21
Mei
 
A A A
Rebana - Minggu, 19 Feb 2012 00:01 WIB
Puisi
Lelaki yang Berada Antara Waktu dan Rahasia
.
Oleh: David Tandri

dia lalu berada kembali sebagai lelaki,

dengan wajah yang kini lain

juga langkah yang mendingin,

berjarak setapak-setapak saja sejauh apa dia ingin

dia mulai jenuh menjadi lelaki yang terlalu mudah merasa

waktu hanya seperti angin yang sementara

sehabis menipu semudah itu pula pergi

sementara dia belum sempat berpaling ke mana-mana

sudah tersesat lagi
kini dia mengerti dan berkali-kali lipat lebihnya dia hati-hati

pada usia yang baru-baru mulai tinggi

beratus-ratus mimpi masih berjaga

bertanya pada rahasia: siapa lagi berani peduli, kalau bukan satu-satunya dia


hidup pasti meredup, sebagaimana dia akan sakit dan menelungkup

sebelum akhirnya tercengang

bahwa setiap perbatasan adalah begitu dekat

dengan bermacam rasa dan peristiwa


senja itu biarlah menguning dengan sendirinya

sebab tidak ada bedanya terlalu peka dengan berpura-pura buta

kalau ada yang tidak pernah bisa diingat

dan ralat

dari lamunan kanaknya


semua mimpi sama saja, mengarang makna sesuka-sukanya

seperti lelaki itu, yang sudah menganggap dirinya adalah keturunan rahasia

lelaki yang telah dikelabui oleh segala kerut-kecut dunia

termasuk gerimis-manis yang nekat mendusta begitu fana


Lelaki itu aku!

Medan, 19 Januari 2012

 

 


PUISI TENTANG PUISI

puisi pertama dimulai dari hanya debu

hinggap pada jiwa yang ragu

bisa lugu bisa pula ambigu


puisi tulus tak perlu kaku

kata-kata bertengkar langgar rambu

penyair tegar belajar dari gerutu


puisi seru seperti candu

pada mulanya tenang menjaga kalbu

mabuk diburu kelu dan keliru


puisi teguh seutuh batu

gaya tari boleh taat pada jerat lagu

kaki berputar tetap di satu sumbu


puisi bukanlah kelakar pemanis dagu

atau gurat manis pemikat haru

puisi jauh dari khayalan palsu

penyair tahu mana batasan kias mana batasan tabu


puisi adalah pertaruhan waktu

sebelum manusia mati merindu

rancu jadi abu

Medan, 05 Februari 2012

 

 


Oleh: Liandi Prassetiyadi

SOLOIS GERIMIS

di paru-parumu, aku hanya bisa membayangkan hujan

berdoa semoga tubuhmu berwujud angin

seperti desir angin pekat menguruk pasir yang diuruk

mengalun apa saja yang dulu terayun

sedalam langit-langit

kaulah penembang merdu lagu, dari sekian banyak

penembang berseragam air. aku terjerembab

dalam solois gerimismu mencium ritme

saat ini

aku hanya bisa meraba, senyummu di beranda senja

yang kerap kali berganti wujud tergantung kapan

mendung tak berarti kelabu.

Medan, 2011

Baca Juga Artikel Berita Terkait
Rabu, 16 Mei 2012 07:56 WIB
Minggu, 13 Mei 2012 00:12 WIB
Puisi
Rabu, 09 Mei 2012 07:40 WIB
Rabu, 02 Mei 2012 07:25 WIB
Rabu, 25 Apr 2012 07:29 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris