21
Mei
 
A A A
Opini - Kamis, 16 Feb 2012 01:50 WIB
Cuaca Ekstrem di Eropa dan Pemanasan Global
Ilustrasi
Oleh : Jakob Siringoringo. Setidaknya ratusan korban jiwa akibat cuaca yang melanda Eropa terjadi dalam seminggu terakhir. Seperti dilansir media massa maupun elektronik negara-negara seperti Polandia dengan sembilan korban, lima tewas di Bulgaria, di Ukraina 131 orang meninggal. Sampai pemberitaan Selasa (7/2) diperkirakan 360 orang tewas karena kedinginan.
Suhu yang melorot drastis hingga ke titik yang jauh di bawah nol (hingga mencapai minus 42,7 derajat celcius) merupakan suhu terekstrem dalam sejarah musim dingin bersalju di sana. Umpamanya di Ukraina, cuaca buruk kali ini merupakan yang terparah selama enam tahun belakangan ini. Sementara di Roma, Italia kondisi cuaca secara khusus hujan salju, baru kali ini yang paling hebat sepanjang 27 tahun terakhir. Berita ini merupakan sebuah fenomena baru yang seyogianya dan memang harus kita simak secara patut dan penuh kewaspadaan.

Perubahan Iklim

Fenomena pemanasan global berarti terdapatnya perkiraan cuaca yang sulit ditebak. Ketika es mencair di Kutub Utara merupakan sebuah fakta yang terjadi akibat panas yang berlebih sehingga bongkahan gunung es raksasa pun bisa meleleh. Kini sebaliknya, menurunkan hujan salju hingga membentuk daratan salju yang sangat tebal dan mengkhawatirkan. Di sini pemanasan global menyangkut musim dingin yang tidak biasa, gelombang udara dingin, topan dan badai sebagai kemasan pemanasan global yang situasinya sama sekali belum bisa ditebak. Barangkali yang dapat kita tebak, baru sekadar kemungkinannya terjadi, yaitu dampak pemanasan global bisa terjadi di mana saja.

Menyimak berita tentang cuaca ekstrem yang terjadi di Eropa selama sepekan terakhir patut kita memalingkan logika pada pemanasan global. Faktor pemanasan global yang berdampak pada pergantian suhu atau iklim yang tak menentu menjadi terasa amat dekat terhadap pemandangan yang baru saja terjadi. Akibat yang tak terduga oleh badan meteorologi klimatologi dan geofisika (BMKG) yang secara ilmiah dapat memprediksi keberadaan cuaca.

Pemanasan global akhir-akhir ini telah mencuat sebagai bentuk tanda-tanda alam yang tidak lagi bergerak pada kedudukan semula secara alami. Gempa, tsunami, banjir, umumnya kita kenal sebagai bencana yang terjadi secara alamiah dan melalui pengalaman beberapa kali, sudah dapat dicegah melalui pemberitahuan tanggap darurat.

Akan tetapi, panas tiba-tiba hujan sembarangan turun bisa terus-menerus selama berbulan-bulan pada suatu wilayah hingga mengakibatkan banjir rob, es di kedua kutub bumi pecah akibatnya menaikkan air laut di mana risikonya dapat menenggelamkan pinggir-pinggir pantai dengan penduduknya, bahkan lebih hebat dapat menenggelamkan sebuah pulau, badai matahari yang menyebabkan musim gugur terjadi di daerah tropis laiknya di negara-negara Barat atau Timur Jauh, tidak bisa dengan gampang diantisipasi sekalipun teknologi sangat canggih.

Kita turut prihatin terhadap Eropa yang dilanda cuaca ekstrem di mana banyak penduduk yang terjebak di dalam mobil di perjalanan ataupun di tengah perkampungan yang tidak bisa beraktifitas akibat salju yang beku begitu tebal dan menutupi seluruh permukaan tanah dengan kondisi suhu sangat dingin. Terutama sangat sedih mengetahui bahwa penduduk yang terjebak sebagian besar misalnya anak-anak, orang tua lanjut usia bahkan wanita-wanita hamil yang harus ditolong secara darurat. Lebih mengenaskan lagi, kondisi buruk yang sangat mengganggu, tidak bisa melakukan evakuasi terhadap warga sekalipun melalui helikopter karena hujan salju yang begitu membahayakan. Sungai-sungai untuk penyeberangan melalui kapal bot pun tertutup oleh salju yang membeku di tengahnya. Dengan demikian transportasi sungai terputus.

Lebih lanjut setelah salju yang membekukan daratan Eropa dan menewaskan ratusan manusia, maka bahaya yang menanti di depan adalah banjir. Dengan suhu yang berangsur membaik dalam beberapa hari ke depan diperkirakan salju yang menebal itu akan meleleh dan mengakibatkan banjir yang membahayakan jika tidak segera ditangani secara bertahap. Seperti di Bulgaria telah delapan orang tewas akibat banjir bandang setelah sebuah bendungan jebol, Senin (6/2).

Di Amerika Latin baru-baru ini juga terjadi kekeringan yang membuat belahan benua Amerika itu seperti api neraka. Di Filipina belum lama ini juga terjadi bencana alam dahsyat, yaitu gempa yang menewaskan 43 orang. Sementara di Australia banjir juga memburuk. Semuanya ini kiranya masih sangat dekat dengan fenomena pemanasan global yang belum membuat kita sadar. Namun, ekspektasi kita ke depan dapat lebih lekas memahami bahaya pemanasan global dengan menghindari perilaku yang kian lama kian tidak bersahabat terhadap bumi.

Pelajaran dari Eropa

Kita telah menyaksikan berita cuaca buruk yang menghantam Eropa. Seyogianya kita dapat belajar banyak dari pengalaman yang sudah ada di sana, meskipun situasinya berbeda dengan di Indonesia. Akan tetapi rentetan pemanasan global sepertinya berputar terus-menerus tidak hanya pada satu benua, tidak juga hanya pada sebuah wilayah, sebaliknya akan berdampak pada tempat lainnya.

Menurut para ilmuwan, pengaruh cuaca ekstrem yang terjadi di Eropa ini akan sampai juga di daratan Asia termasuk Indonesia. Pengaruh itu berupa angin kencang dan curah hujan yang tinggi sebagai bentuk lain dari musim dingin di Eropa. Hal ini patut diwaspadai. Tentunya pesannya supaya kita semua turut menjaga lingkungan dari kemungkinan terjadinya pemanasan global walau sangat kecil.

Di Medan baru-baru ini terjadi musim gugur yang aneh. Tentu ini juga merupakan fenomena alam yang baru dan nyaris tidak mungkin sebab belum pernah terjadi di kota ini musim gugur sebagaimana di negara-negara yang memiliki musim tersebut. Barangkali badai matahari menjadi faktor penyebabnya meskipun belum absah dipastikan. Yang pasti, fenomena ini sangat jarang terjadi, sekalipun musim kemarau.

Untuk memahami cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini sudah saatnya pemerintah lebih serius memperhatikan. Dengan jalan memfasilitasi dan mengagendakan kerja sama masyarakat guna mencari solusi untuk mengatasi masalah lingkungan. Seperti penanganan masalah sampah sejatinya lebih didisiplinkan. Buang sampah sembarangan di berbagai tempat sudah sejatinya didisiplinkan melalui peraturan.

Selain itu, tanggap darurat juga tetap harus diperbarui menurut teknologi yang memungkinkan pengamatan cuaca lebih mungkin diprediksi. Secara langsung, misalnya penanganan ketika musim tiba-tiba mengamuk lalu terjadi puting beliung dan menumbangkan pohon. Pada masalah ini, baiklah sudah ada pencegahan terhadap pohon tumbang. Atau ketika hujan tidak terprediksi sehingga menimbulkan banjir. Seharusnya seluruh saluran air dipastikan tidak dipenuhi sampah atau unggukan apa pun sehingga tidak menghalangi laju derasnya hujan. Dengan demikian, mencegah banjir lebih lama dan lebih baik luput.

Artinya, antisipatif dengan usaha tak kenal lelah dan bersungguh-sunguh demi keselamatan bersama adalah pesan penting dari peristiwa cuaca ekstrem di Eropa.***

Penulis, Pengurus di Pondok Diskusi (PD) KDAS dan Pegiat 54321 Community

Baca Juga Artikel Berita Terkait
Sabtu, 12 Mei 2012 00:29 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 06:49 WIB
Dampak Cuaca Ekstrem di Medan
Senin, 07 Mei 2012 06:38 WIB
Selasa, 01 Mei 2012 00:01 WIB
Jumat, 27 Apr 2012 06:47 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris