Singapura, (Analisa). Banyak investor mengkhawatirkan krisis utang Eropa dan mendiskusikan dampaknya terhadap pertumbuhan global tapi sesungguhnya Asia menghadapi risiko yang lebih besar yakni kenaikan harga minyak.
"Ketika semua orang fokus ke Yunani, ada risiko yang lebih besar bagi Asia, yaitu kenaikan harga minyak," ujar Fredric Neumann, Wakil Kepala Riset Ekonomi Asia, HSBC.
"Jika harga minyak mentah terus meningkat, akan memadamkan upaya pemulihan yang kita lihat di Amerika Serikat dan akan membebani ekspor Asia," imbuhnya, seperti dikutip cnbc.com.
Harga minyak Brent sekarang ini diperdagangkan sekitar 120 dolar AS per barel, harga tersebut lebih mahal sekitar 10 dolar dibanding tahun lalu. Neumann meyakini ketidakpastian geopolitik dan permintaan berlimpah dari Asia akan mendorong harga minyak lebih tinggi lagi pada tahun ini.
"Mereka yang percaya bahwa pelemahan di Eropa akan mengendalikan harga minyak dalam jangka pendek, telah meremehkan permintaan Asia," tegasnya. Kawasan Asia, kata Neumann akan menghadapi dampak terbesar dari kenaikan harga minyak.
Menurut data HSBC, sebagian besar ekonomi Asia sangat energi intensif. Asia, termasuk Australia dan Selandia Baru, adalah konsumen minyak mentah terbesar dunia, yang menyedot 32 persen pasokan minyak dunia. Lebih besar dibanding Amerika Utara (26 persen), dan Eropa (hampir 17 persen).
Neumann berpendapat, dampak terbesar dari tingginya harga minyak akan lebih mempengaruhi pertumbuhan ketimbang inflasi. "Jika harga naik hingga 140 dolar per barel tahun ini, berarti terjadi kenaikan rata-rata kenaikan 30 persen dibanding tahun lalu. Dari perspektif inflasi, kenaikan ini masih dapat dikelola," ungkapnya. "Akan sangat mengkhawatirkan bagi inflasi, jika harga berubah 90 persen seperti terjadi pada 2008," Neumann menambahkan. (IntrNew/ipot)