21
Mei
 
A A A
Rebana - Minggu, 19 Feb 2012 00:05 WIB
Cerpen
Hape untuk Emak
.
Oleh: YS Rat. UANG emak hilang 25 juta rupiah. Sehari-hari, setelah aku pergi bekerja, di rumah cuma ada emak yang telah berusia 70 tahun bersama Ratih, Gadis remaja anak tetangga kerabat emak di desa kelahirannya, yang diminta pada orang tuanya ikut ke kota dan tinggal di rumah untuk menemani emak sejak sekitar sebulan lalu. Ratih tak bersalah!
Sebagai satu-satunya anak –apalagi laki-laki– aku sadar betul memiliki tanggung jawab melindungi sekaligus membahagiakan emak. Terutama sejak ayah meninggal dunia dan tanpa mewariskan limpahan harta. Kecuali sebuah rumah sederhana dengan pekarangan lumayan luas yang berpuluh tahun lalu dibelinya, bermodalkan uang simpanan dari sisa gajinya sebagai buruh pabrik setelah pengeluaran setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan kami bertiga.

Beruntung aku memiliki ayah dan emak yang punya pemikiran dan cita-cita besar untukku, meski pendidikan mereka setingkat sekolah dasar pun tak tamat. Itulah sebabnya, ayah dan emak tak bosan-bosannya mengingatkanku agr fokus terhadap pendidikan. Bahkan, setelah aku kuliah ayah mengultimatum tak mengizinkanku menyambi bekerja.

Alhamdulillah, cita-cita emak dan ayah untukku membuahkan hasil. Tak berselang lama setelah kuliahku selesai, sebuah perusahaan swasta nasional menerimaku bekerja. Rupanya perjuangan ayah telah digariskan-Nya sebatas mengantarkanku hingga sarjana. Sebulan setelahnya, ayah sakit dan meninggal dunia.

* * *

Di saat usiaku memasuki 30 tahun, ada satu pertanyaan yang mulai emak ajukan kepadaku, nyaris saban hari sejak usiaku mencapai 25 tahun. Akhirnya lamat-lamat hanya sesekali dan kini setelah aku berusia 35 tahun sama sekali tak dilontarkannya lagi.

"Cuma satu keinginanku. Membahagiakan Emak. Jadi, perempuan untuk menantu Emak juga harus bisa memberikan rasa bahagia kepada Emak. Bersabar dan berdoalah, Allah pasti mengabulkannya," selalu seperti itulah dulu kukatakan pada emak setiap kali menjawab pertayaannya yang kuyakin sangat membebani jiwanya.

Banyak pertimbangan yang mengharuskanku tak buru-buru mematrikan pilihan. Selain supaya tak malah menambahberatkan beban pikiran emak di hari tuanya, juga tak memenjaraku untuk berbakti kepadanya. Makanya, dari lebih satu perempuan yang telah kucobajadikan pendampingku kelak namun akhirnya bersepakat memisah arah mencari pelabuhan hati masing-masing, tak pernah kuceritakan apalagi kukenalkan kepada emak.

Begitu jugalah sekarang, aku tak memberitahu emak perihal hubunganku dengan Lailan yang telah berjalan setahun dan bersepakat melabuhkan biduk cinta kami setahun mendatang. Lailan pun memaklumi alasanku sejak awal, tak ingin menyebabkan emak dirundung kecewa jika Allah tak mengabulkan cita-cita kami setelah emak mengenalnya. Itu sebabnya, kuyakinkan Lailan, pasti kukenalkan dia kepada emak sehari sebelum kami melamarnya.

* * *

Uang emak hilang 25 juta rupiah. Ratih tak bersalah meskipun di rumah sehari-hari cuma ada emak bersamanya, setelah aku pergi kerja.

Sejak sebulan lalu, kubelikan emak handphone -hape- supaya aku bisa mengetahui keadaannya sewaktu aku sedang tak di rumah. Karena usia emak yang telah lanjut, ditambah pendidikannya yang setingkat sekolah dasar pun tak tamat, menyebabkannya cuma bisa menggunakan hape untuk menerima panggilan, itu pun setelah berkali-kali aku menyontohkan caranya kepada emak. Kepada Ratih kuajarkan cara menerima dan mengirim pesan singkat, supaya kalau aku ingin mengetahui keadaan emak namun situasi tak memungkinkanku meneleponnya, Ratih bisa membalas pesan singkat dariku.

Aku baru sampai di rumah sepulang bekerja dan belum sempat berganti pakaian, ketika emak yang kelihatannya sangat gembira menyuruhku duduk di kursi ruang tamu. Sontak kecurigaanku mengarah pada dugaan emak akan mengulangi kebiasaan lamanya; bertanya kapan aku berumah tangga. Dugaanku ternyata meleset.

"Tadi, di talipon emak ada tulisan," kata emak yang memang cuma bisa membilang talipon untuk menyebut telepon atau handphone atau hape, juga tak mengerti istilah SMS atau pesan singkat kecuali mengatakannya tulisan.

"Aku yang ngirim tadi, Mak," balasku singkat.

"Bukan! Tulisan yang dari kau udah ditunjukkan Ratih. Ini yang lain lagi. Coba kau lihat sekarang," kata emak sambil menyerahkan hape kepadaku.

Setelah kubuka menu Pesan dan sub menu Pesan Masuk pada hape emak, di layar muncul tulisan memberitahu nomor hape emak mendapatkan hadiah uang tunai Rp 100 juta. Pesan berikutnya, pengirim menyuruh menghubungi seseorang di nomor yang diterakan di pesan singkat itu.

"Jadi...?" tanyaku gusar, namun kuusahakan ekspresi wajahku biasa-biasa saja agar emak tak bingung.

"Terus emak minta Ratih menalipon nomor di tulisan itu. Habis itu orang yang ditalipon Ratih menyuruh dikirim uang duapuluh lima juta ke tabungan dia. Katanya syarat supaya sebulan lagi hadiah yang seratus juta itu dia kirim ke tabungan emak," cerita emak bersemangat karena tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

"Sudah Emak kirim uangnya?" tanyaku lagi dengan ekspresi wajah tetap kuusahakan biasa-biasa saja.

"Udah, tadi Ratih sama emak pergi ke bank ngirim uang yang duapuluh lima juta itu. Jadi, kita tinggal nunggu hadiah yang seratus juta dikirim orang itu ke tabungan emak. Uang itu biar aja di tabungan emak, nanti untuk biaya kalau kau menikah," kata emak makin bersemangat.

"Ya sudah, nanti sebulan lagi kita sama-sama ke bank, melihat uang yang seratus juta itu sudah dikirim ke tabungan Emak atau belum," balasku, lantas pamit pada Emak untuk ganti pakaian dan istirahat.

* * *

Memenuhi janjiku sebulan lalu, barusan aku menemani emak ke bank. Sejak keluar dari bank, hingga tiba di rumah, rasa gembira menyertai emak. Benar, uang di tabungan emak telah bertambah seratus juta rupiah. Berkali-kali emak mengucap rasa syukur dan tak ketinggalan mengulang pertanyaan lamanya; kapan aku berumah tangga?

"Emak terserah kau saja, yang mana calon istrimu. Kalau kau belum punya pilihan, kerabat emak di kampung kan banyak yang punya anak gadis. Pasti banyak juga mereka yang setuju anak gadisnya kita lamar jadi istrimu," kata emak berapi-api.

"Kalau banyak, kurasa sebaiknya nggak usahlah anak gadis dari kerabat Emak itu. Yang kita lamar kan cuma satu, nanti yang lainnya merasa nggak enak," balasku, berharap emak berhenti bertanya kapan aku berumah tangga. Bukannya berhenti, emak malah antusias menyuruhku cepat membawa gadis pilihanku yang akan kujadikan menantunya.

"Pokoknya, asal menurut kau baik, emak setuju. Jadi, kapan kau bawa ke sini?" tanya emak penuh harap.

"Nanti, pasti kukenalkan sama Emak," jawabku sekenanya dan ternyata itu membuat emak merasa sangat bahagia sehingga dia tak bertanya lagi.

* * *

Uang di tabungan emak bertambah seratus juta rupiah. Uang emak tetap hilang 25 juta rupiah. Uang emak yang hilang itu sebagian dari uang miliknya yang sengaja kusisihkan dari gajiku setiap bulan dan kumasukkan ke tabungan atas nama emak. Pernah kukatakan pada emak, aku berharap dengan uang tabungan itu dia bisa pergi berhaji, namun emak menolaknya. Dia mengultimatumku, tak hendak berhaji sebelum aku berumah tangga dan nyatanya, hingga di usia emak yang kini kian lanjut, aku belum juga berumah tangga.

Besok, pasti kubawa Lailan ke rumah dan mengenalkannya kepada emak. Esoknya, kubawa pula emak bertemu dan berkenalan dengan keluarga Lailan, sekaligus kami melamarnya. Setelah itu, aku tak bisa menolak emak membiayai pernikahanku dengan Lailan dari uang di tabungannya, karena uang di tabungaku telah kandas.

- Sabtu, 28 Januari 2012, Medan

Baca Juga Artikel Berita Terkait
Rabu, 16 Mei 2012 07:44 WIB
Minggu, 13 Mei 2012 00:13 WIB
Cerpen
Rabu, 09 Mei 2012 07:37 WIB
Rabu, 02 Mei 2012 07:22 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris