Jakarta, (Analisa). Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Muhammad Yusuf mengatakan tidak ada maksud untuk menutupi adanya 2.000 rekening mencurigakan milik anggota dewan, namun masih dalam analisis.
"Soal adanya 2.000 transaksi mencurigakan pada rekening anggota dewan, kami tak ada niat untuk menutupi. Ini sedang kami analisis. Kami akan kirim ke penyidik polri," kata Ketua PPATK Muhammad Yusuf saat rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Senayan Jakarta, Senin.
Sebelumnya dalam jawaban tertulis PPATK mencantumkan laporan adanya 2.000 transaksi mencurigakan yang dimiliki anggota dewan. Namun dalam laporan tertulis tersebut justru dicoret. Hal ini justru menjadi pertanyaan dari para anggota dewan.
"Kami juga tidak ada maksud untuk mendiskreditkan dewan," kata Yusuf.
Yusuf juga menjelaskan saat ini ada kasus yang mirip dengan Gayus Tambunan di mana seorang PNS muda memiliki rekening di 18 bank dan memiliki transaksi yang mencurigakan sampai ada kiriman uang senilai 250 ribu dolar.
Anggota Komisi III Martin Hutabarat meminta PPATK agar proaktif dalam menelusuri transaksi yang mencurigakan itu.
Menyangkut 2.000 transaksi pada rekening anggota dewan yang mencurigakan, Martin meminta PPATK tidak ragu untuk menelusurinya. "Kami apresiasi PPATK ikut menelusuri jejak rekening yang aneh-aneh dari anggota DPR. Ini sudah tugas PPATK sesuai UU," kata Martin.
Meskipun, tambah Martin memang rekening belum tentu menyalahi aturan namun setidaknya peranan PPATK sudah dilakukan. Menurut Martin tidak otomatis orang yang memiliki rekening mencurigakan pasti korupsi.
Martin mendukung penuh PPATK sebab anggota DPR tidak steril dari pemantauan PPATK. "Ini juga untuk melindungi kredibilas dewan sendiri. Sekiranya ada anggota dewan yang terjadi penyalahgunaan, ya diproses," kata Martin.
Martin juga meminta PPATK juga menelusuri transaksi terkait IPO PT Krakatau Steel. "Soa KS ini ‘kan sudah terang benderang ada yang aneh. Buka juga dong," kata Martin.
Sementara Ruhut Sitompul mendukung PPATK untuk menelusuri 2.000 transaksi mencurigakan pada rekening anggota dewan, "Jangan takut. Buka saja. Termasuk orang-orang di partai saya. Buka saja," kata Ruhut.
Rusak Citra
Sementara itu Ketua Komisi III DPR Benny K Harman meminta PPATK segera menuntaskan pengusutan 2.000 transaksi mencurigakan anggota DPR. Sebab, laporan PPATK ini berpotensi semakin merusak citra DPR.
"Kami minta PPATK segera menuntaskan. Kalau sudah selesai, segera melaporkan kepada komisi III, kalau memang ada hasilnya dilaporkan ke penegakan hukum," desak Benny kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/2).
Menurut Benny, informasi ini berpotensi merusak citra DPR. Mengingat saat ini kepercayaan publik terhadap DPR terus menurun. "Pentingnya hal ini karena ketidakpercayaan publik kepada dewan terus menurun. Informasi ini akan memberikan kontribusi makin memperburuk citra anggota dewan," tutur Benny.
Lebih lanjut, Benny berharap PPATK bergerak cepat dan mengumumkan kepada publik. Ke depan, PPATK juga diminta tidak melempar isu tanpa fakta. "Kami minta PPATK sedikit lebih proaktif untuk melakukan penagihan kepada penegak hukum, ketika ada hasil audit PPATK, ada unsur tindak pidana," pintanya.
"Kami mengusulkan tidak baik kalau terlalu sering ngomong ke publik pimpinan PPATK kalau belum ada data, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan publik. Kalau memang sudah selesai, diumumkan dan dijelaskan secara lengkap dan komprehensif," tandas Benny. (Ant/dtc)