21
Mei
 
A A A
Mancanegara - Rabu, 22 Feb 2012 07:25 WIB
Rakyat Yaman Berikan Suara Akhiri 33 Tahun Kekuasaan Saleh
(AP/Hani Mohammed) Warga Yaman antri di luar tempat pemungutan suara (TPS) untuk memberikan suara mereka dalam pilpres dengan kandidat tunggal di Sanaa, Yaman, Selasa (21/2).
Sanaa, (Analisa). Rakyat Yaman memberikan suara mereka, Selasa (21/2), untuk mengakhiri 33 tahun kekuasan otoriter Presiden Ali Abdullah Saleh dalam pemilu diwarnai bentrokan di selatan dan boikot pemberontak Syiah di utara.
Pemilu dimulai pukul 08.00 waktu setempat (12.00 WIB) dalam pemilihan mirip referendum dengan kandidat tunggalnya wakil Saleh Abdrabuh Mansur Hadi.

Pria dan wanita berbaris dalam antrian terpisah di depan tempat pemungutan suara (TPS) di distrik Sanaa Utara dekat Lapangan Perubahan, pusat aksi unjukrasa anti-rejim selama setahun menentang kekuasaan Saleh.

"Hari ini menandai kejatuhan nyata Ali Abdullah Saleh," kata Abdullah Ali (25 tahun), mahasiswa, setelah memberikan suara di universitas Sanaa dekat lapangan Perubahan.

Saleh tercatat sebagai penguasa keempat yang menjadi korban revolusi Arab Spring (Kebangkitan Arab). Namun begitu, dia mungkin akan tetap tinggal di Yaman, karena tidak ada larangan dia melakukan kegiatan politik.

"Kami merasa terkejut dengan kehadiran banyak wanita bahkan sebelum TPS dibuka," ucap Abir Afifi, yang bertugas pada bilik suara wanita.

Wanita pertama di dunia Arab peraih Nobel perdamaian Tawakkul Karman menyatakan pemilihan umum itu "hari perayaan" rakyat Yaman.

Di Aden, kota utama Yaman Selatan, beberapa orang terlihat pergi ke TPS di kawasan-kawasan Khor Maksar dan Crater, lapor koresponden AFP disana.

Lebih 12 juta warga Yaman berhak memberikan suara -- 10 juta yang terdaftar dalam pemilu terakhir tahun 2006 ditambah 2,2 juta pemilu baru.

Jumlah pemberi suara dalam pemilu kandidat tunggal ini akan memberikan semacam dukungan yang peroleh Hadi usia 66 tahun dari warga setanah airnya untuk memimpin masa transisi.

Pemilu itu mendapat boikot dari dua kelompok oposisi besar, yakni Gerakan Selatan separatis dan gerilyawan Syiah Utara.

Tapi penggagas utama pemberontakan yang meletus pada Januari 2011 meminta warga Yaman agar tidak mendukung Hadi. Poster-poster bergambar dirinya dipasang di seluruh gedung dan sepanjang jalan ibukota Sanaa. (AP/AFP/Rtr/es)
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Rabu, 02 Mei 2012 07:09 WIB
Rabu, 25 Apr 2012 07:10 WIB
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris