21
Mei
 
A A A
Lingkungan - Minggu, 19 Feb 2012 00:57 WIB
Proses Pengolahan Air Limbah Cemara
(Analisa/ferdy) Tahapan awal dengan memilah jenis sampah rumah tangga melalui "fine screen and belt conveyor" proses penyaringan di IPAL PDAM Ttirtanadi Cemara.
Sistem pengolahan air limbah domestik yang ada di kota Medan adalah menggunakan sistem perpipaan terpusat (off-site system) untuk menampung seluruh air limbah yang berasal dari aktivitas mandi, cuci, dan kakus (MCK), tidak termasuk air hujan.
Selanjutnya, dilakukan proses pengolahan sebelum dibuang kembali ke badan air (Sei Kera) setelah memenuhi persyaratan baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI Nomor 112/KepmenLH/2003.

Proses pengolahan air limbah Cemara milik PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara dilakukan melalui beberapa tahapan:

Inlet

Merupakan bak pengumpul utama air limbah yang masuk secara gravitasi melalui truk sewer dari bahan reinforced concrete pipe (RCP) Ř 1300 mm dari pumping station di Jalan HM Yamin dengan debit maksimum 20.137 M3/hari dan dari kompleks perumahan Cemara Asri dengan debit maksimum 2.945 M3/hari.

Screw Pumps

Berfungsi untuk memompakan air limbah dari inlet pada elevasi + 8,87 sampai pada ketinggian + 16,59 yang cukup untuk dapat mengalirkan air limbah secara gravitasi ke unit instalasi pengolahan air limbah selanjutnya.

Pompa yang digunakan adalah jenis Ardrimedian Screw. Tipe pompa ini merupakan jenis yang tepat digunakan untuk mengangkat air, terutama bila air limbah mengandung partikel/benda yang keras dan besar.

Pada kondisi saat ini (tahap II) dibutuhkan 2 unit pompa dengan kapasitas masing-masing 1.310 M3/jam, satu pompa untuk kondisi normal dan satu unit lagi untuk kapasitas maksimum. Unit ini dilengkapi pula dengan pipa bay pass ke Sungai Kera (overflow).

Screen

Screen (saringan) berfungsi untuk menyisihkan benda-benda yang terbawa dalam aliran. Dengan demikian tidak mengganggu aliran dan dapat melindungi instalasi pengolahan dari kemungkinan penyumbatan/rusaknya peralatan pada unit unit selanjutnya.

Screen terdiri dari dua jenis yaitu: Screen kasar dengan jarak antara kisi adalah 50 mm, bekerja secara normal. Screen halus dengan jarak antara kisi adalah 6 mm, bekerja secara otomatis.

Kotoran yang terkumpul pada screen dibuang ke dalam kontainer yang selanjutnya diangkut ke tempat pembuangan akhir.

Grit Chamber

Fungsi unit ini memisahkan kerikil dan pasir yang terbawa dalam aliran untuk mencegah penyumbatan dan terbentuknya endapan pasir dalam reaktor UASB.

Pemisahan pasir ini dilaksanakan secara mekanikal dan dilengkapi dengan alat untuk membuang pasir ke luar reaktor.

Splitter Box

Splitter Box adalah tangki pembagi aliran yang berfungsi untuk mendistribusikan aliran ke unit pengolahan utama (reaktor UASB). Tangki pembagi aliran ini mempunyai 6 outlet yang masing-masing memiliki kapasitas 450 M3/jam.

UASB Reactor

UASB merupakan singkatan dari Up Flow Anaerobic Sludge Blanket yang sering juga dikenal dengan istilah pengolahan air limbah menggunakan selimut lumpur anaerobic sistem aliran ke atas. Sesuai dengan namanya, air buangan yang masuk dialirkan ke atas dan akan mengalami kontak dengan mikroorganisme yang terdapat pada selimut lumpur. Pada selimut lumpur ini terjadi proses pengolahan air buangan tersebut.

Saat ini terdapat satu unit reaktor UASB dengan volume masing-masing 3.040 M3 (19,2 x 39,02 x 4,06). Dengan waktu detensi rata-rata 7 jam, diharapkan efisiensi pemisahan BOD pada proses ini adalah 79 persen. Dalam proses ini juga akan dihasilkan gas methane yang dapat dimanfaatkan sebagai listrik.

Sludge Drying Beds

Lumpur dari reaktor UASB dipompakan dan dikeringkan pada unit sludge drying beds ini. Berdasarkan pengalaman, lumpur dari reaktor UASB mempunyai karakteristik pengeringan yang sangat baik.

Untuk desain ini direncanakan periode 4 minggu baik untuk siklus pengisian, pengeringan, pembersihan dan perbaikan dari drying bed ini. Setelah kering, lumpur dipisahkan dengan scraper manual atau mekanis. Supernatan dari sistem sludge drying bed dialirkan kembali ke stasiun pompa (intake).

Aerated & Facultative Pond

Merupakan kelanjutan proses pengolahan air limbah dari UASB sehingga memenuhi kriteria persyaratan yang ditetapkan pemerintah.

Kolam aerasi ini dilengkapi dengan dua unit aerator yang berfungsi untuk menginjeksi oksigen agar kadar oksigen di dalam air cukup sehingga mikro-organisme dapat hidup dan air menjadi lebih bersih.

Kedalaman kolam sekitar 2,5 meter untuk mencegah dasar kolam tergerus oleh turbulensi dari aerator. Kolam falkultatif berfungsi untuk memisahkan suspended solid yang berasal dari proses aerasi. Luas kolam 3,1 hektar. (Zulmaidi)
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Jumat, 18 Mei 2012 06:40 WIB
Mengaku Tak Dapat Informasi
Selasa, 15 Mei 2012 01:32 WIB
Senin, 14 Mei 2012 00:01 WIB
Jumat, 11 Mei 2012 02:21 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris