21
Mei
 
A A A
Pariwisata - Minggu, 19 Feb 2012 00:29 WIB
Wisata Pantai di Phuket dan Krabi
Pagi di Aonang Beach, Krabi
Saat memilih destinasi wisata ke Phuket dan Krabi, tentu saja kami telah siap mengusung thema wisata pantai. Artinya, siap-siap untuk berubah warna kulit (tentu saja semakin hitam atau coklat), dan siap untuk berpakaian sederhana ala pantai ditambah dengan alas kaki sandal jepit.
Wisata pantai selalu menjadi pilihan bagi sebagian besar wisatawan, karena sifatnya yang sangat santai. Anda tidak harus pusing memikirkan busana yang akan memenuhi koper anda bila berwisata ke daerah beriklim dingin. Cukup bawa kaos, celana pantai seadanya, dan tentu saja kamera untuk merekam momen-momen menarik yang kita temukan sepanjang perjalanan. Tanpa make up apapun, kaum hawa tetap terlihat segar tanpa guratan stress di wajah.

Phuket dan Krabi menjadi salah satu destinasi wisata pantai yang paling utama bagi wisatawan dari Eropa. Saat negaranya sedang diterpa udara dingin yang menusuk tulang, mereka berbondong-bondong "migrasi sementara" ke daerah tropis untuk menikmati hangatnya sinar matahari. Jadi, saat turis dari negara-negara Asean menggunakan topi untuk menghindarkan sengatan matahari di wajah, para turis bule justru asyik berjemur ria di pantai saat jam menunjukkan jam 12 siang.

Untuk kita yang telah terbiasa di daerah tropis, tentu saja mempunyai kenikmatan tersendiri dalam menikmati wisata pantai. Menikmati angin laut di pagi hari tentu saja memberikan keriangan yang berbeda dengan keriangan saat menyapa angin laut di sore harinya. Bila tidak dapat menikmati Sun Rise, maka kita masih dapat menikmati Sunset.

Lalu, apa kelebihan Phuket dan Krabi dibandingkan dengan pantai-pantai di Indonesia - Secara alamiah, hampir tidak ada kelebihan apapun. Satu-satunya keunggulan adalah terletak pada "kesiapan mental " pemerintah dan masyarakatnya. Mereka telah sepenuhnya mengerti bahwa turis adalah "Bisnis", jadi seluruh elemen masyarakat, baik itu pengusaha hotel, pedagang kaki lima,karyawan Seven Eleven, sampai supir "tuktuk", semuanya siap menyapa "Sawasdee Ka" setiap bertemu dengan turis dan tersenyum. Dan satu hal lagi, tidak terlihat turis yang pucat pasi atau bersitegang dengan pedagang makanan dan minuman di pinggir pantai, karena semuanya telah dibuat daftar harga tetap. Mereka telah meninggalkan praktek bisnis "neko-neko" atau "aji mumpung" (mumpung ada turis kaya, kasih harga mahal) , bahkan di tingkat penjaja makanan di pinggir pantai.

Saatnya kita meninggalkan budaya "aji mumpung" dan membiasakan tersenyum serta menyapa "Selamat Datang". (muliadi)
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Hari ini Pkl. 00:26 WIB
Jumat, 18 Mei 2012 00:44 WIB
Selasa, 15 Mei 2012 01:29 WIB
DPRD Sumut Gelar Paripurna Pemekaran
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris