati pembeli. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki mebel asal China punya model yang bervariasi. Setiap bulan selalu saja ada model baru yang keluar. Selain ituharga mebel asal China lebih murah. Sedangkan mebel lokal cenderung bentuk yang lama. Kalau ada model yang baru terjadi dalam waktu yang cukup lama, bisa setahun sekali atau dua tahun sekali. Kelebihan dari mebel lokal dari kualitas. Mebel lokal dapat tahan sampai sepuluh tahun lebih. Tidak mebel impor asal China tidak dapat bertahan sepuluh tahun. Ketahanan mebel tergantung pemakaian. Kalau sering dipakai lebih beresiko rusak. Dengan pemakaian yang sama, mebel lokal jauh lebih kuar dari mebel impor dari China.
Kelebihan yang dimiliki mebel China, bukan berarti mebel lokal ditinggalkan pembeli. Masing-masing mebel mempunyai pasar masing-masing. Biasnaya pembeli mempunyai pertimbangan, mebel mana yang mau dibeli.
Mebel impor atau lokal. Kelebihan yang dimiliki mebel impor, bukan berarti tidak punya cela. Kelemahan yang paling mendasar dari mebel impor bila rusak sulit bahkan tidak bisa dilakukan perbaikan. Bila mebel lokal rusak masih bisa dilakukan perbaikan. Mebel impor dibuat dengan mesin sehingga untuk melakukan perbaikan harus dengan mesin. Sementara bila dilakukan perbaikan biaya yang dibutuhkan jauh lebih mahal. Lain dengan mebel lokal, selain dibuat di dalam negeri, mebel lokal masih banyak dilakukan tidak dengan mesin atau secara manual.
Tetap Diminati
Maraknya peminat mebel asal China membanjiri pasar di Indonesia termasuk Kota Medan, diperkirakan beberapa tahun ke depan masih tetap diminati.
"Peminat mebel asal China tidak hanya diminati masyarakat Kota Medan, juga beberapa daerah di Sumatera Utara, seperti Rantau Prapat, Siantar, Sidempuan," ujar Martono.
Peminat mebel asal China, tidak terlepas terus bertambahnya mebel asal China yang masuk Sumatera Utara. Beberapa penjual mebel di Sumatera Utara tidak hanya menjual mebel lokal, juga mebel impor. Dengan semakin banyaknya mebel asal China yang masuk berbagai daerah di Sumatera Utara memperluas jangkauan pasar mebel asal China. Tidak menutup kemungkinan, semakin banyaknya mebel asal China dipasarkan di Indonesia, mebel lokal semakin sulit bersaing.
Persaingan pasar mebel impor khususnya asal China yang banyak masuk ke Indonesia, paling tidak dapat dipungkiri pasar mebel lokal akan mulai tergusur. Hanya beberapa mebel lokal yang sampai sekarang masih banyak diminati seperti mebel Jepara. Mebel Jepara memiliki daya tarik dan memiliki peminat yang secara turun temurun. Sedangkan mebel lokal di luar Jepara masih harus bersaing untuk mendapatkan pasar.
"Secara grafik mebel lokal ada peningkatan. Peningkatakan ini menandakan model mebel lokal mulai banyak berubah. Tidak cenderung ke model yang lama," terangnya.
Mulai bangkitnya mebel lokal dan mulai banyak peminat mulai terjadi beberapa tahun. Sekitar tahun 2005, mebel asal China lebih banyak mendominasi pasar di Indonesia, termasuk di Medan. Alasan harga menjadi pertimbangan pembeli, memilih mebel asal China. Pada tahun yang sama, mebel lokal mengalami harga yang cukup tinggi mengingat ketersediaan bahan baku seperti kayu sangat sulit dan harga kayu yang meningkat tajam.
Sulitnya dan naiknya harga kayu, perajin mebel mulai mencari alternatif. Mebel lokal tidak didominasi bahan kayu. Ada beberapa mebel bahan baku dari serbuk kayu yang diolah. Kombinasi bahan baku mebel untuk dapat menekan harga jual dan sekaligus menyayingi harga mebel asal China yang lebih murah.
Begitu juga dengan model. Mebel lokal mulai berani berkreasi dengan membuat model yang banyak mininati, seperti bentuk minimalis, dan beberapa model seperti mebel asal China. Trobosan-trobosan yang dilakukan untuk mendorong minat pembeli beralih ke mebel lokal.
Persaingan Ketat
Upaya untuk meningkatkan pasar mebel lokal di dalam negeri, terus dilakukan. Untuk dapat menyenyi pasar mebel asal China tentu tidak semudah membelikkan kedua telapak tangan.
Harus diakui, produk-produk China yang diproduksi secara massal untuk kebutuhan dunia, menjadikan China sebagai pasar yang membanjiri di berbagai negara. Banyaknya produk China tidak saja dialami Indonesia, tapi juga di berbagai negara. China saat ini menjadi negara yang diperhitungkan banyak negara, dengan produk yang dihasilkan mampu menembus ke berbagai negara.
Produk yang dihasilkan secara massal termasuk mebel yang harus diantisipasi mebel lokal. Betapa tidak, bila mebel lokal tidak mampu bersaing dengan mebel China dari segi harga, dan model pasar mebel lokal dapat tersingkir. Sejauh ini, produk mebel lokal masih dililit berbagai persoalan, seperti ketersediaan bahan baku seperti kayu.
Sebenarnya mebel lokal, seperti dari Jakarta, Medan tidak kalah bersaing dengan mebel China. Hanya saja kendalanya, untuk menghasilkan mebel lokal modal yang dibutuhkan tinggi sehingga harga jual menjadi semakin tinggi. Saat ini tidak banyak pengusaha mebel yang berani membuat dalam jumlah banyak. Alasan produksi yang dihasilkan tidak banyak, biaya yang dibutuhkan lebih banyak. Bila mebel lokal berani membuat dengan jumlah yang banyak, biaya dapat bisa ditekan lebih murah. Masalahnya untuk membuat mebel dalam jumlah banyak, kemana harus dipasarkan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjual mebel lokal.
Berbeda dengan mebel asal China yang diproduksi secara massal dipasarkan tidak saja untuk kebutuhan dalam negeri, juga di ekspor ke berbagai negara. Produksi dalam jumlah banyak, mebel China bisa menjual lebih murah. Bayangkan saja, bila biaya ekspor yang dibebankan untuk masuk ke Indonesia masih bisa bersaing dengan harga mebel lokal berarti mebel yang dibeli di China jauh lebih murah.