21
Mei
 
A A A
Pariwisata - Minggu, 12 Feb 2012 00:11 WIB
Berkeliling Tao Toba
Analisa/Anthony Limtan
Oleh: Edison Parulian Malau. Berkeliling dari tepi danau hingga Pulau Samosir adalah suatu petualangan agung dan sangat mengesankan bagi para pengunjung. Disamping menikmati biru dan indahnya danau, mata para pengunjung juga akan dimanjakan dengan lekukan tubuh bukit-bukit yang terpampang sepanjang keliling danau. Tidak mustahil, bahwa danau toba telah diketahui dan dikunjungi oleh wisatawan Manca Negara dari berbagai belahan.
Menurut data yang ada, bahwa Danau Toba meliputi luasan daerah 3,658 Km2, dengan luas permukaan danau 1,103 Km2. Sisa dari luasan area tersebut sekitar 43% merupakan bukit-bukit dan 30% bergunung-gunung, dengan puncak tertinggi 2,000 m di atas permukaan laut, sehingga suhu dan hawa di danau ini boleh dikatakan sangatlah bersahabat. Tidak dingin dan tidak panas.

Berkeliling Danau Toba, kita tidak terlepas dengan daerah (Desa, Kota, Kecamatan dan Kabupaten) yang memiliki Tao Toba. Kalau melihatletak geografisnya, Tao Toba dimiliki oleh 7 (tujuh) yakni; Kabupaten Karo (Tongging), Kabupaten Dairi (Silahi Nabolak), Kabupaten Samosir (Pangururan), Kabupaten Humbahas (Bakkara), Kabupaten Tobasa, Tapanuli Utara dan Kabupaten Simalungun.

Bersaing Sehat

Amatan penulis, bahwa kesemua Kabupaten yang memiliki Tao Toba sudah saatnya melakukan persaingan sehat untuk meningkatkan agrowisata di daerah masing-masing. Persaingan sehat dimaksud adalah pengelolaan objek wisata secara profesional dan proporsional tanpa ada masyarakat setempat yang dirugikan.

Jangan pula nanti setelah investor masuk ke daerah ini, semuanya menjadi hak dan wewenang mereka. Kita tidak menolak pembangunan melalui investor, akan tetapi kita juga butuh penghargaan dan dihormati di daerah kita, ujar salah seorang pemerhati wisata suatu waktu.

Drs Daulat Daniel Sinulingga (saat menjabat Bupati Karo) dalam sekapur sirih di Booklet Pariwisata Karo mengatakan, bahwa pemerintah Kabupaten Karo membuka selebar-lebarnya bagi investor untuk menanamkan modal ke kabupaten Karo. Pemerintah Karo siap memberikan kemudahan, fasilitas dan perangkat pendukung lainnya yang dibutuhkan untuk berinvestasi secara mudah dan aman.

Pun demikian, tangan terbuka oleh warga yang berdiam di objek wisata juga sangat perlu. Dengan kata lain, sinergisasi antara pemerintah dengan masyarakat setempat sangatlah mendukung kemajuan dan pembangunan sektor pariwisata di daerah kita masing-masing. Karena, selain para wisatawan yang datang dapat menikmati objek wisata tersebut, warga setempat juga akan kebagian hasil objek wisata tersebut, asalkan kita mau memberikan perhatian.

Menjadi Perhatian

Akses yang kurang menjadi satu dari sekian banyak hal yang menghambat perkembangan wisata pada seluruh objek wisata pinggiran Danau Toba. Seperti yang penulis perhatikan jalan menuju Daerah Tujuan Wisata (DTW) Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Bagian belakang mobil bus pariwisata pernah sangkut saat hendak menuruni liku-liku jalan yang penuh tikungan. Dengan kata lain, upaya pelebaran jalan yang dilakukan oleh Pemkab Samosir adalah salah satu langkah yang sangat positif untuk menambah jumlah kunjungan wisata.

Demikian juga kesan kurang terawat terhadap Danau Toba dan perbukitan yang gundul terlihat jelas di berbagai tempat lokasi wisata. Cuaca yang terik akhir-akhir ini semakin mengesankan kegersangan. Selain itu, mata pencaharian melalui peternakan ikan di keramba juga salah satu faktor mengurangi indah dan birunya air Danau Toba. Bahkan, keramba tersebut memasuki zona-zona vital objek wisata yang dapat dipergunakan oleh wisatawan. Kalaulah harus beternak dengan keramba, seharusnya para pengusaha dan pemerintah serta pengeola pariwisata setempat berunding untuk menentukan titik-titik yang dapat dipergunakan untuk itu. Jangan semua tempat.

Seirama

Meningkatkan kunjungan dan mengangkat nama Tao Toba memang bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan waktu dan tenaga. Dibutuhkan keprofesionalan, keproporsionalan dan dukungan segala pihak baik intern maupun ekstern. Maksud saya, baik dari dinas terkait serta dinas yang berhubungan erat dengan pariwisata, seperti dinas kebersihan dan pertamanan, dinas kehutanan dan dinas yang lainnya.

Tidak ketinggalan juga, peran serta masyarakat baik pelaku pariwisata (para pedagang dan penyedia jasa pariwisata) maupun masyarakat biasa supaya memberikan hati untuk pembangunan pariwisata. Kalaupun kita belum dapat menikmati hasilnya saat ini, yakin dan percayalah anak cucu kita kelak akan menikmatinya.

Kalau segala pihak sepakat untuk mengangkat nama Tao Toba tersebut, segala cita-cita akan dapat tercapai. Seperti perumpamaan orang Batak Tapanuli yang mengatakan, Tappak do tajom na, rim ni tahi do gogo na. (Kebersaman dan gotong-royong serta keseiramaanlah kunci utama keberhasilan dalam pembangunan yang kita harapkan).

Walau jalan lingkar luar Danau Toba sepanjang 248,53 kilometer di tujuh kabupaten yang dideklarasikan tahun 2004 belum terwujud, kita jangan berpangku tangan dalam pengembangan Danau Toba kita. Karena apapun ceritanya, Tao Toba milik kita, milik anak cucu kita. Jadi, masa depan Tao Toba kita tentukan hari ini.***
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Sabtu, 19 Mei 2012 02:09 WIB
Puas Jajal Lintasan di Pinggiran Danau Toba
Senin, 30 Apr 2012 00:04 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris