21
Mei
 
A A A
Seni - Minggu, 19 Feb 2012 00:23 WIB
Catatan Kenangan
Oleh : Ali Soekardi. Hari Rabu pagi (8/2) telepon di rumah saya berdering. Ternyata ada yang mengebel dari Jakarta. Siapa - Di ujung sana terdengar suara seorang perempuan yang terisak menangis. Dia menyampaikan berita duka. Di tengah isakannya dikatakannya, bahwa ayahnya, Abdul Aziz’s, telah tiada. Telah kembali memenuhi panggilan Khalik-nya.
"Saya tahu Oom adalah sahabatnya, karena selalu berhubungan lewat telepon, Saling kirim kartu selamat jika Lebaran datang," ucapnya dengan terbata-bata.

Saya terkesiap. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Terbayanglah wajahnya di ingatan saya. Abdul Aziz’s memang seorang sahabat saya. Bahkan sahabat karib semasa remaja puluhan tahun yang lalu di Medan. Dia salah seorang penyair yang terkenal di zamannya, seangkatan dengan penyair A.Wahid Situmeang, Partahi H.Sirait, Asri Mochtar, dan lainnya.

Terkenanglah saya pada tahun 1950-an dan 1960-an kami seperti trio bersahabat, yaitu Bokor Hutasuhut (novelis), Abdul Azis’s (penyair), dan saya sendiri (lebih senang menulis cerpen). Kami selalu bertiga kemana-mana, beraktivitas kesenian, menggelar sandiwara/drama (sekarang teater), sandiwara radio (tentu hanya di RRI, karena saat itu belum ada yang namanya radio swasta yang menjamur seperti sekarang , sinetron pun belum ada karena televisi belum muncul).

Aktivitas kami ketika itu kian meningkat dari masa ke masa. Banyak teman yang mendukung dan membantu, terutama para seniman muda saat itu seperti Partahi H.Sirait, Edi Elison (dulu Eddie Elizon), Teja (nama aslinya Tjut Djalil dari Aceh yang kemudian menjadi sutradara film "syur" layar lebar di Jakarta), Sedar (cerpenis), Azrai Idris (alm), Ros Lubis (pe-nari yang pernah dikirim pemerintah keluar negeri bersama rombongan kesenian resmi), Khaidir Sutan (pelukis, abang dari budayawan Burhan Piliang, kemudian bermukim dan berkeluarga di Bali, terakhir saya bertemu di rumahnya di Ubud sekitar tahun 1980-an), Usman el Hudawy (seorang kepala sekolah di Batubara, yang sekaligus juga seorang sastrawan, kini sudah almarhum), dan banyak lagi.

Dengan maksud baik dan "cita-cita menggunung" kami pun mufakat mendirikan sebuah organisasi sastrawan, yang kami namakan Gabungan Sastrawan Muda (GSM) dengan ketuanya Bokor Hutasuhut. Aktivitas organisasi ini cukup banyak, antara lain yang sangat berkesan adalah turut dalam Kongres Bahasa Indonesia II yang diadakan di Medan bulan Oktober 1954 dan dibuka oleh Presiden Soekarno.

Politik

BERBEDA dengan masa kini era Reformasi situasi politik boleh dikatakan tenang, meskipun jumlah parpol yang ada sudah luar biasa, maka pada era tahun 1950-an dan 1960-an dari tahun ke tahun politik terus memanas. Cakar- cakaran, saling serang, saling tuduh dan fitnah sudah menjadi sajian sehari-hari terutama lewat media massa. Puncaknya ketika terjadi Peristiwa Gerakan Tigapuluh September (G30S) di tahun 1965, yang banyak memakan korban.

Situasi politik yang terus memanas pada saat itu dan menimbulkan goncangan-goncangan, juga menyeret dunia budaya dan seni. Sekaligus melibatkan para budayawan dan pekerja seni untuk berantuk mempertahankan pendiriannya masing-masing. Tapi intinya hanya dua, yaitu antara pihak yang mengaku memperjuangkan budaya dan seni rakyat, mereka ini adalah dari golongan kiri, tepatnya komunis dengan pengikutnya, dengan komandonya dipegang oleh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) onderbouw-nya PKI (Partai Komunis Indonesia), melawan budayawan/seniman yang berpendirian dan mempertahankan kebudayaan/kesenian untuk kemanusiaan dan mendirikan Manifesto Kebudayaan (yang oleh kelompok kiri dipelesetkan menjadi kesingkatan : Manikebu).

Dalam perjuangan dan pertentangan yang sengit di bidang kebudayaan dan kesenian ini (tentu tak terlepas dari pengaruh politik), Bokor Hutasuhut hijrah ke Jakarta, dan menduduki posisi penting dan strategis sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Manifesto Kebudayaan.

Ada yang unik ketika itu, yakni setiap media massa yang terbit harus mempunyai "gandulan" partai politik, apa pun corak politiknya. Dan setiap partai politik juga mempunyai organisasi budaya, sebagai alat perjuangan (sebenarnya intervensi) dalam bidang kebudayaan/kesenian agar searah dan sejalan dengan corak politik mereka.

Ini membuktikan bahwa dulu dalam setiap perjuangan politik (partai) mereka tidak melupakan budaya dan seni. Karena bidang ini sesungguhnya lebih cepat meresap dan dinikmati rakyat, ketimbang politik yang terkadang penuh dengan teori yang menjelimet.

Di antara sekian banyak organisasi kebudayaan/kesenian yang menonjol antara lain adalah LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) milik PNI (Partai Nasional Indonesia) LEKRA (lembaga Kebudayaan Rakyat) punya PKI (Partai Komunis Indonesia), LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) yang didirikan oleh NU (Nahdhlatul Ulama) yang ketika itu masih menjadi parpol, lalu juga ada OKRA (Organisasi Kebudayaan Rakyat) yang merupakan ormas seni budaya Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak). Dan banyak lagi yang lain.

Ormas-ormas seni budaya tersebut juga menyebar ke daerah-daerah termasuk Sumatera Utara. Dalam hal inilah saya terkenang, Abdul Aziz’s-lah yang mendirikan OKRA Sumatera Utara, yang kemudian beranak-pinak ke kota-kota maupun kabupaten di daerah ini. Hal ini dilakukannya setelah dia kembali dari Jakarta menemui Adam Malik yang ketika itu Menteri Perdagangan yang juga dikenal sebagai tokoh Partai Murba.

Bung Aziz’s menjabat sebagai Ketua Umum OKRA Sumut, dan kepengurusannya dibantu banyak sastrawan/budayawan muda yang antikomunis, seperti Asmas Tatang Amara, Masri Habra, Soedirman K, Ali Soekardi, dan banyak lagi lainnya, dengan Ketua Dewan Penasehat dipercayakan pada tokoh wartawan Buyung Gandrung (pimpinan tabloid Mimbar Teruna).

Kelahiran OKRA ini mendapat reaksi keras dari budayawan/seniman kiri yang komandannya tentu saja LEKRA dan barisannya yakni ormas-ormas seni budaya kiri, OKRA ramai-ramai mereka "gebuki" dan dituduh sebagai ormas yang kontra revolusioner, anti Soekarno, pengikut HB Jasin, barisan Manikebu yang menyebarkan senibudaya nekolim (new kolonialisme), dan lain sebagainya, Boleh dikata hampir setiap waktu ada saja polemik di media massa antara kedua kubu.

Jelas saja, akhirnya kubu OKRA-lah yang "kalah" justeru tidak ada lagi media massa yang mendukungnya karena sudah dipateni (dimatikan, atau dicabut izinnya) karena menjadi anggota BPS (Badan Pendukung Soekarnoisme) yang juga sudah dilarang oleh Presiden Soekarno sendiri. Juga OKRA akhirnya bubar, karena Partai Murba juga telah dibubarkan oleh pemerintah atas desakan PKI.

Satu hal yang saya kenang, dalam menghadapi tantangan dan ancaman yang bisa membahayakan dirinya, sahabat saya ini, Abdul Aziz’s, tetap bersikap tenang, seperti tak ada yang ditakuti atau dikuatirkan. Senyumnya tetap berkembang di bibirnya bila kami bertemu. Dan menjadi kebiasaannya pula dia selalu mengajak minum kopi di warung, atau makan siang nasi campur, paling tambah tempe atau tahu goreng (karena sampai di situlah kemampuan keuangan kami waktu itu) di warung-warung nasi Pusat Pasar Medan yang keadaannya pun jauh berbeda dengan Pusat Pasar sekarang. Medan Mal pun belum ada waktu itu.

Detik

SETELAH gonjang-ganjing politik usai, PKI dengan barisan kirinya hilang ditelan zaman dan munculnya Orde Baru (Orba), sahabat saya ini pun turut hijrah ke Jakarta, Di Ibukota dia sudah meninggalkan kepenyairannya sebaliknya mengembangkan bakat kewartawanannya yang memang sudah dirintisnya di Medan dengan menjadi wartawan/redaktur tabloid Mimbar Teruna.

Di Jakarta Abdul Aziz’s memimpin mingguan Detik, kemudian menjadi majalah yang memfokuskan masalah kriminal dan upaya membanterasnya. Sayang, penerbitan yang dipimpinnya ini terkena tajamnya pisau breidel Departemen Penerangan di bawah Menpen Harmoko, bersama-sama dengan majalah Tempo dan Editor di tahun 1994.

Kini sahabat baik saya ini telah tiada. Semoga amal baiknya diterima oleh Allah SWT.***
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Rabu, 02 Mei 2012 01:51 WIB
Ketua Sahabat Centre Kota Medan
Senin, 06 Feb 2012 08:58 WIB
Diramaikan Atraksi Barongsai dan Kembang Api
Senin, 05 Sep 2011 00:51 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris