21
Mei
 
A A A
Resensi Buku - Minggu, 19 Feb 2012 00:02 WIB
Tinjauan Buku
Dr. T.D. Pardede dalam Kenangan Seorang Anak
Dr. T.D. Pardede dalam Kenangan Seorang Anak
Oleh: Idris Pasaribu. PAK KATUA, itulah panggilan akrab terhadap seorang TD Pardede yang memulai kariernya dalam segala hal dari bawah. Mulai dari ikutsertanya dalam perjuangan kemerdekaan (pemilik Bintang Gerilya) dan pangkat terakhir dalam karier militernya adalah Letnan Satu (Lettu).
Judul : Ayahku Inspirasiku

Penulis : Mariska Lubis

Tebal : xxvi- 213 halaman

Ukuran : 18,5 mm × 23 mm

Penerbit : Kakilangit Kencana Jakarta

Cetakan : Pertama, 2012

Terbit : Jakarta

Kategori Buku : Biografi

I S B N : 978-602-8556-28-6


Dia juga seorang saudagar (pedagang/pengusaha) yang dimulainya juga dari bawah. Dari jual cabai, beras bahkan penderes karet/getah. Selain itu, dia juga seorang politikus yang sekarang dikenal dengan sebutan politisi, juga dimulainya dari kampung halamannya. Saat pemilu tahun 1955, TD Pardede tidak mau ikut partai lokal. Dia tetap bersikukuh berada di barisan kaum Marhaenis, ajaran Bung Karno.

DPR-RI

Dari karier politikknya itu, dia dalam Pemilu 1971 duduk sebagai anggota DPR-RI mewakili Sumatera Utara dari Partai Nasional (PNI). Selain itu, dia juga pernah duduk sebagai salah seorang anggota Parhalado (pengurus) pada gereja besar di Indonesia yakni Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Dalam kegiatan keagamaan, Pardede juga ditahbiskan sebagai salah seorang sintua/pengetua gereja HKBP.

Dari sanalah TD Pardede duduk sebagai Rektor Universitas HKBP Nommensen. Setelah itu, Pardede mendirikan sebuah universitas sendiri yang dialihkan dari yayasan lama menjadi Yayasan Univeritas Darma Agung di Medan dan pernah populer, bukan hanya di Sumatera Utara, juga di Indonesia.

Pioner

Pardede memang seorang pionir dalam perdagangan dengan berbagai pendapat, petuah dan perumpamaan yang lahir dari dirinya. Saat Medan belum memiliki hotel berbintang, Pardede mengganti rugi sebuah kompleks asrama militer di Jalan Imam Bonjol. Asrama itu dipindahkan ke Sunggal dengan areal jauh yang lebih luas, dengan asrama yang jauh lebih banyak dibanding dari lokasi pertamanya. Di Lokasi bekas asrama militeri tulah Pardede membangun sebuah Hotel bertaraf internasional. Ketika itu, ada yang kagum, tapi banyak yang tersenyum dikulum mengejek. Pardede mau apa membangun hotel sebesar itu di Medan? Setelah jadi dan dirersmikan, hotel megah itu menjadi ikon kota Medan, pada masanya.

Balige tempat dia dilahirkan pada tahun 1916 adalah wilayah Toba dengan Danau Toba yang luas dan indah pula. Atas kecintaannya pada kampung halamannya dan danau terbesar itu, hotel megahnya dia abadikan dengan nama Hotel Danau Toba International (HDTI). Setinggi-tinggi bangau terbang, dia pasti akan pulang kekubangannya jua. Wajar saja, kalau Pardede mencintai tempat masa kecilnya, karena masa kecil adalah masa terindah dalam hidup manusia.

Di kampung terpencil yang belum memiliki listerik ketika itu, isteri Pardede Hermina Napitupulu melahirkan dan membesarkan beberapa orang anak-anaknya, sendiri.

Saat dia mulai punya uang, dia membeli sebidang tanah di Jalan Binjai. Pertama dia beli seluas 30 hektar, disusul kemudian 40 hektar. Saat itu harga tanah memang sangat murah. Banyak orang bahkan diberikan tanah juga menolak jika tanah itu tidak strategis. Demikian luasnya tanah di pinggiran Kota Medan saat itu.

Dari sanalah Pardede mendirikan sebuah perindustrian pabrik tekstil yang sangat terkenal bukan saja di Indonesia juga di berbagai negara di Asia yang bernama Pardedex. Bahkan ada selimut, handuk dan baju kaos bernama Surya Knitting. Malaysia, Philipina, Laos, Kamboja, Thailand adalah pasar terbesar, bahkan sampai ke Hongkong, juga ke jajirah Arab, dimana ketika itu, negara-negara Arab belum sekaya sekarang.

Pada saat orang belum berpikir untuk berusaha di bidang perikanan di lautan, Pardede sudah membeli puluhan kapal ikan lengkap dengan coolstorage yang ada di Belawan, Sibolga dan Aceh. Semuanya berlabel Surya. Pardede juga memiliki perkebunan karet dan sawit, saat orang belum seperti sekarang jorjoran membuka kebun sawit.

Dalam bidang olahraga Pardede juga patut diperhitungkan oleh Indonesia. Klub sepak bola Pardedetex beberapa kali mewakili timnas berlaga di luar negeri dan memperoleh kemenangan yang gemilang. Saat bola jadi idaman dan banyak klub profesional belum terpikir untuk mengontrak pemain dan pelatih luar, Pardede sudah melakukannya. Pardede membuka stadion sepak bola sendiri di kawasan pabrik tekstilnya. Pardede-lah pionir mengontrak pemain dan pelatih asing di negeri ini.

Multi Tokoh

Jika ditanya, sebenarnya Pardede itu tokoh apa? Politik, pengusaha, perkebunan, pertekstilan, pendidikan, perikanan dan sebagainya sampai kepada seorang pejuang kemerdekaan bahkan pernah menjadi menteri pada era 100 menteri kabinetnya Bung Karno?

Jelasnya Pardede adalah multi tokoh. Pardede yang ulet, berani dan punya inovasi serta memiliki tatapan jauh ke depan. Pardede tetap memiliki pandangan 30 tahun ke depan. Kalau sekarang dia berbuat sesuatu, apa effeknya 30 tahun ke depan? Itu sebabnya Pardede selalu mengatakan; jika kau melempar sebuah batu, tatap dan ikuti kemana jatuhnya.

Pada masa orde baru Pardede sedikit "terjepit" baik oleh karena politik atau hal lain. Pertektilannya mengalami kemunduran. Pabrik tekstil tumbuh bagai jamur di musim hujan. Kredit untuk industri pabrik tekstil di Pulau Jawa demikian jorjoran. Padede menolak kredit itu. Dia demikian cepat banting stir, membuka universitas dan rumah sakit besar, bernama Rumah Sakit Herna. Herna adalah singkatan dari nama isteri tercintanya, Hermina Napitupulu.

Baca Juga Artikel Berita Terkait
Senin, 14 Mei 2012 00:07 WIB
Sabtu, 05 Mei 2012 06:39 WIB
Demokrasi, Harapan dan Kenyataan
Jumat, 27 Apr 2012 00:30 WIB
Jumat, 20 Apr 2012 00:01 WIB
Kamis, 19 Apr 2012 07:06 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris