21
Mei
 
A A A
Jentera - Minggu, 19 Feb 2012 00:11 WIB
Kesehatan Reproduksi Bangun Generasi Bermutu
Chistoffel
Oleh: Fahrin Malau. Kesehatan reproduksi sampai saat ini belum dilihat sebagai persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Penyimpangan seks yang berujung pada kehamilan tidak diinginkan, penularan penyakit kelamin, merupakan dampak. Dampak penyimpangan seks menimbulkan berbagai persoalan baik secara fisik maupun non fisik. Apa yang menjadi penyebab penyimpangan seks yang sampai sekarang terus terjadi? Berikut ini petikan wawancara dengan dokter Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumatera Utara Dr. Chistoffel L. Tobing, SpOG KFM.
Analisa: Remaja banyak yang kurang memperhatikan kesehatan reproduksi. Benarkah demikian?

Chistoffel: Darimana anda tahu kalau remaja banyak yang kurang memperhatikan kesehatan reproduksi. Di sekolah ada pelatihan untuk guru Biologi tentang kesehatan reproduksi. Beberapa sudah memikirkan tentang pendidikan reproduksi. Dinas Kesehatan sudah tanggap. Tahun lalu, saya diminta membuat suatu pelatihan yang disponsori Pemko Medan di gedung Pramuka, selama tiga hari berturut-turut kepada para guru dan wakil siswa SMA di Medan. Pelatihan tersebut membicarakan kesehatan reproduksi. Saat ini para guru di sekolah, umumnya SMA sudah komit untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi. Masalahnya bagaimana di rumah. Apakah orangtua juga peduli dengan kesehatan reproduksi. Contohnya apakah anak perempuan sebelumnya orangtua sudah menjelaskan kalau anak bakal mendapat haid.

Analisa: Jadi dokter masih menilai orangtua masih tabu untuk membicarakan persoalan kesehatan reproduksi dan seks

Chistoffel: Mungkin masa kita betul. Sekarang orangtua lebih peduli. Informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seks sudah banyak, seperti di majalah yang membahas dengan gamblang. Saya pembicara kesehatan reproduksi dan seks di beberapa radio seperti Most FM, Live FM. Sonya FM. Dialog di radio mendapat respon yang cukup banyak melalui telepon atau pesan singkat. Terlalu dini kita menyimpulkan remaja tidak tahu kesehatan reproduksi. Seperti saya katakana tadi beberapa sekolah sudah peduli masalah kesehatan reproduksi dan pendidikan seks. Sebut saja di SMA 1 Medan, SMA Harapan Medan, SMA Imanuel Medan dan beberapa sekolah lainnya. Sekolah sudah perduli. Kalau kenyataannya penyimpangan kesehatan reproduksi dan sek masih terjadi, bukan karena ketidakpahaman. Sekarang kita bicara kehamilan di luar nikah sebagai indikator berapa persen dan dimana kita dapat datanya.

Analisa: Jadi apa penyebab dari masalah kesehatan reproduksi dan penyelewengan seksual

Chistoffel: Saya beri contoh di Amerika sekolah telah diberi penjelasan tentang kesehatan reproduksi dan seks. Setelah diberi penjelasan siswa melakukan praktek di kamar mandi. Jadi di setiap bangsa, suku berbeda. Sebetulnya persoalan paling besar jangan kita bicara dampak. Kita lihat penyebab. Sekarang kehamilan di luar nikah atau tidak diinginkan masih belum jelas berapa angkanya. Ada tren peningkatan angka kehamilan di luar nikah atau tidak diinginkan dikalangan remaja karena penyimpangan seks. Pencetusnya dimana. Ada di pemberitaan pers, peredaran VCD porno lantas mereka praktekkan. Dengan melihat film porno menyebabkan mereka terangsang. Pertanyaan apakah peredaran VCD porno dapat direm peredarannya. Sebelum anak mengalami haid untuk perempuan dan mimpi basah untuk laki-laki, sudah dijelaskan kalau mereka bakal mengalami haid dan mimpi basah. Bila mereka sudah haid dan mimpi basah, berarti masuk masa pubertas. Artinya mereka sudah dapat menghamili dan dihamili. Sebagai orangtua informasi tersebut wajib disampaikan.

Analisa: Bagaimana dengan masyarakat pinggiran yang jauh dari informasi pengetahuan kesehatan reproduksi dan seks-nya?

Chistoffel: Pertanyaan bagaimana sosial ekomoni mereka. Jangankan untuk memikirkan persoalan reproduksi dan seks, untuk memikirkan kehidupan sehari-hari seperti makan saja sudah sulit. Jadi bagaimana memikirkan persoalan ini. Masalahnya apakah penyalahan seks berbanding lurus dengan sosial ekonomi. Belum tentu. Bila moral pendidikan bagus, bisa mempengaruhi. Contoh. Selama 10 tahun saya melakukan survey mengenai penyalahan seks. Pekerjaan seks pagi-pagi senang melayani anak SMA melakukan hubungan seks, cukup membayar Rp. 50.000,- bahkan Rp. 25.000,-. Ada kelompok mahasiswa belum berpengalaman mencari tahu, bagaimana rasanya melakukan hubungan seks dengan lawan jenis. Sangat menyedihkan. Jadi saya tidak cepat mengklim ketidaktahuan remaja masalah reproduksi, sehingga anak remaja cenderung melanggar.

Analisa: Jadi banyak faktor?

Chistoffel: Iya. Contoh kasus masalah geng motor. Apakah hanya ngebut-ngebut di jalan dan siapa yang jamin tidak melakukan mendekatkan narkoba, seks bebas. Begitu juga di tempat PUB siapa yang datang. Bisakah PUB memastikan yang datang diatas 18 tahun. Pernahkan KTP di cek. Siapa yang jamin PUB tidak tempat transaksi narkoba dan seks bebas.

Analisa: Informasi reproduksi lebih gencar akan dapat memberikan penyelesaian?

Chistoffel: Kamu bisa kasih informasi bagus tentang reproduksi dan seks. Bagaimana si penerima dan sarannya. Kamu tadi bilang orang segan bicara seksual. Padahal tidak zamannya lagi orang tabu untuk bicara masalah penyimpangan seks. Perlu diingat informasi penyampaian masalah reproduksi dan sek adalah di rumah yakni orangtua. Ibu yang bicara untuk anak perempuan dan bapak yang bicara dengan anak laki-laki. Anak yang mulai pubertas, harus diberi penjelasan. Sebelum terjadi haid dan mimpi basah, harus dijelaskan alat reproduksinya sudah berfungsi dapat menghamili dan dihamili. Sederhana saja, ketika anak bertanya kepada ibu, adek datang dari mana, orangtua masih ada yang mengatakan dijemput dari rumah sakit. Jadi tetap ketidakbecusan masalah kesehatan reproduksi, seks, pendidikan di rumah belum semuanya komit. Pendidikan agama harus tegas bahwa seks di luar nikah, dosa. Kalau di keluarga sudah beres sudah punya tanggungjawab dari agama, pendidikan sudah beres. Masalah pendidikan reproduksi adalah di rumah yang kedua baru di sekolah dan sebagainya. Tidak secara inflisit masuk kurikulum yakni di pelajaran Biologi. Harus pendidikan seks masuk pada akhlak, moralitas. Artinya budipekerti apa ada diajarkan di sekolah. Kalau remaja berpakaian singkat atau mini, nampak aurat, siapa yang berani mengatakan bahwa pakaian singkat akan memancing seksualitas lawan jenis dan kemungkinan akan mengalami kekerasan seksualitas.

Analisa: Kehamilan pada usia mudah berapa besar terjadi.

Chistoffel: Kalau haidnya sudah tertaur sudah layak hamil. Masalah organis belum matang dapat beresiko. Terus terang, persalinan remaja lebih cenderung dilakukan operasi daripada persalinan normal. Masalahnya bukan di fisik, di psikologis juga mempengaruhi apakah sudah siap atau tidak. Itu persoalan.

Analisa: Dilihat persentase berapa banyak mereka yang tidak tahu tentang kesehatan reproduksi dan seks

Chistoffel: Beberapa mereka juga punya cara lain. Contohnya, hasil karya ilmiah yang dilakukan mahasiswa saya di Diploma IV Kebidan USU. Beberapa penelitian mencakup tentang haid, keputihan, penyakit menular seksual. Rata-rata dari persentase yang mereka teliti memiliki pengetahuan di atas 60 persen memahami. Orangtua proaktif. Salah satu pertanyaa apakah sebelum haid sudah diberitahu yang menjawab iya sebanyak 60 persen.

Penelitian tahun 2006 yang dilakukan di lima kota di Indonesia ada 6 persen sampai 12 persen remaja yang berpacaran sudah punya pengalaman berhubungan seks. 15 persen anak SMA mengaku sudah melakukan hubungan seks apakah sama pacar atau PSK. 6 persen – 12% anak-anak SMA sudah menempatkan masa berpacaran melakukan hubungan seks. Diteliti lagi, berapa besar kesadaran kehamilan mereka melakukan hubungan seks? Ternyata ada 6 persen. Lebih dari 50 persen sudah melakukan alat alat kontrasepsi. Berdasarkan penelitian ini berarti sudah mempunyai pengetahuan dengan takut hamil. Melakukan hubungan seks dengan memakai alat kontrasepsi itu sehat. Sebaliknya melakukan seks di luar nikah itu tidak sehat. Pengetahuan dibuat untuk menikmati. Apakah ini bisa untuk mencegah hubungan seks. Itulah pendidikan seks secara tegas dimasukkan dalam pendidikan. Jangan ragu-ragu. Mengapa kita tidak berani mengatakan hubungan seks di luar nikah berdosa dan dapat tertular penyakit kelamin. Coba kita lihat program dari pencegahan HIV/AIDS. Jangan lakukan hubungan seks, setiap dengan pasangan atau bila keduanya tidak lagi dilakukan hubungan seks dengan memakai kondom. Dari sisi resiko HIV/AIDS melakukan seks dengan kondom tujuan dapat tercapai. Tapi tidak mencegah penyagunaan seksual. Masih dari penelitian, 3 dari 4 suami di Jakarta melakukan selingkuh. 3 dari 4 PNS yang kerja di luar kota melakukan selingkuh. Jangan bicara remaja, mereka yang sudah menikah juga melakukan penyimpangan seks. Saya katakan kekuatan ada di rumah. Bagaimana orangtua lebih komunikatif dengan anak.

Membangun generasi yang bagus harus ditata dengan baik. Orang hamil dengan waktu yang tepat, cara yang tepat dilandasi hukum yang jelas, hasilnya akan bagus. Pertanyaan apakah setiap ibu siap untuk hamil. Jawabnya tidak. Buktinya tidak semua orang melakukan persiapan hamil secara baik. Pernahkan sebelum hamil terlebih dahulu di cek kesehatan.
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Selasa, 08 Mei 2012 00:14 WIB
Senin, 07 Mei 2012 00:04 WIB
Senin, 07 Mei 2012 00:01 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris