Seoul, (Analisa). Ketua Parlemen Korea Selatan dituntut dengan kasus penyuapan, skandal yang memaksanya untuk turun dan memecah partai berkuasa.
Jaksa penuntut umum mengatakan, Selasa (21/2), mereka telah menuntut ketua parlemen Park Hee-Tae, salah satu ajudannya dan Kim Hyo-Jae, seorang mantan ajudan senior kepresidenan, namun belum menahan ketiganya.
Park (74), dicurigai menawarkan sejumlah uang dalam amplop kepada para anggota parlemen partai konservatif berkuasa, secara umum diketahui sebagai Partai Grand National, sebelum pemilu -- saat itu Park memenangkannya -- untuk memilih seorang ketua partai yang baru pada 2008. Kim dan ajudannya dituduh membantu Park dalam membagikan uang suap tersebut.
Skandal terkuak pada bulan lalu oleh seorang anggota parlemen yang menyatakan ia menerima sebuah amplop yang berisi tiga juta won (senilai 2.865 dolar AS) dari seorang ajudan ketua parlemen yang dikembalikannya.
Park, yang berhenti dari jabatan di kepartaiannya, menjadi ketua parlemen pada 2010, mengundurkan diri pada awal bulan ini namun dirinya tidak mengakui telah melakukan kesalahan. Ia kemudian secara resmi meneruskan jabatannya hingga nama seorang penggantinya diumumkan.
Skandal tersebut melibatkan partai berkuasa tersebut -- yang kemudian mengubah namanya menjadi Partai Saenuri (New Frontier) -- yang mengalami penurunan dukungan menyusul pemilu April dan jajak pendapat Desember.
Partai tersebut kini menduduki 166 dari 299 kursi parlemen bersamaan dengan kursi kepresidenan. namun survei yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan oposisi utama Partai Democratic United lebih populer ketimbang partai berkuasa ditengah tumbuhnya perasaan ketidakpuasan terkait kesenjangan sosial dan ekonomi dan perekonomian yang berjalan lambat.
Dalam sebuah upaya untuk melepaskan citra partai yang mewah, partai berkuasa telah menggeser kebijakan arah kiri untuk memusatkan pada kesejahteraan penduduk miskin. (AFP/echo)