Oleh: Anthony Limtan. Earnus, salah seorang perserta rombongan yang saya bawa raun-raun mengitari keindahan Pulau Samosir hanya dapat terkagum-kagum menikmati keindahan Danau Toba dari berbagai sisi. Selain terbiasa menghabiskan masa liburan dengan keluarga di luar negeri, destinasi wisata lokal pada hari libur, Earnus paling banter menikmati sejuknya udara Berastagi atau ke Parapat.
Tapi kali ini Earnus benar-benar takjub ketika saya bawa ke Pantai Pasir Putih, sekitar 10 kilometer dari kota Pangururan.
"Saya tidak tahu kalau di Samosir ada pantai berpasir putih seindah ini. Ada deburan ombak memecah di tepi pantai, persisnya seperti nuansa di tepi laut," sebut Ernus yang juga memboyong putrinya yang selama ini bermukim di Singapura.
Rombongan kami 30 orang dengan lima mobil sebelumnya hanya bertujuan bermain di daerah Ambarita dan sekitar Tuktuk. Tapi begitu mendengar ajakan saya ke lokasi Pantai Pasir Putih di Desa Parbaba, bagian dari Kecamatan Pangururan, rekan kami, Burhan dan Arie Dermawan langsung menyetujui tujuan lokasi baru ini.
Dari Ambarita ke lokasi ini memakan waktu sekitar 45 menit dengan kendaraan mobil kecepatan 70 km/jam dalam kondisi jalan yang mulus. Sebelum memasuki area Pantai Pasir Putih, di tepi jalan tampak sebuah plang yang bertuliskan Obyek Wisata Pasir Putih, maka kendaraan kami satu persatu berbelok ke kanan dan menuju ke pantai yang jaraknya sekitar 100 meter dari tepi jalan Tuktuk-Pangururan.
Untuk masuk ke lokasi ini, pengunjung hanya dikutip retribusi Rp2000 per orang. Sesaat kemudian kami pun tiba di tepi Pasir Putih, menikmati hembusan angin sejuk. Rekan kami istri Burhan dan Earnus juga memboyong anjing Peking kesayangannya. Seketika itu dibiarkan kedua hewan eksotik itu berlari-lari menyusuri pantai berpasir putih itu.
Tanpa dikomando, anak anak yang turut dalam rombongan kami mulai bermain pasir dengan membuat anggokan atau menguburkan sebagian tubuhnya ke dalam pasir putih itu.
Ketika bermain di tepi pantai sembari memperhatikan riak riak air danau itu, ditemukan semacam biota laut, mirip kepa atau kerang ukuran kecil. Anak-anak pun kegirangan memungut kepa air tawar itu. Layaknya seperti suasana di laut. Namun hal yang membedakan, suasana di Pantai Pasir Putih, udaranya bertiup menyegarkan, tidak ada aroma khas laut, bau amis dan udaranya lembab dan lengket di sekujur tubuh.
Beberapa rekan kami langsung pasang badan untuk diabadikan.
"Saya yakin rekan yang melihat foto ini akan percaya fose ini di Pantai Kuta Bali," ujar Felicia yang begitu mengagumi suasana pantai itu.
Keberadaan pantai ini juga menopang perekomian desa itu. Di antara warga setempat terlihat membuka usaha warung kopi sekaligus menjajakan makanan ringan berupa mie rebus, nasi goreng dan panganan lainnya.
Jasa penyewaan tikar juga diminati pengunjung. Tikar lebar yang disewa sekitar Rp20 ribu, pengunjung bisa merebahkan diri beristriharat di bawah rindangnya pohon ariara.
Sambil duduk-duduk menunggu pesanan kopi, kami begitu menikmati suasana sore itu. Beberapa teman tadinya berniat menceburkan diri di danau itu urung karena tidak membawa pakaian. Namun di sana juga terlihat pedagang menyediakan celana puntung.
Perlahan-lahan langit di Danau Toba mulai memerah, waktu tersebut kembali kami gunakan untuk berfoto ria. Nun jauh di sana tampak Gunung Pusuk Buhit berdiri kokoh di antara hamparan belerang putih kehitaman. Kami pun sepakat menghabiskan waktu tersisa mengunjugi pantai Pangururan yang hanya memakan waktu 25 menit dari Desa Parbaba.
Bukan tanpa Cela
Akhirnya, kami pun meninggalkan Pantai Pasir Putih dan berharap pada kunjungan berikutnya kami akan ke sini lagi. Begitupun, keberadaan pantai ini bukan tanpa cela (kendala), yakni soal kebersihan. Pantai pasir putih ditingkahi riak-riak kecil layaknya memang cocok untuk bermandi ria. Tapi pemandangan yang kurang nyaman terlihat warga desa menyuci pakaian atau peralatan dapur di tepi pantai itu.
Tampak juga seorang ibu paroh baya mengeramas rambutnya dengan shampo di tepi danau itu. Kira-kira seratus meter dari tepi pantai, terlihat juga keramba ikan milik warga setempat menjamur. Tentunya hal ini juga mengurangi keindahan dan kebersihan air danau.
Tadinya rekan kami berencana akan menceburkan diri di pantai itu jadi urung. Selain tidak menemukan kamar ganti yang bersih dan bebas aroma pesing, obyek wisata ini juga bagai tak tertata dengan baik. Area parkir kendaraan roda empat juga belum ditata dengan baik. Kendaraan kami hanya parkir seadanya tanpa petugas yang mengatur.
Kami parkir di belakang warung yang permukaan tanahnya berpasir dan berbukit.
Begitu pun, rombongan tour kami sepakat, Pantai Pasir Putih bakal akan menjaring wisatawan domestik maupun mancanegara lebih banyak lagi, khususnya turis Eropa yang senang berjemur di tepi pantai, lokasi inilah tempatnya. Yang penting pengelola obyek wisata di sini dan pemerintah setempat harus bahu membahu menjaga kebersihan dan menambah fasilitas pendukung.
Obyek wisata Pantai Pasir Putih selama ini mungkin tidak banyak yang tahu. Selama ini, kunjungan wisatawan domestik di kawasan Danau Toba hanya tertuju pada pada Parapat, Tuktuk, Tomok dan sebagian Ambarita, padahal sisi lain Danau Toba masih banyak yang menakjubkan, seperti pengakuan Earnus di awal cerita ini.
Bagi yang hobi wisata petualang, yang fisiknya kuat, tidak mabuk jalan, cinta pesona alam, tidak mempersoalakan berapa jauh rute yang akan ditempuh, Anda boleh menikmati rute eksotik ini. Medan - Parapat - Tomok -Tuktuk - Ambarita - Pantai Pasir Putih Pangururan - Tele - Sidikalang - Kabanjahe - Berastagi dan kembali ke Medan.
Sepanjang jalan Anda akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan dan semilir angin segar.
Dermaga Simanindo
Rute lain, bagi Anda yang ingin keluar dari Pulau Samosir dapat juga melalui Pelabuhan feri Simanindo dengan KMP Sumut II. Feri yang baru dioperasikan setahun lalu mampu mengangkut sekitar 10 kendaraan jenis minibus ke Pelabuhan Tigaras. Waktu tempuh hanya setengah jam.
Kapal yang melintasi rute baru ini berangkat setiap tiga jam sekali dari Simanindo atau Tigaras. Berangkat dari Tigaras pukul 09.00 - 12.00- 03.00 dan pukul 18.00.
Setibanya di dermaga Tigaras Anda tinggal memilih apakah akan melanjutkan perjalanan ke Medan via Pematang Siantar atau Berastasi. Jika Anda memiliki rute Pematang Siantar, pilihlah rute yang melewati perkebunan teh di Sidamanik. Dari sini tatapan Anda akan dimanjakan hamparan kebun teh yang konon terluas di negeri ini.
Sedangkan bila Anda memilih kembali ke Medan via Kabanjahe, perjalanan Anda sudah pasti melewati Desa Simarjarunjung. Di sini mata Anda juga kembali disuguhi pemandangan Danau Toba yang luar biasa. Silakan tentukan, karena kenikmatan yang kita raih tidak selamanya pada daerah tujuan, tapi juga ada dalam sepanjang perjalanan.