21
Mei
 
A A A
Gaya Hidup - Minggu, 12 Feb 2012 00:27 WIB
Makna Cinta
Ilustrasi
Oleh : SAURMA. "Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang. Jangan menangis kekasihku, janganlah menangis dan berbahagialah karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah, kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan dan duka perpisahan" (Khalil Gibran).
Cinta, dimaknai oleh pujangga dunia Khalil Gibran sebagai sebuah pengorbanan atas berbagai derita di dunia ini. Demikian mendalamnya perasaan itu diartikannya, sehingga cinta dianggap sebagai perekat yang saling menguatkan satu sama lain dari dua orang yang saling mencintai.

Bagi Gibran, cinta tidak harus bersama, seperti sekarang ini sering dijadikan syair pada lagu-lagu romantis. Sehingga, setiap orang yang saling mencintai dapat saja tidak hidup bersama namun tetap memelihara perasaan itu dengan pengorbanan yang cukup menyakitkan.

Tapi rasa sakit itu justru seakan memberi kekuatan tersendiri yang membuat pasangan yang saling mencintai merasakan sebuah keindahan yang sulit terkatakan.

Simak saja, Gibran yang berupaya membujuk kekasih hatinya dengan seruan jangan menangis. Dia dapat merasakan bagaimana kepedihan sang kekasih hatinya saat mereka tidak dapat bersatu dalam kebersamaan. Namun baginya itu adalah realitas yang harus dihadapi.

Ia bahkan memberikan ‘mimpi’ baru bagi kekasihnya dengan seruan cinta akan menyatukan mereka dalam kehidupan yang akan datang. Sebuah janji yang membuai sang kekasih yang hatinya tengah pedih atas perpisahan yang terjadi.


PENGORBANAN

Cinta memang merupakan pengorbanan. Apakah itu cinta antara dua insan, cinta orangtua terhadap anaknya, cinta sesama dan cinta bangsa dan tanah air. Semua membutuhkan pengorbanan yang akan membuat setiap pemilik rasa cinta itu akan merasakan keindahan tersendiri dalam kehidupan cinta mereka.

Pengorbanan dimulai dari pengorbanan waktu, tenaga, materi, perasaan, harga diri hingga darah dan nyawa. Semua dapat saja menjadi bukti cinta terdalam dari seseorang. Diberikan dengan demikian tulus dan ikhlas demi orang yang dicintainya.

Tak jarang, orang bahkan rela melakukan sesuatu yang tidak masuk akal untuk menunjukkan rasa cintanya. Kita sering mendengar ucapan penyair yang berkata gunungpun akan kudaki, lautpun kuseberangi. Semua itu kata-kata nan maha indah untuk menunjukkan seorang pecinta akan melakukan hal terberat sekalipun demi orang yang dicintainya.


CINTA SEBENARNYA

Tapi, apakah cinta namanya jika kita memerlukan pengorbanan yang tidak masuk akal dari orang yang menyatakan mencintai kita? Apakah benar kita mencintainya ketika kita justru membuatnya hidup menderita dengan perlakukan, ucapan dan sikap kita?

Ada banyak kasus, dimana seseorang menyatakan dengan tegas dirinya mencintai pasangannya, tetapi pasangannya justru merasa sangat menderita olehnya. Kontradiksi ini tentu tidak menunjukkan cinta yang sebenarnya. Sebab cinta yang sebenarnya, tentulah justru menunjukkan pemahaman dan pengertian yang cukup besar atas pasangannya.

Demikian pula dengan orang yang mengakui mencintai seseorang, tetapi tidak pernah memberi kesempatan bagi pasangan yang mencintainya untuk menunjukkan perasaan cintanya. Orang ini membatasi pasangannya memberinya sesuatu yang dianggap pasangannya sebagai hal yang dapat membahagiakannya. Tentu saja menjadi pertanyaan, apakah benar orang ini mencintai orang yang mencintainya itu?

Bisa saja, cinta yang dinyatakannya hanyalah cinta di bibir ataupun cinta yang hanya ingin memiliki. Setelah seseorang yang dicintainya itu dikuasai oleh rasa cintanya dan dimilikinya, lalu semua dibiarkan begitu saja. Cinta demikian ini tentu bukan cinta yang sebenarnya, dimana seseorang merasa satu dengan pasangannya, tanpa rasa curiga. Merasa satu hati dan satu perasaan, sehingga tidak ingin melukai hati pasangannya.


BAHAGIA

Sebab, cinta sebenar cinta, tentulah ditandai dengan sikap, tindakan dan ucapan yang terbaik, dengan ketulusan dari lubuk hati yang terdalam, tanpa memandang untung-rugi dalam melakukan dan menyatakan sesuatu buat orang yang kita cintai.

Karena inti dari rasa cinta adalah kebahagiaan. Dan ketika keduanya melakukan hal yang sama, saling memberi kebahagiaan, maka kebahagiaan itu menjadi milik bersama, bagi keduanya. Sehingga, setiap orang yang ingin pasangan yang dicintainya merasakan cintanya, tentu ingin pula memberikan kebahagiaan bagi pasangannya itu.

Apakah kebahagiaan dengan memberikan apa yang diinginkan pasangan, maupun memberikan kejutan-kejutan yang membahagiakannya. Apa yang diinginkan pasangan biasanya adalah apa yang dikatakan pasangan pada kita. Baik itu dalam artian sikap, tindakan maupun pemberian.

Kejutan bagi pasangan berarti sesuatu yang tidak terduga yang membuatnya merasa sangat berbahagia. Artiya jelas sangat berbeda dan memiliki nilai lebih tinggi dari sekedar memenuhi apa yang diinginkan orang yang kita cintai.

Kejutan bermakna, kita menyelami betul perasaan orang yang kita cintai, sehingga kita mengetahui secara persis apa yang diinginkannya, yang justru tidak pernah diucapkannnya. Sehingga hal ini tentu memerlukan perhatian yang ekstra tinggi dari seseorang pada pasangan yang dicintainya. Sebab ia dapat membaca apa yang tersirat dan ada di dalam hati sang pasangan.

Pada akhirnya, sebagaimana Gibran katakan di atas, hanya dengan cinta yang indah, kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan dan duka perpisahan. Dengan demikian, ketika keduanya merasa satu hati, satu perasaan, satu perjuangan, tentu tidak ada lagi curiga dan yang ada hanya kepasrahan saat badai datang menghantam dan memisahkan keduanya. Sebuah makna cinta!
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Hari ini Pkl. 00:03 WIB
6.000 Anak Tangga
Kamis, 03 Mei 2012 00:08 WIB
Senin, 16 Apr 2012 07:40 WIB
Minggu, 15 Apr 2012 00:03 WIB
Minggu, 15 Apr 2012 00:02 WIB
Minggu, 15 Apr 2012 00:02 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris