Oleh : Dr. Agus Priyatno, MSn. Lukisan anak-anak adalah ekspresi kebebasan, kejujuran, kepolosan dan kegembiraan. Anak-anak tidak takut salah ketika menyapukan warna pada permukaan kertas atau kanvas. Kreativitas yang penuh keberanian menghasilkan susunan garis dan warna cemerlang serta segar. Selain itu juga sangat ekpresif. Garis meliuk dan warna cat muncrat kemana-mana, tampak artistik dan enak dinikmati. Lukisan ekpresif seperti itulah yang juga diciptakan oleh pelukis muda belia, Maloni Sinambela. Usianya belum genap enam tahun.
Maloni Sinambela, lahir di Medan 11 Maret 2007, putri tunggal pasangan Togu Sinambela dengan Lince br Sihombing. Maloni sekolah di TK El-Patisia Medan. Maloni selain pandai melukis juga pandai menari. Beberapa kali menjadi juara lomba lukis dan mewarnai serta juga lomba menari. Jenis tari yang pernah juarainya adalah lomba tari Karo dan tari kreasi. Selain itu, Meloni juga suka menyanyi. Lagu-lagu yang disukainya antara lain Kasih Ibu, Pelangi dan Bintang Kecil. Maloni bersahabat dengan teman-teman sekolahnya yang juga gemar melukis seperti Fanny, Echa, Kasih, Berlian, Glory, Michele, Mabelle dan Benedict. Beberapa temannya juga telah beberapa kali menjadi juara lomba melukis.
Maloni dibesarkan di antara banyak pelukis. Rumah tinggalnya di sanggar Medan Seni Payung Teduh tempat sejumlah pelukis kumpul-kumpul. Dia banyak menerima bimbingan dari pelukis Wan Saad dan Alwan Sanrio.
Ayahnya, Togu Sinambela juga seorang pelukis. Ayahnya banyak memberi dorongan kepada Maloni untuk kreatif dan berkarya. Kertas gambar, kanvas dan peralatan melukis selalu tersedia di rumahnya. Maloni banyak berlatih melukis dengan pensil warna, crayon dan cat poster. Medianya kertas dan kanvas. Maloni melukiskan orang, pohon, ikan, kereta api, rumah, bunga, matahari, awan dan sekolah.
Maloni termasuk cerdas. Dia sudah mampu mengenal warna dengan sangat baik. Dia bisa menyebutkan setiap warna yang ada dalam lingkaran warna dengan tepat. Warna kuning, merah, hijau, biru, ungu, coklat, dia sebutkan dengan jelas. Kemampuan membedakan warna membuat Maloni mampu menciptakan susunan berbagai warna berbeda pada permukaan bidang yang dilukisi.
Di sekolahnya, Maloni dibimbing oleh ibu guru Hany dan ibu Jerni. Dengan bimbingan kedua guru sekolahnya, Maloni mengembangkan bakatnya, sehingga mampu berprestasi dalam berbagai lomba melukis dan menari.
Maloni belajar pada orang-orang yang memahami dunia seni, terutama senilukis. Dia berada di antara para seniman yang mengerti, bahwa melukis adalah sarana mengembangkan kreativitas dan kecerdasan. Dengan melukis, anak-anak bisa lebih kreatif dan cerdas.
Saat melukis aspek kognitif, afektif dan psikomotorik bekerja. Saat memilih warna aspek kognitif (berpikir) yang menentukan warna apa yang akan dipakai. Ketika mewarnai lukisan, aspek afektif (merasakan) berlangsung agar pewarnaan tampak bagus. Proses melukis itu mendorong kemampuan untuk bertindak, sehingga meningkatkan ketrampilan (psikomotorik) anak. Proses belajar mengajar senilukis pada anak-anak sangat diperlukan kehati-hatian.
Faktor terpenting proses belajar mengajar pada anak adalah menumbuhkan minat mereka untuk berkarya. Kegembiraan saat melukis harus dibangun, sehingga tidak ada perasaan terpaksa saat belajar.
Maloni masih belia, dia belajar melukis, tentu saja tidak dimaksudkan agar kelak menjadi pelukis, melainkan agar terbangun kreativitas dan kecerdasannya. Maloni bisa jadi memilih tetap menekuni dunia senilukis dan kelak menjadi pelukis. Namun saat ini dia masih belia dan banyak pilihan untuk masa depannya.
Belajar melukis pada anak usia dini lebih tepat untuk mendorong kreativitas dan kecerdasannya berkembang maksimal, sehingga jika dia ingin mendalami bidang lainnya, dia bisa menjadi ahli yang memiliki kreativitas tinggi serta cerdas. Semoga.
Penulis, Dosen Pendidikan Seni Rupa di FBS Unimed.