Oleh : Dr. Agus Priyatno, MSn. Ilustrasi memiliki kelebihan daripada fotografi. Seniman
dapat mengonstruksi secara visual kejadian yang telah lampau dalam bentuk ilustrasi, hal yang tidak mungkin dilakukan oleh fotografi. Ide-ide kreatif bisa divisualkan melalui karya ilustrasi, sementara fotografi hanya mampu membuat visualisasi terhadap objek nyata saat kejadian. Illustrator yang baik mampu menangkap kisah-kisah terbaik dalam kehidupan sehari-hari di masyaratkat, lalu membuat visualisasinya dalam bentuk karya ilustrasi, sehingga orang tersenyum, terharu, atau menangis saat melihatnya.
Norman Rockwell, salah satu illustrator hebat dari Amerika Serikat (AS). Dia mampu mengonstruksi kembali kisah sehari-hari dalam karya ilustrasi yang mengagumkan. Karya-karyanya mampu membuat orang tersenyum, terharu dan menangis. Ilustrasinya juga mampu membangkitkan kebanggaan terhadap bangsa Amerika (AS). Melalui karya ilustrasinya mereka melihat wajah bangsanya sendiri.
Norman Rockwell (1894-1978) dikenal di Amerika Serikat sebagai pelukis dan illustrator. Karya-karyanya merefleksikan kebudayaan negeri tersebut. Meskipun melukis, dia lebih dikenal sebagai illustrator sampul majalah. Lebih 40 tahun berkarya sebagai illustrator untuk sebuah majalah terkenal The Saturday Evening Post.
Di antara karya-karya terkenal Rockwell, karya serial Willie Gilis, Rosie the Riveter, The problem We All Live With dan Four Freedom.
Pengalaman Studinya
Rockwell belajar seni di Chase Art School setelah lulus SMA, sekolahnya dilanjutkan di National Academi of Design lalu di Art Students League. Karya awalnya dibuat untuk majalah Saint Nicholas. Saat Perang Dunia I, Rockwell mencoba mendaftar sebagai tentara AS namun ditolak karena berat badannya kurang ideal, terlalu kurus. Setelah berusaha menambah berat badannya, Rockwell mendaftar lagi pada periode berikutnya dan diterima, namun dia diberi tugas sebagi pelukis kemiliteran.
Usia 21 tahun keluarga Rockwell pindahke New Rochelle, New York. Di tempat barunya dia bekerja sebagai kartunis untuk majalah The Saturday Evening Post. Dia menghasilkan karya-karya ilustrasi yang menarik perhatian masyarakat. Karya-karyanya diantaranya Mother’s Day Off, Circus Barker and Strongman, Gramps at the Plate, Redhead Loves Hatty Perkins, People in Theatre Balcony, dan Man Playing Santa. Selama 47 tahun berkarya untuk majalah tersebut, Rockwell telah menghasilkan 322 ilustrasi sampul majalah. Selain itu dia juga membuat ilustrasi untuk majalah lainnya seperti Literary Digest, Country Gentleman, Leslie’s Weekly, Judge, People Popular Monthly, dan majalah Life.
Karier Seninya
Rockwell menikah dengan Irene O’Connor tahun 1916. Istrinya menjadi model untuk karyanya yang berjudul Tucking Children into Bed. Karya ini dipublikasikan pada sampull majalah Literary Digest pada 19 Januari 1921. Pasangan ini cerai tahun 1930, perceraian menyebabkan Rockwell mengalami depresi hingga dia pindah ke Kalifornia.
Di tempat barunya, dia tinggal di rumah teman lamanya Clyde Forsythe. Selama tinggal di tempat tersebut dia menciptakan lukisan-lukisan yang kemudian sangat terkenal seperti lukisanya berjudul The Doctor and the Doll. Di tempat ini Rockwell bertemu wanita, guru sekolah Mary Barstow yang kemudian dinikahinya. Setelah menikah, pasangan ini pindah ke New York dan memiliki tiga anak. Keluarga Rockwell pindah ke Stockbirge, Massachusetts pada tahun 1953. Istrinya Mary Barstow meninggal pada tahun 1961, Rockwell menikah lagi dengan pensiunan guru bernama Molly Punderson.
Selama Perang Dunia II, pada tahun 1943, Rockwell menciptakan lukisan serial bertema kebebasan (Four Freedom). Lukisan ini diilhami oleh pidato Franklin D Roosevelt tentang empat prinsip hak universal. Keempat hak universal itu adalah bebas berkeinginan, bebas berbicara, bebas beribadah dan bebas dari rasa takut. Lukisan ini dipublikasikan tahun 1943 oleh The Saturday Evening Post. Karyanya Freedom of Speech bagi Rockwell dianggap sebagai karya terbaik dibanding karya lainnya (pada lukisan serial tersebut). Tahun 1959 Rockwell dan anaknya, Thomas, membuat autobiografinya berjudul My Adventures as an Illustrator yang dipublikasikan tahun 1960.
Selama sepuluh tahun Rockwell bekerja untuk majalah Look. Selama bekerja di majalah ini, dia tertarik menggambarkan hak-hak sipil, kemiskinan, dan ekplorasi ruang. Selain itu dia juga melukis wajah para presidan AS dan sejumlah tokoh dunia. Diantaranya adalah lukisan wajah Eisenhower, Kennedy, Johnson, dan Nixon. Tokoh lainnya antara lain Gamal Abdul Nasser dan Jawaharlal Nehru.
Untuk memelihara karya-karya aslinya didirikan museum Norman Rockwell. Museum ini mengoleksi 700 karya lukisan, gambar, dan karya studi. Museum juga berperan sebagai pusat studi seni rupa Amerika untuk seni ilustrasi. Atas kehebatan karya-karyanya yang mampu menghadirkan potret hidup dan membangkitkan penghargaan terhadap individu di negerinya, Rockwell menerima medali kebebasan kepresidenan pada tahun 1977. Sebuah penghargaan tertinggi untuk warga sipil. Rockwell meninggal dunia pada 8 Nopember 1978.
Karya-karyanya
Rockwell, seniman sukses, menghasilkan lebih dari 4.000 karya sepanjang hidupnya. Kebanyakan karyanya disukai dan dikoleksi oleh masyarakat. Rockwell juga menjadi ilustrator untuk lebih 40 buku termasuk Tom Sawyer dan Huckleberry Finn. Karya-karya Rockwell mengungkapkan kisah keseharian yang mengekspresikan hak-hak dasar manusia, rasisme, ketidakadilan, ekplorasi ruang dan kemiskinan. Meskipun mengungkapkan problem sosial dan masalah kemanusiaan, karya-karyanya diungkapkan dengan cara yang cerdas dan humoris. Karya-karyanya mampu merefleksikan potret keseharian bangsa Amerika secara menarik melalui ilustrasi.
Belajar dari Amerika Serikat
Di negeri maju seperti Amerika Serikat, ilustrasi dipelajari dengan sungguh-sungguh, sehingga menghasilkan karya-karya monumental dan fenomenal. Ilustrasi mampu merefleksikan kehidupan sosial sebuah bangsa. Ilustrasi tentang kisah keseharian yang menarik dan lucu mampu membuat sebuah bangsa tertawa, terharu, atau menangis. Mereka merasa terefleksikan melalui karya seni yang menjadikan mereka merasa sabagai sebuah kesatuan.
Indonesia mestinya belajar dari negeri besar tersebut. Suatu bidang keilmuan ditekuni dengan kesungguhan sehingga menghasilkan karya-karya besar. Sekolah-sekolah seni membuka kajian dan studi tentang ilustrasi secara khusus. Ilustrasi di negeri ini tidak mendapat tempat seperti di negeri Norman Rockwell. Di negeri ini ilustrasi hanya dipelajari sekadarnya, sehingga tidak ada seniman ilustrasi yang mampu menghasilkan karya-karya monumental dan fenomenal seperti karya Norman Rockwell.
Penulis; Dosen pendidikan seni rupa di FBS Unimed.