Oleh: David Tandri
dia lalu berada kembali sebagai lelaki,
dengan wajah yang kini lain
juga langkah yang mendingin,
berjarak setapak-setapak saja sejauh apa dia ingin
dia mulai jenuh menjadi lelaki yang terlalu mudah merasa
waktu hanya seperti angin yang sementara
sehabis menipu semudah itu pula pergi
sementara dia belum sempat berpaling ke mana-mana
sudah tersesat lagi
kini dia mengerti dan berkali-kali lipat lebihnya dia hati-hati
pada usia yang baru-baru mulai tinggi
beratus-ratus mimpi masih berjaga
bertanya pada rahasia: siapa lagi berani peduli, kalau bukan satu-satunya dia
hidup pasti meredup, sebagaimana dia akan sakit dan menelungkup
sebelum akhirnya tercengang
bahwa setiap perbatasan adalah begitu dekat
dengan bermacam rasa dan peristiwa
senja itu biarlah menguning dengan sendirinya
sebab tidak ada bedanya terlalu peka dengan berpura-pura buta
kalau ada yang tidak pernah bisa diingat
dan ralat
dari lamunan kanaknya
semua mimpi sama saja, mengarang makna sesuka-sukanya
seperti lelaki itu, yang sudah menganggap dirinya adalah keturunan rahasia
lelaki yang telah dikelabui oleh segala kerut-kecut dunia
termasuk gerimis-manis yang nekat mendusta begitu fana
Lelaki itu aku!
Medan, 19 Januari 2012
PUISI TENTANG PUISI
puisi pertama dimulai dari hanya debu
hinggap pada jiwa yang ragu
bisa lugu bisa pula ambigu
puisi tulus tak perlu kaku
kata-kata bertengkar langgar rambu
penyair tegar belajar dari gerutu
puisi seru seperti candu
pada mulanya tenang menjaga kalbu
mabuk diburu kelu dan keliru
puisi teguh seutuh batu
gaya tari boleh taat pada jerat lagu
kaki berputar tetap di satu sumbu
puisi bukanlah kelakar pemanis dagu
atau gurat manis pemikat haru
puisi jauh dari khayalan palsu
penyair tahu mana batasan kias mana batasan tabu
puisi adalah pertaruhan waktu
sebelum manusia mati merindu
rancu jadi abu
Medan, 05 Februari 2012
Oleh: Liandi Prassetiyadi
SOLOIS GERIMIS
di paru-parumu, aku hanya bisa membayangkan hujan
berdoa semoga tubuhmu berwujud angin
seperti desir angin pekat menguruk pasir yang diuruk
mengalun apa saja yang dulu terayun
sedalam langit-langit
kaulah penembang merdu lagu, dari sekian banyak
penembang berseragam air. aku terjerembab
dalam solois gerimismu mencium ritme
saat ini
aku hanya bisa meraba, senyummu di beranda senja
yang kerap kali berganti wujud tergantung kapan
mendung tak berarti kelabu.
Medan, 2011