21
Mei
 
A A A
Rebana - Minggu, 19 Feb 2012 00:02 WIB
Oleh: Mihar Harahap. SUNGGUH menarik cerpen "Ereksi Indonesia" karya Tandi Skober, satu-satunya cerpen Rebana, terbit bulan November 2011. Menariknya, pertama, pelaku cerpen adalah diri sendiri (Tandi Skober, aku,saya), istri (Dewi Persik?) dan kawan sastrawan di Medan (AS. Atmadi, Idris Pasaribu, A.Rahim Qahhar, Bersihar Lubis, Choqienk Susilo Shakeh, Sugeng Satya Dharma, Damiri Mahmud). Kedua, meski nadanya melecehkan diri dan kawan-kawan, tapi karena diungkapkan dengan lawak-lawak menyegarkan, sehingga pelecehan itu tidak terasa. Rasanya, ada tujuan lebih besar yang ingin dicapai.
Persoalan ‘Anu’ Tandi Skober

Pelaku cerita, Tandi Skober (aku,saya) bekerja sebagai pesuruh kantor (tak jelas kantor apa) di dalam jajaran birokrasi ‘bungkuk udang’ (tak jelas maksudnya) memiliki kebiasaan menghormat (membungkukkan badan seraya menyilangkan tangan, hingga mengenai ‘anunya’) bila menghadap/bertemu para pejabat. Tak jelas, apakah menghormat seperti itu, dilakukannya sendiri atau semua pegawai rendahan. Dipaksa karena peraturan atau terpaksa karena ‘amat’ (ambil muka angkat telor) atau ikhlas karena ‘sejatining wong cilik’ (biasanya sebagai pegawai rendahan) apalagi menghadap para pejabat.

Jelasnya, sebagai orang Jadel/Puja Kesuma (Jawa Deli/Putera Jawa Kelahiran Sumatera) Perumnas Bagelen Tebing Tinggi, 85 Km/2 jam lebih perjalanan dari kota Medan, Tandi mengikuti ajaran sesepuh AS. Atmadi :"Den hurmat maring ratu lan pusaka leluhur…" (Mesti hormat sama Raja dan budaya leluhur). Jadi, menghormat ala bungkuk udang adalah bentuk implementasi pengabdian kepada negara, pemerintah dan budaya leluhur. Termasuk kepada potret/gambar Presiden, hingga Kepala Lorong yang ada di dinding ruang tamu rumahnya.

Sebenarnya, kebiasaan hormat bawahan kepada atasan bukanlah merupakan persoalan. Di dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, hal itu adalah lumrah, sebab demikianlah ciri-ciri masyarakat kita yang menjunjung tinggi budaya. Dewasa ini, justru saling menghormati itu (bawahan ke atasan, yang muda ke yang tua, anak-anak ke orangtua, murid ke guru dan lain-lain) mulai kehilangan daya. Perlu dilakukan revitalisasi moral/pekerti/akhlak, terutama para pejabat, lembaga tinggi, pengusaha, partai, komunitas masyarakat dan keluarga agar ciri-ciri dapat dipertahankan.

Hanya menghormat ‘bungkuk udang’ Tandi, memang menjadi persoalan. Betapa tidak, setiap kali menyentuh anunya, maka ‘anu’ itu bergerak, membesar dan mengeras. Bahkan mentikonya, anu memiliki daya gerak elastis. Kalau menghadap Kepala Bagian dayanya naik sedikit, kalau menghadap eselon atas dayanya sedang, tetapi kalau menghadap kumpulan pejabat, dayanya meningkat berlipat-lipat. Pernah terjadi dalam rapat, anunya berdaya tinggi hingga Tandi gemetar, selangkangannya basah, segera melarikan diri ke toilet dan langsung muntah-muntah. Kasihan Tandi.

Akibatnya, anu enggan berhubungan dengan pasangannya, Dewi Persik. Kata sang istri:"Coba dipancing, Kang. Kakang ke ruang tamu dulu. Bungkuk hormat dulu di hadapan gambar pembesar negeri. Insyaallah, Kakang bisa perkasa."

Dilakukan sekali, berkali-kali, di ruang tamu dia perkasa, tiba di kamar tidur dia keok tak berdaya. Bahkan ketika gambar dipindah ke kamar tidur pun, hasilnya sia-sia. Kasihan si-anu. Tuannya pasrah tetapi tak menyerah.

Dia berharap sesudah pensiun, terbebas dari belenggu bungkuk lalu tubuh jangkung melengkung jadi tegak tegap dan otomatis sianu akan sehat kembali.

Masa pensiunpun tiba. Acara pelepasan purna bakti dihadiri Bupati Tebing Tinggi A. Rahim Qahhar,BA,BSc beserta istri Dra. Aqnes Monica. Menurut Kabag Kepegawaian Drs. Idris Pasaribu,SH,M.Hum,BA,BSc, Bupati menilai hormat bungkuk udang bermakna posmo, hingga perlu diteladani. Karena itu, Komisi XIII DPRD menganggarkan dalam APBD untuk menggelar Lomba Kerani Bungkuk Udang.

Wartawan Bersihar Lubis,SE, Choqienk Susilo Shakeh,MA,BA, Drs. Sugeng Satya Dharma dan Drs. Damiri Mahmud, meliput Bupati menyerahkan cenderamata kepada Tandi yang telah berjasa.

Saat acara dibuka, anu sudah bergerak. Apalagi ketika diminta berdiri di depan, Tandi berjalan melewati barisan para pejabat, anu semakin menggeliat. Dia gemetar, keringat bercucuran. Puncaknya, kala Bupati menyerahkan cenderamata, dia menghormat ala bungkuk udang, maka si-anu bereaksi keras, memberontak, ingin melihat wajah Bupati yang tersenyum puas. Tak pelak lagi, resleting celana Tandi terkoyak, robek, hingga mata hadirin pun terbelalak. Tersentak. Tak jelas, apakah Tandi jadi menerima cenderamata itu, sebab suasana semakin ramai, cerpen pun selesai. Ada-ada saja.

Revitalisasi Ereksi Birokrasi

Kecenderungan kajian korelasi bandingan, judul dan makna cerpen antara ‘Ereksi Indonesia’, ’Revitalisasi Ereksi’, ’Posmo’ dengan ‘Anu’ Tandi hanyalah ‘pelecehan istilah/individu’ karena narasi cerpen memang mendeskripsikan ‘anu’ pelaku/ pengarang yang aneh dan menggelikan. Hal ini berarti bahwa kesan eksklusif, ilmiah dan konkrit dapat terbantahkan dengan jalan cerita yang lawak-lawak, nisbi, persis Kabayan. Karena itu, makna cerpen harus dirasakan secara implisit. Jika tidak, niscaya pelecehan itu mengarah ke ‘pelecehan negara/budaya’ yang berakibat kekeliruan pengertian dan tujuan.

Memang, secara implisit, kandungan cerpen sangat bersifat subjektif, interpretatif, variatif. Paling tidak, pertama, sistem birokrasi sentralis, kepemimpinan dan keamanan berlebihan, sesungguhnya menghasilkan penyelenggaraan pemerintahan yang meliteris, monolis dan nepotis, misalnya terlihat pada masa Orde Baru.

Implementasi di lapangan, pegawai yang baik dan berprestasi adalah seseorang yang patuh, pandai ambil muka dan menghormat ala bungkuk udang. Kalau tidak, dianggap kesalahan, maka karir terancam jalan di tempat, hingga pensiun atau sengaja dipensiunkan.

Kedua, sistem birokrasi otonomi, multi partai, kebebasan pers, dilihat pada masa pemerintahan reformasi, membawa angin segar buat bangsa, elemen masyarakat dan para pegawai (negeri/swasta), setidaknya terbebas dari belenggu kemonotonan. Hanya, karena demokrasi reformasi masih kebablasan, maka penguasa, pengusaha dan kaum intelektual saling berebut kekuasaan-kepentingan-kekayaan.Yang kalah tetapi tak menyerah adalah rakyat biasa (masyarakat miskin, pegawai rendahan dan kaum pengangguran), sebab suatu saat nanti, yang menang pasti akan berakhir.

Dengan demikian, cerpen ini sebenarnya mengkritik sistematik birokrasi sekalian menganjurkan perlunya revitalisasi ereksi birokrasi, terutama pada masa pemerintahan dewasa ini.

Demokrasi reformasi masih menguntungkan pihak tertentu dan belum menyentuh semua kalangan. Selain itu, pelecehan istilah (revitalisasi, ereksi, birokrasi, posmo), pelecehan akademik (kesemrawutan gelar sarjana) dan pelecehan individu (naik-turunnya daya ‘anu’ pelaku) adalah ekses dari kekecewaan pada kebebasan kebablasan. Perlu revitalisasi penegakan hukum, otonomi, partai, pers dan sebagainya.

Ada anggapan kalau jalan cerita, lompatan ide dan relevansinya, relatif rendah (‘anu’ berdaya lemah) dalam mengeksploitasi makna, tujuan dan sasaran. Padahal jok latar, ide imajiner, usaha penetral anu dapat menepis anggapan, sekaligus tak berlindung dari semua pelecehan. Selain itu, menyebut nama sastrawan di Medan serta gelar sarjana serampangan, rasanya tak serta-merta dapat mengangkat kekuatan cerita (termasuk kata ‘aku’/’saya’silih berganti). Sebab, cerpen yang bagus tetap bagus walau tak bernostalgia di dalam cerpen. Selamat dan kita tunggu cerpen berikutnya.

Penulis; Kritikus Sastra dan Dekan FKIP-UISU Medan

Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris