21
Mei
 
A A A
Jentera - Minggu, 19 Feb 2012 00:20 WIB
Dua Puluh Empat Persen Kekerasan Seksual Terjadi di Ruang Publik
(Analisa/ferdy) Perdagangan manusia secara illegal berkedok menjadi TKI setiap tahunnya secara grafik meningkat.
Oleh: Adelina Savitri Lubis. Hujan membasahi Kota Medan pada hari valentine yang romantis, 14 Februari 2012 lalu. Siang menjelang sore, suasana jalanan di Simpang Kampus USU Medan, seperti biasanya. Dipenuhi angkutan kota, pedagang asongan dan seniman jalanan yang seolah sepakat menyanyikan lagu cinta pada hari itu. Tiba-tiba sekelompok muda-mudi terlihat menyemut persis di Simpang Kampus USU itu.
Mereka berpayung sambil mengiring spanduk yang bertuliskan; Dengan Cinta untuk Toleransi. Dalam Menghentikan Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan. Mereka juga menyebarkan 2000 lembar pernyataan sikap. Muda-mudi ini juga membagikan 500 pin, 500 stiker dan 500 cokelat dengan pita hati kepada masyarakat yang ada disana.

Sepanjang 2011 hingga bulan kedua 2012, catatan kekerasan seksual dan atau aktivitas berpotensi melahirkan konflik horizontal maupun struktural terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Aliansi Sumut Bersatu (ASB) mencatat 25 kasus kekerasan seksual yang terjadi di Sumatera Utara (Sumut) dari empat media lokal, mulai Desember 2011 - Januari 2012. Bentuk-bentuk kekerasan seksual yang terjadi adalah perkosaan, pencabulan dan pelecehan seksual.

Umumnya hal ini terjadi di ruang publik dan di ruang domestik. Hasil pemantauan Komnas Perempuan sejak tahun 1998 hingga 2010 justru menunjukkan hampir seperempat kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan seksual, yaitu, 93.960 kasus dari total kasus sebanyak 400.939 kasus kekerasan terhadap perempuan. Selebihnya 24 persen atau senilai dengan 22.284 kasus kekerasan seksual terjadi di ruang publik.

Sejak 2009 ASB bekerjasama dengan Komnas Perempuan Jakarta, melakukan kampanye tahunan tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Bentuknya mulai dari seminar, diskusi, talk show juga aksi damai. Selain itu diungkapkan Direktur Aliansi Sumut Bersatu, Veryanto Sitohang, ASB juga melakukan pemantauan melalui media lokal tentang kasus kekerasan terhadap perempuan. Informasi ini nantinya akan digunakan sebagai data awal untuk melakukan advokasi litigisi dan non litigisi. Advokasi non litigisi merupakan hal penting untuk mendorong komitmen pemerintah dan aparat penegak hukum memberikan upaya-upaya maksimal perlindungan terhadap perempuan korban kekerasan.

Menurut Veryanto, ada banyak hal yang menjadi pemicu kekerasan seksual terhadap perempuan. Mulai dari belum adanya sanksi maksimal untuk pelaku, sehingga tidak ada efek jera. Sampai saat ini upaya-upaya kepolisian juga masih terkesan lamban, sehingga pelaku tidak cepat ditangani. Padahal ini memungkinkan pelaku untuk melakukan kejahatannya kembali. Secara sosial, budaya dan agama, kerap memberikan tafsir seakan-akan perempuan merupakan mahluk lemah dijadikan sebagai objek seksual yang membuat perempuan rentan menjadi korban.

Terkait kesehatan reproduksi ASB secara aktif melakukan pendidikan dasar untuk memperkuat kesadaran kritis mengenal, mengetahui alat dan fungsi reproduksi dengan berperspektif gender. Pengetahuan tentang seksualitas juga hal penting agar perempuan memahami otoritas atas tubuh dan kebertubuhannya. Masyarakat sering kali menyalahkan perempuan gara-gara pakaian yang dikenakan. Padahal faktanya, tidak hanya perempuan berpakaian seksi yang rentan menjadi korban perkosaan. Bahkan perempuan yang menutup auratnya pun menjadi korban perkosaan. Begitupun soal usia korban, pelaku tak pandang bulu, anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang tua pun bisa menjadi korban perkosaan. Biasanya korban sudah diincar pelaku jauh hari sebelumnya.

"Itu berarti bukan salah pakaian yang dikenakan perempuan, tapi memang pola piker pelaku yang memandang perempuan sebagai objek seksual," ucapnya.

Kegiatan bertema kesehatan reproduksi dilakukan ASB setahun sekali. Semuanya masuk dalam kegiatan pendidikan pluralism. Tahun ini merupakan angkatan kelima. ASB juga melakukan diskusi rutin bersama mahasiswa dan anak muda lainnya perihal kesehatan reproduksi. Termasuk juga memberikan layanan konsultasi individu mau pun berkelompok. Pada delapan Maret 2012 mendatang, tepat diperingati sebagai hari perempuan internasional, ASB berencana akan mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan; khususnya kekerasan seksual.

"Agenda rutin tahunan yang kami lakukan mulai 25 November – 10 Desember. Ini merupakan peringatan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Ini juga puncak kampanye penghapusan kekerasan terhadap perempuan," pungkasnya.

Program CMR

Penyimpangan kesehatan reproduksi dan seks diungkapkan Kordinator mobilitas dan Komunitas Citra Mitra Remaja (CMR), Prayogi didamping relawan CMR Siti Chairani Nasution, penyampaian informasi mengenai tentang kesehatan reproduksi perlu terus dilakukan. harus diakui perkembangan remaja secara fisik akan ada akibatnya apabila tidak dijaga. Misalnya kalau haid, mimpi basah berarti sudah bisa dihamili dan menghamili. Karena itu harus menjaga alat reproduksinya.

Konseling yang dilakukan masih seputar apa itu onani, keputihan, permasalahan dengan pacar, teman, dilakukan dengan teman sebaya. Sasarannya bagaimana remaja sendiri melihat kesehatan reproduksi, pendidikan sek secara positif atau tidak.

Selama ini informasi seputar haid , keputihan, pergaulan bebas, tidak diwacanakan kembali dengan adanya akibatnya. Selama ini mimpi basah harusnya diberitahukan dalam keluarga yakni orangtua. Ketika orang sudah haid dan mimpi basah, berarti sudah bisa menghamili dan dihamili. Alat reproduksi harus dijaga. Paham tidak paham orang tidak memberikan pendidikan seks. Pilar yang paling penting dalam keluarga. CMR dan PKBI membantu memberikan infomasi yang benar, prilaku yang beresiko maupun tidak beresiko.

Lingkungan juga mempengaruhi kesadaran penciptakan kelompok itu sendiri. Pada masa remaja dorongan seksual itu pasti ada. Bagaimana mengatur dorongan seksual dengan informasi dan pemahaman yang bagus, bagaimana mengontrol diri sendiri, untuk tidak malakukan seks tidak sehat. Sangat penting menjaga alat reproduksi. Kalau reproduksi rusak, hidup juga rusak. Salah satu HIV/AIDS.
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris